ppmindonesia.com.Magelang – Di panggung terbuka di kaki Lima Gunung, Magelang, sebuah peristiwa kebudayaan kembali digelar dengan sederhana namun penuh makna. Festival Seni dan Budaya Lima Gunung tahun ini kembali mengingatkan kita bahwa seni bukan sekadar hiburan, budaya bukan sekadar warisan, dan iman bukan sekadar identitas—semuanya dapat menjadi jalan sunyi menuju kemanusiaan.
Di Padepokan Tjipto Boedoyo, para tokoh lintas iman, lintas profesi, dan lintas generasi berkumpul dalam festival yang sudah menjadi kalender budaya nasional ini. Doa pembuka dilantunkan oleh H. Supadi yang baru saja pulang dari ibadah haji, sambutan hangat dari Mas Sutanto Mendut, Presiden Budayawan Lima Gunung, lalu disusul tarian Sufi yang memukau dari pengikut tasawuf Jalaluddin Rumi.
Festival ini memang selalu lebih dari sekadar pameran seni. Ia adalah ruang untuk mengingat bahwa kebersamaan tak harus diikat oleh kesamaan, melainkan dirajut oleh penghormatan terhadap perbedaan. Di sinilah para penerima Lima Gunung Award tahun ini menunjukkan teladan: mereka yang setia menjaga jembatan di tengah jurang perbedaan, yang menyatukan iman, budaya, dan kemanusiaan.
Penghargaan Lima Gunung Award tahun ini dianugerahkan kepada nama-nama yang tidak asing di jagat kebudayaan dan kemanusiaan kita. Di antaranya, KH Hamam Djafar, pendiri Pondok Pesantren Pabelan; M. Habib Chirzin, duta perdamaian internasional; Romo Gabriel Sindhunata SJ, pendiri rumah budaya Omah Petroek; mendiang Jacob Oetama, pendiri harian Kompas; serta kelompok musik Kiai Kanjeng pimpinan Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).
Mereka adalah para pejuang yang tidak memilih jalur popularitas atau kemewahan, tetapi jalan panjang merawat kemanusiaan: lewat pendidikan, lewat musik, lewat tulisan, lewat doa, lewat dialog, dan lewat keberanian untuk berbeda tetapi tetap bersama.
Orasi-orasi budaya yang mereka sampaikan sore itu tidak mewah, tidak muluk. Justru di situlah letak kekuatannya. Dalam orasi yang disampaikan dalam bahasa Jawa, Habib Chirzin mengingatkan bahwa perdamaian hanya mungkin jika kita mau kembali belajar dari bumi dan tradisi kita sendiri. Pesan-pesan sederhana tetapi mendalam itu membuat panggung Lima Gunung bukan hanya sebuah perayaan seni, tetapi juga pengingat bahwa kita punya banyak alasan untuk tetap saling menghormati.
Acara yang diakhiri dengan makan bersama (dahar kembul bujono) dan shalat Jumat berjamaah ini adalah contoh nyata bahwa dialog iman, ketika dirangkai dalam seni dan budaya, tidak hanya mungkin, tetapi indah.
Di tengah dunia yang gaduh dengan politik identitas, kebencian atas nama perbedaan, dan lupa diri akan akar budaya sendiri, panggung Lima Gunung berdiri sebagai simbol bahwa seni dan budaya tetap punya daya menyembuhkan.
Seni itu, sebagaimana yang dihidupkan oleh para penerima Lima Gunung Award, bukan sekadar karya untuk dilihat atau didengar, tetapi cara untuk melihat sesama sebagai manusia. Budaya itu bukan sekadar tari dan lagu, tetapi cara untuk memahami siapa kita di tengah semesta. Dan iman, ketika dipadukan dengan seni dan budaya, menjadi jalan untuk kembali menemukan makna kemanusiaan.
Di kaki Lima Gunung, kita diajak kembali percaya bahwa Indonesia masih memiliki orang-orang yang dengan diam-diam, sabar, dan teguh, menjaga api kecil kemanusiaan di tengah gelapnya zaman. (habib chirzin)
Habib Chirzin ; intelektual Muslim, penulis yang konsisten menyuarakan kemanusiaan, perdamaian, dan keadilan melalui artikel-artikelnya di berbagai media, sekaligus sesepuh aktivis Pusat Peranserta Masyarakat (PPM).



























