Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Kaifa Takfuruna Billah? Sebuah Tanya dari Langit untuk Manusia

368
×

Kaifa Takfuruna Billah? Sebuah Tanya dari Langit untuk Manusia

Share this article

Penulis : husni fahro| Editor : asyary

ppmindonesia.com.Jakarta Di antara sekian banyak ayat Al-Qur’an yang menggugah kesadaran, ada satu pertanyaan yang tak ditujukan untuk dijawab secara verbal, tapi untuk direnungkan dengan penuh getar dalam jiwa.

Pertanyaan itu datang dari langit, dari Tuhan semesta alam, langsung kepada manusia:

“Kaifa takfurūna billāh…”
“Bagaimana mungkin kamu bisa ingkar kepada Allah…?” (QS Al-Baqarah: 28)

Pertanyaan ini datang bukan untuk mereka yang tak beriman saja, melainkan untuk seluruh manusia, termasuk mereka yang kadang mengaku beriman tetapi hidup seakan tak kenal Tuhan.

Ayat ini seperti cermin bening yang menelanjangi kepalsuan iman yang hanya hidup di lisan, tapi tak menumbuhkan kepasrahan dan ketaatan dalam kehidupan nyata.

Pertanyaan yang Mengguncang Kesadaran

Pertanyaan “Kaifa takfurūna billāh” bukan retorika kosong. Ia adalah bentuk dialog langsung antara Tuhan dan makhluk-Nya. Allah tidak sedang menyatakan kebesaran-Nya secara sepihak, melainkan mengundang manusia untuk berpikir, menyadari keberadaannya, dan bertanya: apa sebenarnya alasan untuk berpaling dari Tuhan?

… وَكُنْتُمْ اَمْوَاتًا فَاَحْيَاكُمْۚ ثُمَّ يُمِيْتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيْكُمْ… ۝٢٨

“Padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian Dia mematikan kamu, lalu menghidupkan kamu kembali, dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.”  (QS Al-Baqarah: 28, lanjutan ayat tersebut)

Ini adalah pengingat eksistensial: manusia dulunya bukan apa-apa. Tak bernyawa, tak dikenal, tak berdaya. Kemudian diberi hidup, akal, hati, dan segala kemungkinan. Lalu bagaimana bisa setelah semua itu, ia memilih mengingkari Tuhan?

Mengapa Masih Ada yang Mengingkari Allah?

Mengapa masih ada yang kufur? Jawabannya beragam, dan tidak selalu eksplisit. Sebagian mengingkari karena kesombongan intelektual, sebagian karena kenikmatan dunia, sebagian karena trauma hidup, dan sebagian besar karena hati yang telah diliputi kelalaian.

Imam Fakhruddin Ar-Razi dalam Tafsir al-Kabir menafsirkan ayat ini sebagai bentuk peringatan sekaligus teguran, karena:

“Mengingkari Allah bukan hanya dalam bentuk penolakan eksplisit terhadap keberadaan-Nya, tapi juga ketika manusia hidup tanpa rasa syukur, tanpa ketaatan, tanpa kesadaran atas kehadiran-Nya.”

Dengan kata lain, kufur bukan sekadar ateisme, tapi juga kehidupan yang dibangun di atas ego, tanpa arah kepada Sang Pencipta.

Hidup yang Dipenuhi, Tapi Tak Disadari

Kita diberi napas setiap pagi, jantung yang berdetak tanpa kita sadari, dan rezeki dari arah yang tak terduga. Namun betapa sering nikmat itu tidak memunculkan rasa syukur, melainkan keluh kesah.

Dr. Komaruddin Hidayat dalam bukunya Psikologi Kematian menulis:

“Banyak manusia baru menyadari pentingnya keberadaan Tuhan ketika berhadapan dengan kehilangan. Selama dunia masih tampak memberi, Tuhan disimpan di sudut yang tak penting.”

Pertanyaan dari langit itu ingin membangunkan hati yang tertidur: “Bagaimana mungkin kamu ingkar, sedang hidupmu sendiri adalah bukti keberadaan dan kasih sayang-Ku?”

Kaifa Takfuruna Billah dalam Realitas Sosial

Jika direnungkan lebih luas, pertanyaan ini juga menjadi refleksi sosial. Mengapa kita membiarkan korupsi, kezaliman, kemiskinan, dan perusakan alam terjadi, padahal semua itu bertentangan dengan nilai-nilai yang diajarkan Allah?

Apakah itu bukan bentuk kekufuran kolektif yang disamarkan oleh retorika keagamaan?

Agama tidak hanya berbicara tentang hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana nilai-nilai Tuhan itu diwujudkan dalam keadilan sosial, kepedulian ekologis, dan kejujuran personal.

Penutup: Sebuah Pertanyaan, Sebuah Panggilan

Pertanyaan Allah dalam QS Al-Baqarah: 28 bukan tuduhan, melainkan panggilan. Panggilan kepada akal agar berpikir. Panggilan kepada hati agar sadar. Panggilan kepada jiwa agar kembali.

اَيَحْسَبُ الْاِنْسَانُ اَنْ يُّتْرَكَ سُدًىۗ ۝٣٦

“Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?” (QS Al-Qiyamah: 36)

Maka saat kita membaca kembali “Kaifa takfurūna billāh?”, mari kita tanggapi bukan dengan jawaban lisan, tetapi dengan perubahan dalam sikap dan arah hidup.
Karena pertanyaan itu terus bergema—hingga seseorang benar-benar menemukan jalan pulangnya kepada Allah.(husni fahro)

Example 120x600