Scroll untuk baca artikel
HikmahNasional

Sekte dalam Islam: Masalah Perilaku, Bukan Identitas

506
×

Sekte dalam Islam: Masalah Perilaku, Bukan Identitas

Share this article

Penulis : emha | Editor : asyary

ppmindonesaia.com.Jakarta – Ketika dunia memandang Islam dari luar, yang tampak seringkali bukanlah kesatuan umat yang rukun, melainkan warna-warni label: Sunni, Syiah, Sufi, Salafi, Ahmadiyah, Quranis, dan banyak lagi.

Dalam diskursus global, keberadaan sekte dalam Islam sering dituding sebagai biang kerok konflik dan perpecahan. 

Tak jarang pula kaum ateis atau skeptis menjadikan kenyataan ini sebagai argumen bahwa agama, termasuk Islam, lebih membawa perpecahan daripada persatuan. 

Namun, apakah perpecahan itu benar-benar disebabkan oleh sekte? Ataukah masalahnya justru terletak pada perilaku umat dalam menyikapi perbedaan?

Al-Qur’an mengajarkan bahwa perbedaan adalah bagian dari fitrah ciptaan Tuhan. Allah berfirman, 

وَلَوْ شَاۤءَ رَبُّكَ لَجَعَلَ النَّاسَ اُمَّةً وَّاحِدَةً وَّلَا يَزَالُوْنَ مُخْتَلِفِيْنَۙ ۝١١٨ اِلَّا مَنْ رَّحِمَ رَبُّكَۗ وَلِذٰلِكَ خَلَقَهُمْۗ وَتَمَّتْ كَلِمَةُ رَبِّكَ لَاَمْلَـَٔنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ اَجْمَعِيْنَ ۝١١٩

“Dan kalau Tuhanmu menghendaki, niscaya Dia menjadikan manusia umat yang satu. Tetapi mereka senantiasa berselisih, kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka.“(QS. Hud: 118–119). 

Ayat ini menunjukkan bahwa perbedaan bukan halangan bagi kasih sayang Tuhan. Perselisihan pun bukan sesuatu yang haram, tetapi menjadi berbahaya ketika disertai kebencian, klaim kebenaran mutlak, dan sikap saling menyesatkan.

Label vs Perilaku

Masalahnya bukan pada identitas sektarian itu sendiri. Identitas adalah bagian dari ekspresi iman dan pengalaman spiritual. Orang-orang mengidentifikasi diri sebagai Sunni, Syiah, atau lainnya bukan semata karena ingin membentuk eksklusivitas, melainkan karena warisan sejarah, tafsir, dan pemahaman yang mereka yakini membantu mendekatkan diri kepada Allah. Ini sah-sah saja dalam batas kebebasan berpikir yang dijamin Islam.

Yang menjadi masalah adalah perilaku sektarian. Yakni ketika sebuah identitas dijadikan dasar untuk merendahkan, menghakimi, dan memonopoli kebenaran. 

Ketika seseorang merasa hanya kelompoknyalah yang benar dan selamat, dan sisanya adalah sesat, kafir, atau bid’ah, di sinilah jurang kehancuran dimulai. 

Padahal, Al-Qur’an dengan sangat tegas memperingatkan, 

اِنَّ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًا لَّسْتَ مِنْهُمْ فِيْ شَيْءٍۗ اِنَّمَآ اَمْرُهُمْ اِلَى اللّٰهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوْا يَفْعَلُوْنَ ۝١٥٩

Sesungguhnya orang-orang yang memecah belah agamanya dan mereka menjadi (terpecah) dalam golongan-golongan, sedikit pun engkau (Nabi Muhammad) tidak bertanggung jawab terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka (terserah) hanya kepada Allah. Kemudian, Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka perbuat. ” (QS. Al-An’am: 159)

Pola Pikir Sektarian: Cermin Ego Spiritual

Perilaku sektarian sering muncul dari ego spiritual: rasa bangga diri yang dibalut kesalehan, seolah-olah hanya kelompoknya yang memahami Tuhan secara benar. Ini bukan semata masalah teologi, tapi psikologi. 

Sebab perilaku semacam itu tidak lahir dari cinta pada kebenaran, melainkan dari kebutuhan untuk merasa unggul. Dengan menyebut orang lain sebagai sesat, seseorang merasa dirinya suci.

Namun, Al-Qur’an menekankan bahwa urusan petunjuk dan kebenaran adalah hak prerogatif Tuhan.

اِنَّكَ لَا تَهْدِيْ مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَاۤءُۚ…… ۝٥٦

 “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu cintai, tetapi Allah-lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Qashash: 56). 

Maka, alih-alih menilai siapa yang paling benar, setiap Muslim seharusnya sibuk menyucikan niat dan memperbaiki amal.

Jalan Tengah: Dewasa dalam Perbedaan

Kesatuan umat Islam bukanlah keseragaman pendapat atau praktik. Kesatuan justru muncul saat umat Islam dewasa dalam menyikapi perbedaan. 

Sebagaimana tubuh yang terdiri dari berbagai organ, masing-masing bagian memiliki fungsi unik, namun semuanya menyatu untuk menjaga kehidupan. Begitu pula umat: perbedaan mazhab, tradisi, dan pendekatan spiritual adalah kekayaan, bukan ancaman.

Persatuan yang diajarkan Al-Qur’an bersifat moral dan spiritual. “Berpeganglah kamu semuanya pada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai…” (QS. Ali Imran: 103).

Tali Allah bukanlah sekte, bukan pula simbol-simbol eksklusif. Ia adalah nilai-nilai ilahi: keadilan, kasih sayang, kebenaran, dan tauhid.

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ۝١٠٣

Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.  (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.(QS. Ali Imran: 103).

Kembali ke Akar Tauhid

Jika umat Islam ingin keluar dari belenggu sektarianisme yang merusak, maka solusinya bukan menghapus label semata, tetapi membongkar akar perilaku sektarian. 

Kembali pada tauhid yang memurnikan, bahwa hanya Allah yang berhak menilai hamba-Nya, bahwa perbedaan bukan alasan untuk saling mengafirkan, dan bahwa umat yang terbaik adalah yang paling bertakwa – bukan yang paling lantang menuduh sesat.

Perubahan ini tidak instan. Ia dimulai dari kesadaran pribadi, dari keberanian untuk bercermin dan bertanya: apakah saya mencintai kebenaran, atau hanya mencintai pendapat saya sendiri? 

Dalam dunia yang semakin terkoneksi, spiritualitas yang matang dan sikap terbuka terhadap perbedaan bukanlah pilihan, melainkan keniscayaan.(emha)

Example 120x600