Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

Bukan Sekadar Slogan: Persatuan dalam Pandangan Al-Qur’an

364
×

Bukan Sekadar Slogan: Persatuan dalam Pandangan Al-Qur’an

Share this article

Penulis ; acank | Editor ; asyary |

ppmindonesia.com-Jakarta – Di setiap momentum besar, mulai dari kampanye politik hingga peringatan kemerdekaan, kita mendengar seruan yang sama: persatuan. Diucapkan dengan lantang oleh para pemimpin, terpampang di baliho, dan terulang di media massa, seolah menjadi mantra sakti untuk menyatukan bangsa.

Namun, di balik gegap gempita seruan itu, kita kerap melihat kenyataan yang jauh dari ideal. Elit politik saling menyerang di ruang publik, masyarakat terpecah belah oleh identitas kelompok, dan media sosial dipenuhi hujatan antarkubu.Persatuan, yang seharusnya menjadi perekat, kerap berhenti sebagai slogan kosong.

Dalam pandangan Al-Qur’an, persatuan bukanlah sekadar jargon politik, apalagi strategi kampanye. Persatuan adalah perintah Allah yang melekat pada fitrah manusia, jalan yang harus ditempuh untuk meraih rahmat dan keberkahan-Nya.

Surat Ali Imran ayat 103 menegaskan: 

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ… ۝١٠٣

“Berpeganglah kamu semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai. Ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika dahulu kamu bermusuhan, lalu Dia mempersatukan hatimu, sehingga kamu menjadi bersaudara.”

Ayat ini mengajarkan dua hal penting.

Pertama, persatuan yang sejati tidak mungkin dicapai jika kita berpegang pada ego, kepentingan kelompok, atau kebanggaan semu atas identitas sendiri. Hanya dengan berpegang pada “tali Allah” — nilai-nilai petunjuk-Nya — umat manusia dapat menemukan titik temu yang kokoh.

Kedua, persatuan adalah nikmat. Ia bukan hasil dari kepintaran atau kelihaian manusia semata, tetapi karunia Allah bagi hati yang mau kembali tunduk dan rendah hati.

Ironisnya, yang kita lihat kini justru sebaliknya. Banyak yang masih bangga dengan golongannya sendiri, merasa benar sendiri, lalu mengolok pihak lain. 

Mereka lupa, seperti diingatkan dalam Surat Ar-Rum ayat 32, bahwa sikap memecah-belah, menjadi bergolong-golongan, dan masing-masing bangga pada kelompoknya sendiri hanyalah jalan menuju kesesatan yang jauh.

مِنَ الَّذِيْنَ فَرَّقُوْا دِيْنَهُمْ وَكَانُوْا شِيَعًاۗ كُلُّ حِزْبٍ ۢ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُوْنَ ۝٣٢

“(yaitu) orang-orang yang memecah-belah agama mereka sehingga menjadi beberapa golongan. Setiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada mereka.”

Maka, saat kita membicarakan Indonesia Emas 2045, kita perlu jujur pada diri sendiri: apakah persatuan yang kita serukan selama ini hanya slogan, atau sudah menjadi sikap hidup? Apakah kita sudah belajar menahan amarah, memaafkan sesama, dan menyeru pada kebaikan, sebagaimana diajarkan Al-Qur’an (QS. Ali Imran: 134)?

Persatuan tidak datang dari retorika semata. Ia lahir dari hati-hati yang bersih, yang mengakui bahwa kebenaran hanyalah milik Allah, dan bahwa kita semua hanyalah saudara dalam ujian hidup ini.

Tali persaudaraan itu sudah tersedia. Tinggal kita, maukah benar-benar memegangnya?(acank)

 

Example 120x600