Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Iman wa Ihtisaban: Mengukur Diri dalam Shaum Ramadhan

374
×

Iman wa Ihtisaban: Mengukur Diri dalam Shaum Ramadhan

Share this article

Oleh: Lalu Agus Sarjana; Aktivis dan Tokoh Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Nusa Tenggara Barat (NTB

ppmindonesia.com.Mataram- Ramadhan adalah madrasah ruhani, tempat seorang hamba menempa dirinya dalam dua aspek mendasar:

  1. Kualitas Iman – Seberapa tebal dan kokoh iman kita? Sejauh mana iman itu merasuk ke dalam hati, lisan, dan amal perbuatan?
  2. Nilai Amalan Ihsan – Seberapa jauh shaum kita bukan sekadar ritual fisik, melainkan perjalanan spiritual yang mendekatkan diri kepada Allah?

Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah menyatakan bahwa iman memiliki ukuran: jika bertambah, maka seseorang beruntung; jika melemah, maka ia terputus dan merugi.

Dalam konteks shaum, mereka yang hanya menahan lapar dan haus tanpa memperdalam makna keimanannya, pada akhirnya tidak memperoleh apa-apa selain dahaga dan lapar belaka.

Shaum bukan sekadar ibadah jasmani, melainkan perjalanan menuju Allah yang memiliki tingkatan:

  1. Shaum Syariat – Syahadat La ilaha illa Allah

Ini adalah tingkatan awal, di mana shaum hanya sebatas menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan. Seseorang menjalankan kewajiban fiqh, namun baru sampai pada aspek lahiriah. Shaum ini belum menembus ke dalam kesadaran batin, sehingga setelah berbuka, sekadar kembali kenyang tanpa ada perubahan signifikan dalam keimanan.

  1. Shaum Thariqat – Syahadat La ilaha illa Huwa

Pada tahap ini, shaum tidak hanya menjadi rutinitas fisik, tetapi mulai dijalani dengan metodologi, manhaj, dan tashawwur (kerangka berpikir). Seorang hamba berusaha mengarahkan kiblat akal dan nalarnya kepada Allah melalui mujahadah (kesungguhan).

Namun, jika hanya berhenti pada tingkat nalar dan pemahaman tanpa mengalami kedalaman zauq (rasa spiritual), maka shaumnya masih sebatas jalan menuju kesadaran, belum mencapai perjumpaan.

  1. Shaum Hakikat – Syahadat La ilaha illa Anta

Ini adalah tingkatan musyahadah dan mahabbah, di mana doa, dzikir, dan harapan bukan lagi sekadar kata-kata, tetapi menjadi pengalaman batin yang mendalam. Shaum bukan sekadar latihan menahan diri, tetapi menjadi sarana menyelami kasih sayang Allah dan merasakan nestapa kemanusiaan.

Pada tahap ini, seseorang mulai mencapai derajat hakikat, di mana nalar dan dhamir (kesadaran hati) bersatu dalam kebenaran.

  1. Shaum Karim – Syahadat La ilaha illa Ana

Ini adalah puncak dari perjalanan ruhani dalam shaum, di mana mahabbah berubah menjadi mahabah, cinta kepada Allah mencapai titik fana’ (luruh) dalam ridha-Nya. Tidak ada lagi batas dialog dan perbincangan, karena semua telah tenggelam dalam keesaan-Nya.

Tiada lagi eksistensi diri selain kehendak-Nya semata. Inilah tingkatan ma’rifat, di mana seorang hamba mencapai kesadaran tertinggi bahwa tiada yang ada kecuali Allah.

Semoga malam ke-27 ini menjadi bagian dari untaian Lailatul Qadar yang menyambung malam-malam ganjil sebelumnya. Semoga kita termasuk dalam golongan yang mendapatkan keberkahan dan rahmat-Nya. Aamiin. (lalu agus sarjana)

Example 120x600