Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Menata Mimpi, Menjalankan Amanah: Jejak Kader Dakwah Bil Hal

389
×

Menata Mimpi, Menjalankan Amanah: Jejak Kader Dakwah Bil Hal

Share this article

Penulis ; acank | Editor ; asyary |

Seorang peserta Pelatihan Kader Dakwah bil Hal tengah mempresentasikan rencana tindak lanjut (RTL) yang berorientasi pada solusi dan manfaat bagi masyarakat. (doc.ppm)

ppmindonesia.com.Bekasi – Mereka datang dari berbagai penjuru: dari gang sempit di Bekasi hingga pinggiran hutan di Subang, dari ruang kelas sekolah di Cikarang hingga ladang cabai di Karawang. Mereka bukan politisi, bukan juga pemuka agama yang kerap tampil di layar kaca. Mereka adalah para kader—penggerak perubahan yang memilih jalan sunyi: dakwah bil hal, menyampaikan nilai-nilai agama melalui tindakan nyata yang menyentuh akar kehidupan masyarakat.

Dalam Pelatihan Kader Dakwah Bil Hal yang diselenggarakan Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) di Islamic Center, 5 – 6 Juli 2025, wajah-wajah itu hadir dengan penuh semangat. Selama dua hari, mereka tidak hanya berdiskusi dan belajar, tetapi juga menyusun rencana kerja lapangan yang menjadi titik tolak dakwah mereka ke depan. Dakwah yang tak berhenti di ceramah dan pengajian, melainkan menjelma dalam program pemberdayaan ekonomi, pendidikan, dan pelestarian lingkungan.

Sebut saja para kader dari Bekasi yang membangun koperasi konsumen setelah sebelumnya merintis usaha laundry dari bantuan Dinas Sosial. Mereka tak hanya mencari penghasilan, tetapi menciptakan ekosistem solidaritas. Koperasi menjadi alat perjuangan: mendekatkan produk dengan pasar, membuka peluang bagi warga sekitar, dan menghidupkan semangat gotong royong di tengah kota yang individualistik.

Dari Subang, sekelompok kader merintis demplot agroforestri kencur seluas satu hektare. Di tengah lanskap pegunungan yang kerap dipinggirkan dalam narasi pembangunan, mereka melihat peluang: menjadikan kencur bukan hanya tanaman obat, tetapi jembatan antara masyarakat hutan dengan pasar ekspor. Mereka menanam, membibitkan harapan, dan mengajak warga menjaga hutan sambil memperbaiki kesejahteraan. Sebuah contoh bahwa dakwah bisa menyentuh tanah, akar, dan langit sekaligus.

Sementara itu di Cikarang, para guru dan siswa merintis BUMS (Badan Usaha Milik Sekolah), mengelola katering harian untuk pelajar dengan sistem koperasi. Dengan hanya Rp5.000 per porsi, mereka bukan hanya menyuplai makanan bergizi, tetapi juga membangun kemandirian sejak dini. Di tengah keraguan pada janji makan siang gratis pemerintah, para kader ini memilih bertindak daripada menunggu.

Di Karawang, ladang cabai menjadi media dakwah. Bukan metafora, melainkan lahan nyata yang akan ditanami 15.000 pohon cabai. Tujuannya sederhana namun berdampak: menstabilkan harga di 22 pasar tradisional yang selama ini dikuasai oleh fluktuasi tak menentu. Dalam satu hektare tanah, tersimpan harapan bagi ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi mikro.

Dan dari Depok, seorang kader menggagas pembukaan restoran dan usaha frozen food, menyasar para ibu rumah tangga agar dapat berdaya dan mengurangi limbah makanan. Konsep ini tak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga ekologi dan pemberdayaan perempuan.

Dalam sesi penutupan pelatihan, Sekretaris Jenderal PPM Anwar Hariyono menyampaikan refleksi mendalam:

“Rencana hanyalah awal. Kita butuh tekad, kesabaran, dan kerja kolektif agar program-program ini hidup di lapangan. Inilah bentuk nyata dari dakwah bil hal: menyampaikan nilai lewat kerja, bukan kata.”

Senada, Mas Pupun Purwana, Ketua Dewan Pembina Badan Wakaf dan Presidium Nasional PPM, mengajak para peserta untuk bermimpi setinggi mungkin—namun tetap membumi:

“Kalau mimpi saja tidak bisa, untuk apa kita ada? Tapi mimpi itu harus bisa diwujudkan. Ukurannya adalah kemanfaatan bagi umat dan keberlangsungan program.”

Ketua Presidium PPM, Mas Eko Suryono, menutup pelatihan dengan satu pengingat mendalam tentang hakikat peran manusia:

“Kita ini khalifah di bumi. Tugas kita bukan hanya menjaga diri, tapi menjaga masyarakat dan lingkungan. Ketika kita berbuat baik, yakinlah bahwa kebaikan akan kembali kepada kita. Bukan dari manusia, tapi dari Allah.”

Pelatihan ini bukan akhir, tapi awal dari jejak-jejak dakwah bil hal yang akan menembus batas masjid, podium, dan ruang kelas. Jejak yang berpijak pada realitas hidup masyarakat. Jejak yang memberi bentuk pada mimpi-mimpi besar melalui langkah kecil yang konsisten.

Dalam gerobak teh, ladang kencur, dapur sekolah, hingga koperasi kampung, nilai-nilai Islam menemukan jalannya yang paling nyata. Dakwah tak lagi terkurung dalam khutbah, tapi hadir dalam aroma teh hangat di pagi hari, dalam tumpukan sabun cangkang telur, dalam pembukuan koperasi sederhana, dan dalam embun yang menetes di kebun cabai.

Di sanalah amanah itu dijalankan. Dan dari sanalah, peradaban dibangun.(acank)

Example 120x600