ppmindonesia.com. Jakarta – Di tengah gegap gempita aktivitas keagamaan umat Islam, Al-Qur’an senantiasa berada di tempat terhormat. Disampul rapi, ditaruh di rak tertinggi, dibacakan dalam suara merdu yang mendayu-dayu.
Namun sayangnya, bagi banyak orang, Al-Qur’an tak lebih dari sekadar kitab pahala—dibaca agar beroleh kebaikan atas setiap huruf, dilagukan untuk hiburan rohani, tapi dilupakan sebagai petunjuk hidup yang paling mendasar.
Kita menyaksikan fenomena luas di mana Al-Qur’an dilafalkan, tetapi tidak dipahami. Anak-anak diajarkan membaca dalam bahasa Arab sejak kecil, tapi tidak diperkenalkan makna dan kandungan pesannya.
Para orang tua merasa bangga ketika anaknya khatam Al-Qur’an, tetapi abai bahwa khatam tanpa paham adalah ibarat meneguk air tanpa rasa. Bacaan yang seharusnya menggetarkan jiwa justru menjadi rutinitas kosong yang tak mengubah hidup.
Al-Qur’an tak diturunkan hanya untuk dibaca dan didengarkan seperti musik suci. Ia adalah Kitab petunjuk, cahaya yang harus menerangi akal dan hati.
Namun banyak yang mengira telah memenuhi kewajiban terhadapnya hanya karena rutin membaca, menghafal beberapa surat, atau mendengarkannya menjelang tidur.
Padahal, petunjuk Al-Qur’an tidak terletak pada alunan huruf Arabnya, tetapi pada pemahaman terhadap makna dan hikmahnya.
Allah Swt. menegaskan dalam surah Al-An’am (6:115-116):
وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًاۗ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖۚ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ ١١٥
وَاِنْ تُطِعْ اَكْثَرَ مَنْ فِى الْاَرْضِ يُضِلُّوْكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِۗ…. ١١٦
“Sesungguhnya kalimat-kalimat Tuhanmu telah sempurna kebenarannya dan keadilannya. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya… Jika kamu menaati kebanyakan orang-orang di bumi, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.”
Betapa menyesatkan jika kita hanya mengikuti arus mayoritas yang menganggap agama sebagai warisan budaya, bukan petunjuk hidup yang mesti dipelajari dan direnungkan.
Kita terlalu sering percaya kepada para tokoh dan tradisi tanpa pernah menguji apakah ajaran-ajaran itu selaras dengan apa yang sesungguhnya dikatakan Al-Qur’an.
Kita menutup akal dan hati dengan dalih “saya orang awam,” dan menyerahkan urusan agama sepenuhnya kepada yang dianggap lebih tahu—tanpa pernah menyentuh Kitab-Nya secara langsung.
Padahal, pertanyaan mendasar ini perlu kita ajukan: Sudahkah kita membaca Al-Qur’an dalam bahasa yang kita pahami?
Sudahkah kita mengaitkan ajaran-Nya dengan kehidupan sehari-hari—dalam keputusan, relasi, pekerjaan, dan akhlak?
Ataukah agama yang kita jalani hanyalah perpaduan antara kebiasaan, taklid, dan simbol-simbol kosong?
Allah telah menyatakan dengan terang:
لَقَدْ اَنْزَلْنَآ اِلَيْكُمْ كِتٰبًا فِيْهِ ذِكْرُكُمْۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَࣖ ١٠
“Kami telah turunkan kepadamu sebuah Kitab yang berisi risalah-risalahmu. Apakah kamu tidak mengerti?” (QS. Al-Anbiya: 10)
Dan juga dalam surah Al-Ma’idah (5:15-16):
يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ قَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيْرًا مِّمَّا كُنْتُمْ تُخْفُوْنَ مِنَ الْكِتٰبِ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍ ەۗ قَدْ جَاۤءَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ نُوْرٌ وَّكِتٰبٌ مُّبِيْنٌۙ ١٥
“Sesungguhnya telah datang kepadamu dari Allah cahaya dan Kitab yang jelas… yang dengannya Allah memberi petunjuk kepada siapa saja yang mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan kedamaian.”
Al-Qur’an bukan kitab eksklusif milik para ulama atau cendekia. Ia adalah milik semua manusia yang ingin hidup dalam cahaya dan kebenaran.
Setiap Muslim wajib membuka dirinya terhadap Kitab Allah, memahami pesan-pesannya, dan menimbang ulang apakah jalan hidup yang sedang ia tempuh benar-benar selaras dengan wahyu Tuhan.
Kita hidup dalam masa ketika begitu banyak informasi dan penafsiran tentang Al-Qur’an berseliweran, tetapi hanya sedikit yang benar-benar berasal dari penghayatan langsung terhadap ayat-ayat-Nya.
Banyak orang merasa telah “beragama” dengan serius, tetapi ketika ditanya: “Apa pandangan Al-Qur’an tentang kehidupan, keadilan, kekuasaan, cinta, dan akhirat?” mereka terdiam. Karena jawabannya belum mereka temukan—dan belum mereka cari.
Sesungguhnya, seperti dikatakan dalam QS. Al-Qasas (28:85):
اِنَّ الَّذِيْ فَرَضَ عَلَيْكَ الْقُرْاٰنَ لَرَاۤدُّكَ اِلٰى مَعَادٍۗ قُلْ رَّبِّيْٓ اَعْلَمُ مَنْ جَاۤءَ بِالْهُدٰى وَمَنْ هُوَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٨٥
“Sesungguhnya (Allah) yang mewajibkan engkau (Nabi Muhammad untuk menyampaikan dan berpegang teguh pada) Al-Qur’an benar-benar akan mengembalikanmu ke tempat kembali. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Tuhanku paling mengetahui siapa yang membawa petunjuk dan siapa yang berada dalam kesesatan yang nyata.”
Pertanyaan besarnya adalah: Apakah kita siap menjawab panggilan itu dengan pengetahuan yang sejati, atau kita akan menghadap-Nya dalam keadaan tidak tahu apa-apa tentang apa yang telah diturunkan kepada kita?
Sudah waktunya kita bertobat dari sikap simbolik terhadap Al-Qur’an. Mari ubah tasbih yang hanya di bibir menjadi tasbih dalam makna: kekaguman yang mendalam terhadap firman Allah, dan komitmen untuk menjalani hidup sesuai dengan cahaya Kitab-Nya. Hanya dengan itu, kita bisa berharap menjadi hamba yang benar-benar Muslim—yang berserah diri karena tahu, bukan karena ikut-ikutan.(emha)



























