ppmindonesia.com.Jakarta – Di tengah derasnya arus individualisme, konsumerisme, dan ketimpangan ekonomi yang makin mencolok, upaya memberdayakan masyarakat dari akar rumput kerap menjadi kerja sunyi.
Namun, kesunyian itu justru menjadi ruang lahirnya gerakan-gerakan perubahan yang konsisten, membumi, dan berkelanjutan. Salah satunya adalah yang dilakukan oleh Pusat Peranserta Masyarakat (PPM), sebuah lembaga yang sejak 1985 mengusung pendekatan dakwah bil hal sebagai jalan transformasi sosial.
Pada 5–6 Juli 2025 mendatang, PPM akan menyelenggarakan Pelatihan Kader Pemberdayaan Masyarakat di Islamic Center Bekasi. Mengusung salah satu materi “Sinergi Koperasi dan Lembaga Swadaya untuk Demokrasi Ekonomi”, pelatihan ini menjadi cermin dari komitmen panjang PPM dalam membangun masyarakat yang adil, mandiri, dan sejahtera melalui pemberdayaan potensi lokal yang dimiliki umat.
Misi Dakwah Bil Hal
Berbeda dari dakwah yang bersifat verbal dan seremonial, dakwah bil hal adalah ekspresi iman yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Ia adalah dakwah yang berbicara lewat kerja-kerja sosial, pemberdayaan ekonomi, advokasi, dan penguatan kapasitas masyarakat. Dakwah bil hal adalah ajakan tanpa suara, tetapi berbunyi lewat teladan.
Di sinilah misi PPM menemukan relevansinya. Ketika tantangan umat tidak hanya berada di ranah teologi, tetapi juga menyentuh struktur ekonomi dan relasi sosial, maka membangun ekosistem yang adil dan berkeadilan menjadi bagian dari tanggung jawab keagamaan. Maka, pelatihan ini tidak sekadar transfer pengetahuan, melainkan juga upaya membentuk kader yang siap menjadi pelaku perubahan sosial.
Menjahit Ulang Demokrasi Ekonomi
Cita-cita demokrasi ekonomi sejatinya telah lama termaktub dalam Konstitusi Indonesia, tepatnya dalam Pasal 33 UUD 1945. Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua. Namun, realitas hari ini memperlihatkan struktur ekonomi yang timpang. Kekuatan modal besar menguasai sumber daya, sementara masyarakat akar rumput masih berkutat pada akses, keterampilan, dan keberdayaan.
Di sinilah pentingnya menghadirkan sinergi antara dua pilar ekonomi kerakyatan: Koperasi dan Lembaga Swadaya Fungsional (LSF). Koperasi sebagai badan usaha formal berbasis demokrasi ekonomi, dan LSF sebagai wadah sosial berbasis kepercayaan komunitas seperti kelompok tani, kelompok wanita tani, pokdarwis, atau kelompok pemuda produktif. Keduanya punya potensi besar, namun sering berjalan sendiri-sendiri.
Pelatihan ini mendorong penyatuan peran: koperasi menjadi payung hukum dan jejaring usaha; LSF menjadi inkubator kewirausahaan dan modal sosial. Ketika keduanya bersinergi, lahirlah ruang gerak baru bagi masyarakat untuk keluar dari ketergantungan dan menuju kemandirian.
Strategi Kaderisasi dan Transformasi
Metodologi pelatihan PPM dirancang secara partisipatif dan aplikatif. Materi disampaikan dalam bentuk ceramah interaktif, diskusi panel, studi kasus, serta workshop penyusunan rencana aksi berbasis potensi lokal. Di akhir sesi, peserta ditantang untuk merancang dan mengimplementasikan program pemberdayaan di wilayah masing-masing, dengan pendampingan dari fasilitator PPM.
Lebih dari sekadar pelatihan, ini adalah ruang kaderisasi ideologis. Generasi muda tidak hanya dibekali kemampuan teknis dan manajerial, tetapi juga dipanggil untuk memahami ulang makna kekhalifahan dalam konteks sosial dan ekonomi. Bahwa membangun masyarakat bukan sekadar pilihan karier, melainkan bagian dari tanggung jawab iman.
Jalan Panjang yang Membumi
Dalam konteks hari ini, pelatihan semacam ini adalah oase. Ia menawarkan pendekatan yang tidak sekadar reaktif terhadap problem masyarakat, tetapi proaktif membangun daya tahan dan kapasitas kolektif. Kemandirian ekonomi bukan sekadar soal angka pertumbuhan, tetapi soal keberdayaan komunitas. Dan keberdayaan itu tumbuh dari dalam, bukan dari luar.
PPM, melalui pelatihan ini, menunjukkan bahwa perubahan sosial bisa dimulai dari ruang-ruang kecil, dari kader-kader muda yang terlatih dan tercerahkan, dan dari dakwah yang tidak hanya berbicara, tetapi bekerja. Itulah dakwah bil hal yang sejati.
Dan seperti yang pernah disampaikan Buya Hamka, “Keadilan yang paling nyata adalah memberi orang alat untuk berusaha, bukan hanya hasilnya.” Pelatihan ini adalah salah satu alat itu. (acank)



























