Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Takbir untuk Kedamaian, Bukan Perpecahan

410
×

Takbir untuk Kedamaian, Bukan Perpecahan

Share this article

ppmindonesia.com.Jakarta Takbir adalah seruan keagungan yang menandakan kebesaran Allah. Kalimat Allahu Akbar bukan sekadar lafaz, tetapi juga ekspresi ketundukan, keberserahan, dan kesadaran bahwa tidak ada yang lebih tinggi dari Tuhan.

Namun, dalam perjalanan sejarah, takbir sering kali disalahgunakan oleh sebagian pihak untuk membenarkan perpecahan, kebencian, bahkan kekerasan. Padahal, takbir sejatinya adalah panggilan untuk kedamaian, bukan senjata untuk menebar permusuhan.

Makna Sejati dari Takbir

Dalam Islam, takbir adalah simbol ketundukan kepada Allah dan pelepasan diri dari kesombongan dunia. Ketika seorang Muslim mengucapkan Allahu Akbar, ia seharusnya menyadari bahwa hanya Allah yang memiliki otoritas mutlak atas segala sesuatu.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

وَكَبِّرْهُ تَكْبِيْرً ۝١١١

“Dan agungkanlah Tuhanmu dengan takbir.” (QS. Al-Isra: 111)

Ayat ini mengajarkan bahwa takbir adalah wujud pengagungan kepada Allah, bukan alat untuk menunjukkan superioritas atas manusia lain.

Takbir adalah ungkapan keimanan yang seharusnya menghadirkan kedamaian dalam hati, bukan kemarahan atau kebencian terhadap sesama.

Ketika Takbir Disalahgunakan

Sayangnya, dalam berbagai peristiwa, takbir sering dikumandangkan bukan untuk memuliakan Allah, tetapi untuk membenarkan tindakan yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Kita melihat bagaimana takbir digunakan sebagai seruan dalam konflik, peperangan, bahkan tindakan terorisme. Padahal, Rasulullah SAW datang membawa Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin—rahmat bagi seluruh alam.

Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang Muslim adalah orang yang orang lain selamat dari lisan dan tangannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa keislaman seseorang bukan diukur dari seberapa keras ia meneriakkan takbir, tetapi dari sejauh mana ia bisa membawa keselamatan bagi orang lain.

Jika takbir dikumandangkan tetapi diiringi dengan permusuhan, maka makna suci takbir itu sendiri telah ternoda.

Takbir sebagai Simbol Kedamaian

Takbir seharusnya menjadi seruan yang menyatukan, bukan memecah belah. Dalam shalat, takbir diucapkan untuk menandai perpindahan gerakan, mengingatkan bahwa semua gerakan dan kehidupan ini tunduk kepada Allah.

Di Hari Raya, takbir dikumandangkan sebagai wujud syukur atas kemenangan spiritual setelah menjalani ibadah puasa atau perjuangan dalam berkurban. Semua ini menunjukkan bahwa takbir selalu dikaitkan dengan momen-momen sakral yang penuh kedamaian.

Quraish Shihab pernah mengingatkan:

“Sucikan nama Tuhanmu, jangan takbir untuk perpecahan.”

Kalimat ini mengandung pesan mendalam bahwa takbir harus dijaga kesuciannya, digunakan untuk menyeru kepada kebaikan, bukan untuk memperuncing konflik atau menciptakan jurang di antara manusia.

Menjaga Kesucian Takbir

Jika ingin menjadikan takbir sebagai simbol kedamaian, maka kita harus mulai dari diri sendiri. Takbir harus dikembalikan kepada makna sejatinya: pengakuan akan kebesaran Allah yang mengajarkan cinta dan kasih sayang kepada sesama manusia. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah:

  1. Menggunakan takbir dalam konteks ibadah dan kebaikan, bukan dalam kemarahan atau permusuhan.
  2. Menunjukkan akhlak mulia dalam setiap tindakan, karena kebesaran Islam tidak ditunjukkan melalui teriakan, tetapi melalui perilaku yang baik.
  3. Menghindari politisasi agama, di mana takbir digunakan untuk kepentingan kelompok tertentu yang justru merusak esensi Islam.
  4. Mendakwahkan Islam dengan hikmah dan kelembutan, sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW.

Kesimpulan; Takbir Bukanlah Sekedar Kalimat 

Takbir bukanlah sekadar kalimat, tetapi simbol ketundukan, kedamaian, dan kebesaran Allah. Jika digunakan dengan benar, takbir dapat menjadi seruan yang menyatukan umat manusia dalam keimanan dan kasih sayang.

Namun, jika disalahgunakan, takbir bisa menjadi alat perpecahan yang justru menjauhkan umat dari ajaran Islam yang sebenarnya.

Maka, marilah kita mengembalikan takbir kepada tempatnya yang suci. Kumandangkan takbir dengan hati yang penuh kedamaian, bukan dengan amarah dan kebencian.

Sebab, Islam bukanlah agama yang mengajarkan permusuhan, tetapi agama yang membawa cahaya bagi seluruh umat manusia. Allahu Akbar adalah seruan kemuliaan, dan kemuliaan sejati adalah ketika manusia hidup dalam kedamaian, bukan dalam perpecahan.(emha)

Example 120x600