Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Menjauh dari Esensi: Saat Islam Direduksi Menjadi Ritual

407
×

Menjauh dari Esensi: Saat Islam Direduksi Menjadi Ritual

Share this article

Penulis; emha | Editor: asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Dalam dinamika kehidupan umat Islam saat ini, kita menyaksikan fenomena yang semakin mencemaskan: Islam direduksi menjadi serangkaian ritual yang kosong dari makna spiritual dan refleksi batin. 

Agama yang sejatinya diturunkan sebagai petunjuk bagi kehidupan, dibatasi pada bentuk-bentuk simbolik dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun, tanpa upaya mendalam untuk memahami substansinya.

Dalam QS. Al-Baqarah ayat 2 disebutkan, 

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ ۝٢

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa.”

Namun, ketika Al-Qur’an ditanggalkan dari fungsinya sebagai hudan (petunjuk), dan hanya dijadikan bacaan seremonial tanpa pemahaman, maka ia kehilangan daya ubahnya dalam kehidupan nyata.

Profesor Fazlur Rahman, pemikir Islam asal Pakistan, pernah mengingatkan bahwa umat Islam terjebak dalam sikap pasif terhadap wahyu. 

Menurutnya, “Mereka tidak lagi berinteraksi secara aktif dengan Al-Qur’an, melainkan hanya mengulang-ulang tafsir lama tanpa menghadirkan relevansinya dalam konteks kekinian.

” Agama yang seharusnya memandu akal dan hati, justru digantikan oleh penekanan pada formalisme: bagaimana posisi tangan saat shalat, berapa panjang celana, atau seberapa keras suara saat mengucap takbir.

Fenomena ini sejatinya telah lama diperingatkan dalam Al-Qur’an. Dalam QS. Al-A’raf: 179, Allah berfirman,

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَاۖ وَلَهُمْ اٰذَانٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَاۗ… ۝١٧٩

 

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah)… mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.”

Ketika praktik keagamaan hanya menjadi rutinitas dan identitas sosial, bukan panggilan hati dan kesadaran spiritual, maka agama kehilangan perannya sebagai pengarah hidup.

Sering kali kita menemukan individu yang begitu tertib menjalankan ibadah formal, namun lalai dalam kejujuran, tanggung jawab sosial, dan empati kepada sesama. Padahal, seperti ditegaskan dalam QS. Al-Ma’un: 4-7, 

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ۝٤الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ ۝٥الَّذِيْنَ هُمْ يُرَاۤءُوْنَۙ ۝٦وَيَمْنَعُوْنَ الْمَاعُوْنَࣖ ۝٧

 

“Celakalah orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan memberikan bantuan.”

Tanda-tanda reduksi Islam menjadi ritual juga tampak dalam cara sebagian umat menjadikan agama sebagai pelindung nostalgia. Mereka merasa religius dengan meniru gaya hidup para tokoh masa lalu tanpa memahami konteks historis atau relevansi nilai-nilainya dalam zaman modern. 

Agama dipertahankan bukan karena panggilan iman yang hidup, melainkan karena tekanan sosial atau kebanggaan identitas kelompok.

Ali Syariati, intelektual Iran, pernah menyatakan bahwa “agama bisa menjadi candu ketika ia digunakan untuk membius kesadaran, dan bukan untuk membangkitkan semangat perlawanan terhadap kebatilan.

” Agama, dalam pengertian ini, menjadi alat stabilisasi status quo, bukan transformasi diri.

Sudah saatnya umat Islam kembali menghidupkan esensi agama: iman yang aktif, refleksi terhadap ayat-ayat Allah, dan pengabdian yang sadar kepada Sang Pencipta. Seperti yang disebut dalam QS. Az-Zumar: 9,

 قُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَلْبَابِࣖ ۝٩

 

 “Katakanlah, Adakah orang yang mengetahui bahwa apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.”

Islam tidak pernah mengajarkan kekakuan formalisme. Sebaliknya, Islam mendorong kesadaran, kreativitas, dan tanggung jawab moral. Ibadah bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk membentuk karakter dan orientasi hidup yang tunduk kepada Allah.

Jika kita ingin Islam tetap menjadi kekuatan pembebas dan pencerah, maka kita harus menjauh dari praktik kosong dan kembali merengkuh substansi. Bukan hanya meniru gerakan, tapi menghidupkan getaran iman. 

Bukan hanya berbicara tentang surga dan neraka, tetapi menjalani hidup dengan kesadaran bahwa setiap tindakan kita adalah cermin pengabdian kepada-Nya.(emha)

 

Example 120x600