Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Menyembuhkan Luka Umat: Dari Fanatisme Menuju Tauhid yang Dewasa

364
×

Menyembuhkan Luka Umat: Dari Fanatisme Menuju Tauhid yang Dewasa

Share this article

Penulis; emha | Editor: asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Di balik wajah indah Islam yang penuh kasih, kita sering menyaksikan luka menganga di tubuh umat: luka perpecahan, luka kebencian antar mazhab, dan luka-luka yang ditorehkan oleh fanatisme yang membabi buta. Alih-alih menjadi rahmat bagi semesta, umat Islam sering kali terperangkap dalam pertengkaran internal yang melemahkan kekuatan spiritual dan moral kita sendiri.

Fanatisme: Ketika Tauhid Menyempit Menjadi Ego Kolektif

Fanatisme sektarian tidak lahir dari semangat keimanan, melainkan dari rasa takut dan kebutuhan untuk merasa “paling benar”. Ia menyempitkan makna tauhid—yang seharusnya membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama—menjadi justifikasi untuk membenci dan mengucilkan kelompok lain yang berbeda.

Al-Qur’an secara terang menyindir sikap seperti ini dalam QS. Ar-Rum ayat 32:

مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًاۗ كُلُّ حِزْبٍ ۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ ۝٣٢

“Yaitu orang-orang yang memecah belah agama mereka dan menjadi golongan-golongan. Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”

Ayat ini bukan hanya kritik terhadap perpecahan, tapi juga terhadap rasa superioritas kelompok yang kerap dibungkus dengan istilah “manhaj lurus” atau “jalan keselamatan”.

Dalam sejarah Islam, para ulama besar sekalipun tidak pernah mengklaim kepemilikan tunggal atas kebenaran. Imam Syafi’i, yang menjadi rujukan jutaan Muslim di dunia, pernah berkata:

“Pendapatku benar, tetapi bisa saja salah. Pendapat orang lain salah, tetapi bisa saja benar.”

Betapa jauh dari sikap ini praktik kita hari ini—di mana perbedaan tafsir kecil pun bisa berujung pada pengkafiran.

Tauhid yang Dewasa: Menemukan Tuhan di Tengah Perbedaan

Tauhid yang dewasa bukan hanya soal mengesakan Tuhan secara verbal, melainkan juga mengesakan-Nya dalam relasi sosial: dengan menolak penghambaan terhadap ego mazhab, terhadap pemimpin yang seolah maksum, dan terhadap narasi yang menyudutkan umat lain.

Dalam QS. Al-Hujurat ayat 13, Allah mengingatkan:

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ ۝١٣

“Wahai manusia! Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, dan Kami jadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa.”

Ayat ini menegaskan prinsip keterbukaan dan penghormatan terhadap keragaman. Bahwa kehormatan tidak ditentukan oleh label, tetapi oleh kualitas takwa yang tak bisa diukur manusia.

Prof. Khaled Abou El Fadl, seorang intelektual Muslim dari UCLA, mengatakan:

“A mature faith requires humility—humility to accept that God’s mercy may extend far beyond our legal schools or theological borders.”

Iman yang matang menolak untuk mengkotakkan rahmat Tuhan hanya dalam mazhab atau golongan tertentu. Ia memelihara kesadaran bahwa Allah Maha Luas, dan jalan menuju-Nya pun luas.

Dari Luka Menuju Penyembuhan

Luka-luka umat ini tidak bisa sembuh hanya dengan seruan persatuan. Ia perlu proses penyembuhan kolektif—dengan membuka ruang dialog lintas mazhab, dengan pendidikan Islam yang membebaskan, bukan menakutkan, dan dengan membangun kembali makna Islam sebagai jalan kedamaian, bukan peperangan identitas.  Asy-Syura ayat 13 memberi kita prinsip dasar persatuan:

 شَرَعَ لَكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّالَّذِيْٓ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖٓ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰٓى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِۗ….. ۝١٣

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), serta apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah di dalamnya.”

Ayat ini meneguhkan bahwa ajaran dasar semua nabi adalah sama: membangun hubungan vertikal dengan Tuhan, dan hubungan horizontal dengan sesama dalam semangat keadilan dan rahmat.

Menuju Masa Depan Tauhid yang Membebaskan

Persatuan umat tidak terletak pada keseragaman ibadah atau identitas simbolik, tetapi pada spiritualitas yang matang—yang menjadikan Allah sebagai pusat cinta, bukan sebagai alat legitimasi kebencian.

Maka, marilah kita menyembuhkan luka umat dengan menghidupkan kembali tauhid yang membebaskan, yang memanusiakan, dan yang mempersatukan. 

Tauhid yang tidak berhenti di lisan, tapi menjelma dalam sikap rendah hati, empati, dan keberanian untuk mencintai manusia meskipun mereka berbeda.

Sebab, seperti diingatkan oleh Jalaluddin Rumi:

“Kebenaran adalah cermin yang jatuh dari tangan Tuhan dan pecah berkeping-keping. Setiap orang mengambil satu keping dan mengira itu keseluruhan kebenaran.”

Hanya dengan bersama-sama, kita bisa menyusun kembali pantulan cermin itu, menuju cahaya yang satu: Tuhan Yang Maha Esa.(emha)

Example 120x600