Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Kemusyrikan Terselubung: Analisis Kritis terhadap Praktik Keagamaan Kontemporer dalam Perspektif Al-Qur’an

568
×

Kemusyrikan Terselubung: Analisis Kritis terhadap Praktik Keagamaan Kontemporer dalam Perspektif Al-Qur’an

Share this article

ppmidonesia.com. JakartaKemusyrikan, sebagai dosa paling besar dalam Islam, tidak hanya terbatas pada penyembahan berhala secara literal. Dalam perkembangannya, kemusyrikan dapat menjelma dalam berbagai bentuk yang lebih halus dan tersembunyi, bahkan dalam praktik-praktik keagamaan yang tampak saleh.

Artikel ini akan mengkaji secara kritis fenomena “kemusyrikan terselubung” yang terjadi dalam praktik keagamaan kontemporer, berdasarkan perspektif Al-Qur’an.

Memahami Konsep Kemusyrikan dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an memberikan pemahaman yang komprehensif tentang kemusyrikan, tidak hanya sebagai tindakan menyekutukan Allah dengan tuhan-tuhan lain, tetapi juga dalam bentuk perbuatan dan keyakinan yang melanggar prinsip tauhid. Beberapa ayat Al-Qur’an yang relevan antara lain:

  1. Luqman [31]: 13: “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”   

2. An-Nisa’ [4]: 48: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan-Nya, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari (perbuatan) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah berbuat dosa yang besar.”   

Dari ayat-ayat ini, dapat dipahami bahwa kemusyrikan adalah tindakan yang sangat dilarang dalam Islam, dan merupakan dosa besar yang tidak diampuni oleh Allah SWT.

Manifestasi Kemusyrikan Terselubung dalam Praktik Keagamaan Kontemporer

Dalam era modern, kemusyrikan tidak lagi berbentuk penyembahan berhala secara fisik, tetapi lebih halus dan tersembunyi dalam berbagai praktik keagamaan. Beberapa contohnya adalah:

1.Pengkultusan Tokoh Agama: Pengkultusan yang berlebihan terhadap tokoh agama, seperti memberikan mereka gelar/sebutan  yang setara dengan nabi atau bahkan wali, dapat mengarah pada kemusyrikan. Hal ini karena hanya Allah SWT yang memiliki status absolut dan tidak ada yang setara dengan-Nya.

2.Keyakinan yang Bertentangan dengan Tauhid: Beberapa keyakinan yang berkembang di masyarakat, seperti keyakinan bahwa ada kekuatan lain yang dapat mempengaruhi takdir manusia selain Allah SWT, juga termasuk dalam kategori kemusyrikan.

3.Praktik-praktik yang Tidak Sesuai dengan Syariat: Praktik-praktik keagamaan yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan Sunnah, seperti praktik bid’ah yang berlebihan, juga dapat menjurus pada kemusyrikan jika diyakini memiliki kekuatan magis atau dapat mendatangkan manfaat tanpa izin Allah SWT.

Analisis Kritis Berdasarkan Perspektif Al-Qur’an

Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran Islam memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana menghindari kemusyrikan. Beberapa prinsip penting yang perlu diperhatikan adalah:

  • Mentauhidkan Allah SWT: Prinsip utama dalam Islam adalah mentauhidkan Allah SWT, yaitu meyakini bahwa hanya Allah yang berhak disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya.
  • Mengikuti Sunnah Rasulullah SAW: Rasulullah SAW adalah contoh sempurna bagi umat Islam. Mengikuti sunnahnya adalah cara untuk menghindari perbuatan yang bertentangan dengan ajaran Islam, termasuk kemusyrikan.
  • Menghindari Perbuatan Bid’ah: Bid’ah adalah perbuatan baru dalam agama yang tidak memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Menghindari bid’ah adalah salah satu cara untuk menjaga kemurnian ajaran Islam dan menghindari kemusyrikan.

Kemusyrikan terselubung merupakan masalah yang serius dalam praktik keagamaan kontemporer. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memahami konsep kemusyrikan dengan benar, serta berhati-hati dalam menjalankan praktik keagamaan agar tidak terjerumus dalam perbuatan yang dapat merusak tauhid. (husni fahro)

Example 120x600