Scroll untuk baca artikel
Hikmah

Mencari Makna Di Balik Manusia dalam Peran Kekhalifahan

543
×

Mencari Makna Di Balik Manusia dalam Peran Kekhalifahan

Share this article
Husni Nasution – peminat kajian Nasionalis Religius dan solidarits sosial, alumni IAIN Sumatera Utara tinggal di Bogor.

Mencari Makna Di Balik Manusia dalam Peran Kekhalifahan

Oleh ; Husni Nasution

1.“Khuluqun azhim (perwujudan yang agung)

Dalam suatu hikayat lama tersebutlah seorang Penguasa dan seorang Ulama serta seorang Dermawan, harus berhadapan dengan malaikat karena mereka mengira dirinya sangat patut  masuk surga.

  • Malaikat bertanya kepada mantan penguasa alasan apa anda mengharap bisa masuk surga ?.
  • Mendengar itu dia jawab dengan menerangkan segala tugas, hak dan kewajiban yang telah dibuatnya selama menjalankan kekuasaan.
  • Lalu malaikat bertanya bukankah anda telah menerima penghormatan dan segala kebesaran atas segala tugas dan kebijakan  yang anda lakukan selama berkuasa ?.
  • Selanjutnya malaikat bertanya kepada Pemuka agama alasan apa anda mengharap bisa masuk surga ?.
  • Mendengar  itu dia jawab dengan menerangkan segala tugas dakwah dan kebaikan yang telah dibuatnya selama menjalankan tugas sebagai pemuka agama.
  • Lalu malaikat bertanya bukankah anda telah menerima penghormatan dan segala kebesaran serta nama baik atas segala tugas dan kebaikan yang anda lakukan ?.
  • Kemudian malaikat bertanya kepada Konglomerat yang Dermawan alasan apa anda mengharap bisa masuk surga ?.
  • Mendengar itu dia jawab dengan menerangkan segala bantuan dan pemberian yang sangat besar  dan kebaikan yang dibuatnya sebagai orang  dermawan.
  • Lalu malaikat bertanya bukankah anda telah menerima penghormatan dan segala kebesaran atas segala  pemberian yang anda lakuakan ?

Sesungguhnya bukan hal itu yang lebih penting buat kamu.  Kebaikan dan manfaat yang tumbuh atas apa yang kamu   lakukan tentu sangat bernilai dan penting bagi semua pihak yang menerima manfaat dari apa yang kamu lakukan.  Akan tetapi lebih dari itu;  alasan yang menjadi jawaban mengapa kamu  melakukan semua itu jauh lebih penting bagi kamu, dan alasan itu adalah makna dari peran yang kamu  terima sebagai manusia yang berhasil menaiki jenjang perujudan yang agung ( khuluqun  ‘azhim ).

Lihat dan renungkanlah al Qur’an surat 68 ( al Qolam )  ayat 1 s/d ayat  4,  dimana Allah bersumpah tentang alat tulis dan apa yang telah digariskan, tentang engakau yang tidak gila nikmat dan peruntukan ganjaran yang tak terbatas. Sungguh engkau akan berada diatas perwujudan yang agung.

Mereka yang mampu membaca makna dibalik apa yang telah digariskan dan ganjaran yang tak terbatas itu, tentu tidak akan berbuat sesuatu karena memburu pengakuan atau ganjaran semata. Mereka telah melampaui kearifan dasar seperti itu apalagi cuma karena akan diberi pahala dan ganjaran lainnya, mereka lakukan sesuatu hanya karena larut dan tenggelam dalam birunya lautan cinta kepada sang khaliq.

2.“Shaidun  tanaluhu  (buruan dalam genggaman)

Istilah “Shaidun tanaluhu”dalam al Qur’an surat al-maidah ayat 94 adalah pemberitaan tentang adanya uji keunggulan terhadap tingkat eksistensi manusia dalam eksistensinya yang agung. Uji keunggulan itu adalah suatu ujian sikap terhadap suatu buruan yang  berada dalam jangkauan dan dengan mudah dapat diperoleh.

Apakah buruan itu lalu dia tanggkap atau dia biarkan tetap dalam kebebasannya, adalah medan yang menjadi uji kearifan yang ditawarkan. Seperti halnya hak balas bagi orang yang saudaranya terbunuh halah baginya untuk membunuh, akan tetapi lebih mulia baginya jika ia mampu menahan diri dengan membiarkan buruannya itu bebas karena dia mampu memaafkan orang tersebut.

Tingkat eksistensi iman yang agung seperti itu jelas tidak banyak dicapai oleh manusia pada umumnya, karena tidak mudah membaca makna di balik suatu amanah. Umumnya orang berpendapat bahwa merebut segala yang berada dalam target buruannya adalah hak yang harus dimaksimalkan, padahal menahan diri untuk tidak memetik semua daun yang tumbuh,  jauh lebih bijak, karena menyadari kebutuhan lain hari esok bagi orang lain dan generasi yang akan datang ada pada daun yang dibiarkan bebas dari target buruan itu.

Pada tataran kesadaran yang demikian itu nampak betapa kemampuan mengendalikan diri jauh lebih arif dari sekedar hidup memenuhi ambisi. Orang yang memiliki kemamapuan pengendalian diri seperti itu sesungguhnya jauh labih unggul dari sekedar orang yang setiap tahun mengikuti latihan pengendalian diri dengan tidak makan dan tidak minum sepanjang hari (berpuasa).

Bahwa diluar itu mereka menjadi pemburu yang ambisius dan ganas adalah  potret masyarakat yang telah berlangsung entah sejak kapan dan tak jelas sampai kapan bisa berhenti. Sajadah panjang dan gemuruhnya talbiah seakan tak berhubungan dengan hidup dan kehidupan yang mereka jalani. Sehingga tak heran bila dalam negara seperti Indonesia  yang penduduknya mayoritas muslim masyarakatnya didominasi oleh sifat-sifat  munafik dan semangat korupsi yang merajalela.

Dari obrolan singkat ini diharapkan secercah makna dibalik amanah puasa itu kian terkuak adanya dan memberi arah bagi  pentingnya membangun pengendalian diri sehingga puasa yang telah dijalani sepanjang usia kita tidak hanya sekedar mendapat lapar dan dahaga saja.

3. Nuzuulul Qur an (Turunnya al Quran)

Perintah pertama dalam turunnya wahyu al Qur’an tanggal 17 Ramadhan tahun 610 masehi, adalah perintah membaca. Sebelum turunnya wahyu itu bukan berarti orang tidak membaca. Perintah membaca dalam wahyu ini menjadi istimewa dan penting karena perintah itu lebih mengarah pada sasaran yang harus dibaca dan methode membacanya yakni membaca segala ciptaan Tuhan dengan methode bismillah.

Membaca ciptaan Tuhan pada konteks kekinian dimana dunia dan pengelolaannya tidak merujuk pada konsepsi al Qur’an kecuali pada bagain tertentu dan sebagain kecil saja,  tentu tidak mudah dan akan banyak hal yang terasa ganjil dan bertentangan dengan realitas yang ada. Bahkan untuk memaknai Nuzulul Qur’an kita berhadapan dengan  pengertian umum yang telah bergeser dari makna yang sesungguhnya.

Padahal surat al Qadr tersebut adalah perkabaran tentang suatu peristiwa turunya al Qur’an pada suatu malam yang ditentukan. Malam yang ditentukan dalam bahasa arab disebut “lailatul qadr”. Kalau lailatul qadr disebut dengan “malam lailatul qadr” selain tidak sesuai dengan kaidah bahasa, juga  menunjukkan tambahan kata “malam” pada istilah lailatul, menunjukkan tidak mengerti apa itu lailatul qadr.

Jika makna Nuzulul Qur’an saja sudah bergeser dari makna yang seungguhnya, bagaimana dengan persoalan  besar yang terkandung didalamnya. Pertanyaan ini cukup untuk mengajak kita merenungkan kandungan ayat ayat berikut  :

  • Apakah mereka tidak memikirkan al Qur’an itu ataukah hati mereka telah terkunci?. Sesunguhnya orang yang  beralih pendirian setelah terang baginya petunjuk,  sungguh setan telah menyandranya. (Lihat al Qur’an surat Muhammad ayat 24-25 ).
  • Sesungguhnya Dia yang telah memfardhukan al Quran ini atas dirimu adalah yang sungguh sunguh akan memandu kembalinya engkau ketempat kembali yang sesungguhnya. (Lihat Qur’an surat al qashash ayat 85).

Jalan menuju kembali ketempat kembali yang sesungguhnya telah ditunjukkan Allah dalam ayat tersebut, yakni dengan memfardhukan al Quran. Tempat kembali yang sesungguhnya adalah kembali pada susunan dasar penciptaan (‘Idul Fithri). Hal itu ditegaskan dalam al Qur’an surat ar Rum ayat 30, bahwa manusia diciptakan atas fithrah (susunan) agama (ad-Dien) yang atas agama itu manusia diciptakan (allati-fatharonnasa ‘alaiha).

Memasuki “Idul Fithri” artinya memasuki perjalanan menuju kembali pada susunan dasar penciptaan. Jika susunan dasar penciptaan adalah ad Dien  dan al Quran adalah jalan yang dapat mengantarkan kehidupan pada tempat kembali yang sesungguhnya itu, maka ritual lebaran yang berlangsung selama ini sepertinya tidak berhubungan secara signifikan terhadap kembalinya kehidupan umat manusia pada susunan dasar penciptaan. Karena kemungkinan adanya peluang untuk dapat kembali pada susunan dasar penciptaan (idul fithri) adalah dengan membumikan al Qur’an pada hidup dan kehidupan secara kaffah.  Hal itu jelas tidak mudah kecuali bagi mereka yang melihat indah keimanan itu dan benci  kekafiran serta kema’shiyatan. (Lihat al Qur’an surat al hujrat ayat 7). Dan untuk bisa mengalami rasa kebencian terhadap kekafiran, orang itu harus merdeka kesadarannya dan orang yang merdeka kesadarannya itulah  orang yang muslim.  (Lihat al Qur’an surat al Jin  ayat  14).

Membumikan al Quran dalam hidup dan khidupan berarti menempuh jalan kembali pada susunan dasar penciptaan (idul fithri). Untuk itu al Quran harus diturunkan setiap saat pada kehidupan sebagai makna yang essensial dari adanya istilah Nuzulul Qur’an agar manusia bisa memasuki jalan kembali kepada tempat kembali yang sesungguhnya.

Bukan kebetulan bila arti istilah Syahru Romadhan itu adalah momentum untuk menghanguskan sumber sumber kejahatn, dan arti istilah Syahru Syawal itu adalah momentum untuk kebangkitan. Semoga setelah menghanguskan seluruh kebathilan pada bulan Romadhan, akan muncul momentum untuk kebangkitan pada bulan Syawal mendatang.

4. Zakat  Fithrah ( Mencerdaskan diri ) 

Membumikan nilai nilai al Qur’an pada hidup dan kehidupan sebagai makna yang essensial dari Nuzulul Qur’an dapat dipastikan akan berdampak pada peningkatan kecerdasan hidup.  Bagaimana suatu proses pencerdasan kehidupan umat  bisa tercapai, oleh al Qur’an surat at Taubah ayat 103, dengan tegas diperintahkan supaya dilakukan penarikan sebagaian dari harta yang akan difungsikan sebagai shodaqah, yang dengan itu masyarakat ditingkatkan keserdasan hidupnya dan dibersihkan dari belenggu kebodohan.

Dalam ayat tersebut diperlihatkan perbedaan makna istilah “tutohhiruhum biha” artinya kamu bersihkan mereka dengan menggunakan harta yang telah dihimpun sebagai shodaqah itu. Dan istilah “tuzakkihim biha” artinya kamu cerdaskan mereka dengan harta yang dihimpun sebagai shodaqah itu. Hal ini menjadi penting karena zakat sering difahami sebagai kata yang harus diartikan sebagai tindakan mengeluarkan sebagaian dari harta. Padahal harta adalah perangkat yang dibutuhkan dalam mewujudkan kecerdasan hidup ummat.

Ada dua istilah yag sangat strategis dalam kemajuan umat islam difahami tidak sebagaimana mestinya, yakni istilah : Atuz-Zakah dan Aqiimush-Sholah.  Kedua istilah itu hampir bisa dipastikan menabuh gendrang permusuhan besar bila diuraikan dengan apa adanya dan dengan sejujurnya sesuai dengan kaidah bahasa al Qur’an. Sayangnya momentum ini tidak memungkinkan karena pembahasannya sangat panjang. Tapi perlu diketahui bahwa pergeseran makna kedua istilah itu erat kaitannya dengan prim-makro dari gerakan penentang kebangkitan umat Islam.

Kedua istilah itu ( aqimush-shalah dan atuz-zakah ) sangat banyak disebut dalam al Qur’an secara bergandengan. Dan sekedar gambaran umum arah dari dua istilah itu adalah konsepsi al Qur’an tentang pencegahan fahsya-munkar dan konsepsi al Qur’an tentang kesejahteraan sosial umat.

Berbeda dengan apa yang berlangsung dalam femahaman selama ini, dimana kedua istilah itu tidak menjadi corak peribadi apalagi untuk menjadi keberpihakan kebijakan bagi orang yang mengaku sebagai muslim. Sehingga tidak mengherankan bila fahsya munkar terus marak ditengah ratusan juta orang yang terbiasa melakukan shalat, dan berjuta manusia hidup dibawah garis kemiskinan dan tidak tertolong oleh ratusan juta orang yang terpelajar sebagai muslim dan malah rombongan  ibadah haji dan umrah mereka  lebih besar anggarannya dibanding dengan dana yang dibutuhkan untuk menolong  fakir miskin.

Bagaimana mereka dapat dikatakan telah menunaikan zakat fithrah, untuk membedakan skala prioritas dalam hidupnya sebagai muslim yang mengaku beriman dengan al Quran tidak mampu atau mungkin juga karena tidak mau. Bagaimana mungkin dia bisa menempuh perjalanan menuju idul fithri, wah sungguh jauh dan masih jauh panggang dari api.

Orang yang telah membumikan konsepsi al Qur’an tentang peningkatan kecerdasan hidup dalam dirinya sama artinya dia telah melakukan “zakat fithrah” artinya sebagian dari hartanya dia keluarkan  untuk meningkatkan taraf kecerdasan hidupnya. Bahwa kemampuan untuk melakukan upaya itu membutuhkan bantuan pihak lain sehingga dia harus mengeluarkan sebagian hartanya untuk tingkat kecerdasan yang dia harapkan. Dalam hal pelaksanaan harus mengikuti sistim pembiayaan yang digariskan al Qur’an tentang konspsi lembaga keuangan dana Shodaqoh.

5, Idul Fithri (kembali pada susunan dasar penciptaan)

Seperti diketahui bahwa dalam al Qur’an surat Rum ayat 30 itu terdapat perintah untuk menghadapkan perhatian (wajah) pada ad Dien ( agama) seutuhnya, yakni pada ad Dien susunan Allah yang atas susunan itu manusia diciptakan. Perintah ini mengandung pengertian adanya kemungkinan umat manusia berada diluar garis sepadan antara sebagai makhluq berakal dan sebagai binatang.

Pergeseran manusia dari garis sepandan sebagai makhluq berakal diperlihatkan dalam bentuk tegoran terhadap orang yang memiliki akal tapi tidak menggunakan akal dan pendengaran serta penglihatannya untuk memahami ayat ayat Allah, lalu mereka dibangsakan dengan binatang bahkan dinyatakan lebih sesat. (Lihat al Quan surat al Araf ayat  179 ).

Pergeseran status sebagai makhluq berakal itu tidaklah terjadi begitu saja tanpa sebab. Salah satu sebab utama adalah karena mereka adalah orang yang megelak ketika ayat ayat Allah disampaikan, lalu setan mengawal mereka. Padahal Allah sebelumnya bermaksud untuk mengangkat mereka akan tetapi mereka lebih condong pada kehidupan dunia sehingga mereka dibangsakan dengan anjing yang bila dihalau dia menggong gong, dan kalau dibiarkan dia menggong gong juga. (Lihat al Qur’an surat al A’raf ayat 175 – 176 ).

Dalam kondisi yang demikian itu peluang mereka untuk dapat disertakan dalam perjalanan pulang menuju Idul Fithri jelas tidak mungkin.  Mereka tidak bisa dimengertikan bagaimana memahami makna “Nuzulul Qur’an” harus terjadi setiap saat dalam hidupnya. Jangankan  memasuki “Khuluqun ‘Azhim” untuk membangun ketahanan pengendalian diri saja masih jauh dari layak, karena puasa yang setiap tahun itupun juga masih jauh dari makna yang sesungguhnya.

 

Siapa sajakah gerangan yang berpeluang untuk menjadi peserta dalam kontingen Idul Fithri tahun ini? Jawabannya terpulang pada kita masing masing sejauhmana kita mampu membumikan ayat ayat Allah dalam hidup dan kehidupan kita. Dari arah itu kita bisa merasakan apakah kita telah berhasil memasuki perjalanan menuju susunan dasar penciptaan diri kita, ataukah kita sudah berada diluar garis sepadan sebagai makhluq berakal.  Wallahu a’lam.

_____________________________

Oleh Husni Nasution – peminat kajian  Nasionalis Religius dan solidarits sosial, alumni IAIN Sumatera Utara tinggal di Bogor.

 

Example 120x600