ppmindonesia.com.Riau— Di bawah langit pagi yang cerah, sejumlah santri tampak tekun membolak-balik timbunan sampah organik bercampur cacing di sebuah kebun di Riau. Tangan mereka penuh tanah hitam yang lembut, namun wajah mereka berbinar.
Ahad, 6 Juli 2025 lalu, Institut Pengembangan Masyarakat (IPAMA) menggelar workshop bertajuk “Mengelola Sampah dan Budidaya Cacing”. Acara ini dipandu langsung oleh Guntoro Soewarno,Ketua IPAMA, sekaligus penggagas gerakan pertanian organik di berbagai daerah dengan nama Ali Organic Farm (ALO FARM) .
Diikuti oleh perwakilan dari tujuh pesantren se-Riau, pelatihan itu menawarkan cara sederhana namun efektif untuk merawat bumi: memanfaatkan sampah menjadi kompos, dan membudidayakan cacing tanah untuk memperbaiki kualitas tanah sekaligus sumber ekonomi.
“Di tengah dominasi pertanian berbasis kimia yang merusak tanah, kami memilih jalan kembali ke cara alami, organik, dan berkelanjutan,” ujar Guntoro. “Bagi kami, ini bukan hanya pilihan ekonomi, tetapi wujud nyata tanggung jawab sebagai khalifah fil ardh—pemakmur bumi, sebagaimana amanah Al-Qur’an.”
Tanah yang Lelah
Krisis tanah bukan isapan jempol. Data Kementerian Pertanian (2023) menunjukkan lebih dari 70 persen lahan pertanian Indonesia mengalami degradasi akibat pemakaian pupuk dan pestisida kimia. Sementara itu, KLHK (2022) mencatat sekitar 3,5 juta ton pestisida sintetis mencemari air tanah setiap tahun.
Dalam pelatihan itu, Guntoro menjelaskan bahwa lahan seluas 300 meter persegi dengan budidaya cacing bisa menghasilkan Rp8–15 juta per bulan. “Ini bukan hanya ramah lingkungan, tapi juga membuka jalan kemandirian ekonomi bagi pesantren,” tegasnya.
Para peserta belajar membuat kompos dari sampah organik, memelihara cacing sebagai penghasil kascing (kotoran cacing yang subur sebagai pupuk), dan memanfaatkan lahan pesantren yang sebelumnya terbengkalai.
Warisan Nabi, Jalan Pesantren
Jauh sebelum istilah “organik” dikenal, Nabi Muhammad SAW sudah memberi teladan. Dalam satu riwayat, Rasulullah melarang mencela tanah (HR Muslim), menganjurkan bercocok tanam meski kiamat sudah dekat (HR Bukhari), dan mempraktikkan kebun alami di Madinah tanpa bahan kimia.
“Para ulama klasik seperti Ibnu Aqil dan Al-Ghazali pun mengingatkan: merawat tanah adalah bagian dari ibadah,” ujar Guntoro.
Kini, gerakan itu mulai merambah pesantren. Lahan pesantren yang dulu kosong disulap menjadi kebun produktif, sampah dikelola menjadi kompos, dan cacing-cacing tanah menjadi mitra sunyi yang memberi kehidupan.
“Kami ingin umat Islam menjadi pelopor pertanian berkelanjutan,” ungkap salah seorang peserta workshop dengan nada penuh harap.
Bukan Sekadar Retorika
Di tengah krisis iklim dan ekologi global, pesantren-pesantren di Riau memberi teladan: perubahan dimulai dari tangan sendiri, dari tanah sendiri.
Barangkali sudah waktunya umat Islam memimpin bukan hanya dengan khutbah dan retorika, melainkan dengan cangkul, kompos, dan cacing di tangan. Sebab, menjaga bumi bukan pilihan, tetapi amanah yang melekat pada setiap khalifah fil ardh.
Sebagaimana pesan seorang petani tua yang pernah dikutip Guntoro: “Tanah yang kita rusak hari ini adalah air mata anak cucu kita esok.”
Dan di kebun kecil pesantren-pesantren itu, setidaknya kita belajar: bahwa bumi yang sehat bukan hanya diwariskan, tetapi juga diperjuangkan.(acank)



























