Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor?

1052
×

Sampai Kapan Indonesia Bergantung pada Kedelai Impor?

Share this article
gambar kedelai {foto freepik.com)

ppmindonesia.com. Jakarta– Indonesia adalah salah satu negara dengan konsumsi kedelai tertinggi di dunia setelah Tiongkok. Produk berbasis kedelai seperti tahu, tempe, dan kecap sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari pola makan masyarakat Indonesia.

Namun, ada satu ironi yang terus berulang dari tahun ke tahun: sebagian besar kedelai yang dikonsumsi di Indonesia berasal dari impor.

Data terbaru menunjukkan bahwa pada tahun 2025, impor kedelai nasional diprediksi mencapai 2,6 juta metrik ton, naik 2% dari proyeksi sebelumnya sebesar 2,55 juta ton.

Konsumsi kedelai nasional pun diperkirakan naik menjadi 2,75 juta metrik ton, meningkat 5% dibandingkan tahun sebelumnya.

Lalu, mengapa Indonesia masih bergantung pada kedelai impor? Apa tantangan yang dihadapi petani kedelai lokal? Dan apakah Indonesia bisa mencapai swasembada kedelai dalam waktu dekat?

Ketimpangan Antara Produksi dan Konsumsi Kedelai

Saat ini, produksi kedelai dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 20% dari total kebutuhan nasional. Sisanya, sekitar 80%, harus diimpor, terutama dari Amerika Serikat, Brasil, dan Kanada.

Impor kedelai dari Amerika Serikat sendiri mencapai 1,93 juta ton pada tahun 2024, atau sekitar 90% dari total impor kedelai Indonesia.

Ketergantungan ini terjadi karena produksi kedelai lokal jauh dari cukup. Salah satu penyebab utama adalah luas lahan tanam yang semakin menyusut.

Pada tahun 2018, luas lahan kedelai di Indonesia hanya sekitar 680.000 hektare, sedangkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dibutuhkan setidaknya 2,5 juta hektare.

Selain itu, petani kedelai di Indonesia menghadapi berbagai kendala, seperti:

  1. Harga jual yang kurang menarik; Pemerintah telah mematok harga jual kedelai di tingkat petani sebesar Rp 8.500 per kg, tetapi dengan biaya produksi yang mencapai Rp 6.500 per kg, keuntungan petani sangat tipis. Hal ini membuat banyak petani enggan menanam kedelai dan lebih memilih tanaman lain yang lebih menguntungkan, seperti jagung atau padi.

2.Produktivitas yang masih rendah; Kedelai yang ditanam di Indonesia memiliki tingkat produktivitas lebih rendah dibandingkan dengan kedelai impor. Faktor cuaca, keterbatasan varietas unggul, dan kurangnya teknologi pertanian yang efisien turut berkontribusi pada rendahnya hasil panen.

3. Iklim tropis yang kurang ideal;Kedelai sebenarnya lebih cocok tumbuh di daerah subtropis, yang memiliki suhu harian dan musiman lebih bervariasi. Di Indonesia, dengan hanya dua musim (kemarau dan hujan), pertumbuhan kedelai menjadi kurang optimal. Curah hujan tinggi bisa menyebabkan tanah jenuh air, sementara drainase yang buruk membuat kondisi tanah tidak ideal untuk budidaya kedelai.

4.Persaingan dengan kedelai impor yang lebih murah; Harga kedelai impor lebih murah dibandingkan kedelai lokal. Saat ini, harga kedelai impor berkisar Rp 6.000–Rp 7.700 per kg, sedangkan kedelai lokal bisa lebih dari Rp 10.000 per kg. Perbedaan harga ini membuat perajin tahu dan tempe lebih memilih kedelai impor karena lebih ekonomis.

Mengapa Perajin Lebih Memilih Kedelai Impor?

Selain faktor harga, ada beberapa alasan lain mengapa perajin tahu dan tempe lebih memilih kedelai impor dibandingkan kedelai lokal:

🔹 Ukuran biji lebih seragam
Kedelai impor memiliki ukuran biji yang lebih seragam, sehingga memudahkan dalam proses produksi. Sementara itu, kedelai lokal memiliki ukuran yang bervariasi, sehingga kurang memenuhi standar industri.

🔹 Lebih bersih dan siap pakai
Kedelai impor sudah melalui proses sortir dan pengemasan yang baik, sehingga bisa langsung digunakan. Sebaliknya, kedelai lokal sering kali masih bercampur dengan tanah, ranting, atau daun, sehingga membutuhkan waktu tambahan untuk pembersihan sebelum diolah.

🔹 Tingkat pengembangan lebih tinggi
Dalam produksi tempe, 1 kg kedelai impor dapat menghasilkan 1,6 hingga 1,8 kg tempe, sementara kedelai lokal hanya menghasilkan 1,4 hingga 1,5 kg tempe. Ini berarti kedelai impor lebih efisien dan menguntungkan bagi perajin.

🔹 Pasokan lebih stabil
Produksi tahu dan tempe harus berlangsung setiap hari. Namun, pasokan kedelai lokal sering tidak tersedia secara konsisten. Berbeda dengan kedelai impor yang dapat diperoleh dalam jumlah besar dan secara teratur.

Upaya Pemerintah untuk Mengurangi Ketergantungan pada Kedelai Impor

Menyadari besarnya ketergantungan pada kedelai impor, pemerintah telah mengambil berbagai langkah strategis untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri.

Salah satunya adalah proyek perluasan lahan kedelai yang menargetkan penambahan hingga 1 juta hektare lahan baru dalam 2–3 tahun ke depan. Pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran Rp 400 miliar untuk mendukung peningkatan produksi kedelai lokal.(tempo; 19 November 2022)

Namun, untuk mencapai swasembada kedelai, langkah-langkah berikut juga perlu diperkuat:

✅ Meningkatkan Produktivitas Petani
Melalui penelitian dan pengembangan varietas unggul yang lebih adaptif terhadap iklim tropis dan memiliki hasil panen lebih tinggi.

✅ Pendampingan dan Pelatihan Petani
Petani perlu didorong untuk mengadopsi teknik budidaya modern yang lebih efisien dan produktif.

✅ Investasi dalam Infrastruktur Pertanian
Pengelolaan irigasi, drainase, dan sistem pengeringan tanah harus diperbaiki agar sesuai dengan kebutuhan tanaman kedelai.

✅ Regulasi Harga dan Pengendalian Impor
Pemerintah perlu mengatur tata niaga kedelai agar harga kedelai lokal lebih kompetitif. Pengendalian impor juga diperlukan agar kedelai lokal bisa lebih terserap di pasar domestik.

✅ Kemitraan dengan Sektor Swasta
Pemerintah dapat menggandeng perusahaan swasta dan koperasi tani untuk meningkatkan efisiensi rantai pasok dan distribusi kedelai lokal.

Bisakah Indonesia Mencapai Swasembada Kedelai?

Menurut para ahli, swasembada kedelai bukanlah sesuatu yang mustahil, tetapi membutuhkan komitmen politik yang kuat dan strategi jangka panjang.

Menurut Prima Gandhi, peneliti dari Institut Pertanian Bogor, swasembada kedelai bisa tercapai jika pemerintah mampu menambah luas lahan tanam, meningkatkan kualitas benih, serta mengatur regulasi perdagangan yang lebih berpihak pada petani lokal.

Jika tidak ada perubahan signifikan, maka Indonesia akan terus bergantung pada kedelai impor dalam jangka panjang.

Dengan konsumsi kedelai yang terus meningkat, ketergantungan ini bisa menjadi ancaman bagi ketahanan pangan nasional, terutama jika terjadi gangguan pasokan global atau kenaikan harga di pasar internasional.

Dapat disimpulkan, hingga saat ini, kedelai impor masih mendominasi pasar Indonesia karena lebih murah, lebih konsisten dalam kualitas, dan lebih mudah diperoleh dibandingkan kedelai lokal. Namun, ketergantungan ini bukanlah solusi jangka panjang.

Untuk mengurangi ketergantungan pada impor, pemerintah perlu melakukan berbagai langkah strategis, termasuk memperluas lahan tanam, meningkatkan produktivitas petani, serta mengatur tata niaga kedelai agar lebih berpihak pada petani lokal.

Jika langkah-langkah ini dijalankan secara serius, maka suatu hari nanti, Indonesia tidak perlu lagi bergantung pada kedelai impor. Pertanyaannya bukan lagi “apakah swasembada kedelai bisa dicapai?”, tetapi “kapan kita akan benar-benar mencapainya?”. (acank)

Example 120x600