Ketika Agama Menjadi Identitas Pertentangan
Jakarta|PPMIndonesia.com- Dunia Islam hari ini masih menyimpan luka panjang akibat konflik sektarian. Perbedaan mazhab yang awalnya merupakan dinamika intelektual berubah menjadi batas sosial, politik, bahkan kekerasan.
Sejarah memperlihatkan bagaimana konflik Sunni–Syiah di kawasan seperti Irak dan Suriah tidak hanya berbicara tentang teologi, tetapi juga identitas dan kekuasaan.
Pertanyaan mendasar pun muncul:
apakah Al-Qur’an sendiri menyediakan jalan keluar dari konflik sektarian?
Pendekatan Qur’an bil Qur’an berusaha menjawabnya dengan kembali langsung kepada pesan wahyu.
Al-Qur’an sebagai Titik Persatuan Umat
Al-Qur’an tidak pernah memperkenalkan Islam sebagai agama kelompok. Sebaliknya, ia memerintahkan umat untuk bersatu pada satu pegangan bersama.
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali Allah dan janganlah kamu bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)
Dalam pendekatan Qur’an bil Qur’an, “tali Allah” dipahami sebagai wahyu yang diturunkan-Nya—Al-Qur’an itu sendiri.
Ayat ini bukan sekadar anjuran spiritual, tetapi prinsip sosial:
persatuan umat hanya mungkin jika rujukan utamanya sama
Kritik Al-Qur’an terhadap Sektarianisme
Al-Qur’an memberikan peringatan keras terhadap kecenderungan manusia memecah agama menjadi kelompok.
إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ
“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan menjadi golongan-golongan, engkau (Muhammad) tidak termasuk bagian dari mereka sedikit pun.”
(QS. Al-An‘am: 159)
Kata syi‘a dalam bahasa Al-Qur’an berarti kelompok atau faksi. Pesannya bersifat universal: agama kehilangan ruhnya ketika berubah menjadi identitas pertentangan.
Nabi sebagai Penyampai Wahyu
Seringkali konflik muncul karena otoritas agama dipusatkan pada figur atau kelompok tertentu. Namun Al-Qur’an menegaskan peran utama Nabi Muhammad ﷺ sebagai penyampai wahyu.
وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَٰذَا الْقُرْآنُ لِأُنذِرَكُم بِهِ
“Dan Al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar aku memberi peringatan kepadamu dengannya.”
(QS. Al-An‘am: 19)
Ayat ini menunjukkan bahwa inti risalah Nabi adalah Al-Qur’an. Wahyu menjadi pusat, bukan identitas kelompok atau klaim sejarah tertentu.
Ketika Tradisi Menggantikan Wahyu
Al-Qur’an juga mengkritik sikap mengikuti tradisi tanpa mengujinya dengan wahyu:
بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا
“Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.”
(QS. Al-Baqarah: 170)
Dalam konteks modern, “nenek moyang” dapat berupa tradisi mazhab, narasi konflik sejarah, atau loyalitas kelompok yang diwariskan tanpa refleksi.
Padahal Islam menuntut kesadaran iman, bukan sekadar pewarisan identitas.
Standar Kemuliaan: Bukan Mazhab, tetapi Ketakwaan
Al-Qur’an menghapus hierarki berbasis kelompok dengan satu prinsip universal:
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.”
(QS. Al-Hujurat: 13)
Tidak ada mazhab yang otomatis benar karena nama atau sejarahnya. Ukuran kemuliaan tetap bersifat personal dan spiritual.
Jalan Qur’ani Mengakhiri Konflik
Ketika perselisihan muncul, Al-Qur’an memberikan metode penyelesaian yang jelas:
فَإِن تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ
“Jika kamu berselisih dalam sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul.”
(QS. An-Nisa’: 59)
Kembali kepada Allah berarti kembali kepada wahyu-Nya.
Kembali kepada Rasul berarti kembali kepada risalah yang beliau bawa.
Artinya, solusi konflik bukan memperkuat sektarianisme, melainkan memperkuat rujukan bersama.
Kembali kepada Versi Al-Qur’an
Konflik sektarian tidak lahir dari Al-Qur’an, tetapi dari cara manusia membaca sejarah dan membangun identitas kelompok.
Al-Qur’an justru menghadirkan visi yang berbeda:
- Agama sebagai rahmat,
- Umat sebagai satu komunitas moral,
- Wahyu sebagai titik temu bersama.
Berpegang teguh versi Al-Qur’an berarti menggeser fokus dari siapa yang paling benar menuju bagaimana wahyu membimbing seluruh umat.
Mungkin jalan keluar konflik umat bukanlah memenangkan satu mazhab atas yang lain, tetapi menghidupkan kembali kesadaran bahwa semua umat Islam berdiri di bawah satu kitab yang sama—Al-Qur’an.
Dan ketika wahyu kembali menjadi pusat, sekat-sekat sektarian perlahan kehilangan maknanya.(syahida)



























