Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Shirāthal Mustaqīm: Jalan Lurus Itu Sudah di Depan Mata, Mengapa Masih Dicari?

439
×

Shirāthal Mustaqīm: Jalan Lurus Itu Sudah di Depan Mata, Mengapa Masih Dicari?

Share this article

Penulis: husni fahro| Editor: asyary|

ppmindoneia.com.Bogor- Setiap hari, jutaan umat Muslim di seluruh dunia melafalkan doa yang sama, berkali-kali: “Ihdinā shirāthal mustaqīm” — “Tunjukkanlah kami jalan yang lurus” (QS al-Fatihah:6). Doa ini menjadi inti dari setiap rakaat shalat, inti dari pengakuan betapa kita membutuhkan bimbingan Allah.

Namun, sebuah pertanyaan besar layak diajukan: apakah kita sungguh tahu jalan lurus itu seperti apa? Ataukah kita hanya mengulang-ulang permintaan tanpa pernah membuka mata, hati, dan pikiran untuk menyadari bahwa jalan itu sudah terbentang jelas di depan kita?

Al-Qur’an sejak awal sudah menjelaskan bahwa shirāthal mustaqīm bukanlah sebuah misteri yang hanya bisa diraba, apalagi diibaratkan seperti rambut dibelah tujuh—sulit, mustahil. Jalan itu nyata, tegas, mudah diikuti, dan bahkan telah diwariskan kepada kita ribuan tahun lalu melalui wahyu Allah.

Dalam Surah Yasin, yang begitu sering kita baca terutama pada malam Jumat, Allah berfirman:

اِنَّكَ لَمِنَ الْمُرْسَلِيْنَۙ ۝٣عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍۗ ۝٤تَنْزِيْلَ الْعَزِيْزِ الرَّحِيْمِۙ ۝٥

“Sesungguhnya kamu (Muhammad) termasuk salah seorang dari para rasul, yang berada di atas jalan yang lurus. (Yaitu) wahyu yang diturunkan oleh (Allah) Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (QS Yasin:3–5)

Jalan lurus yang kita minta itu tak lain adalah mengikuti petunjuk Al-Qur’an, yang telah Rasulullah jalani sebagai hakim dalam setiap perkara umat. Bahkan dalam QS an-Nisa’ (4):65, Allah bersumpah bahwa seseorang belum beriman sampai dia menjadikan Rasul sebagai hakim atas segala urusannya dan menerima putusan beliau dengan lapang dada.

Namun sayangnya, masih banyak di antara kita yang tidak paham apa yang dibacanya, apalagi menjadikannya pegangan hidup. Seringkali kita melihat umat yang semangat membaca Al-Qur’an dalam tahlilan atau acara keluarga, namun isinya tetap asing bagi mereka. Membaca tanpa memahami hanyalah seperti menyampaikan permohonan tanpa pernah mendengar jawaban yang sudah jelas diberikan.

Dalam Surah Az-Zukhruf, Allah kembali mengingatkan dengan tegas:

فَاسْتَمْسِكْ بِالَّذِيْٓ اُوْحِيَ اِلَيْكَۚ اِنَّكَ عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ۝٤٣

“Maka berpegang teguhlah pada apa yang diwahyukan kepadamu; sungguh, kamu berada di atas jalan yang lurus.” (QS Az-Zukhruf:43)

Berpegang pada wahyu itu pula yang Allah sebut sebagai syarat konsistensi untuk tetap berada di shirāthal mustaqīm. Dalam QS al-An‘am:153, Allah berwasiat:

وَاَنَّ هٰذَا صِرَاطِيْ مُسْتَقِيْمًا فَاتَّبِعُوْهُۚ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهٖۗ ذٰلِكُمْ وَصّٰىكُمْ بِهٖ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ ۝١٥٣

 “Dan bahwa inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), yang akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.”

Cendekiawan Muslim kontemporer, Syekh Muhammad Al-Ghazali, pernah menulis dalam bukunya Ma’a al-Qur’an: “Siapa pun yang mencari jalan keselamatan tanpa menjadikan Al-Qur’an sebagai pemandunya, berarti dia telah meninggalkan jalan yang sudah jelas, lalu masuk ke jalan-jalan buntu yang penuh jebakan.”

Jadi, masalahnya bukan pada Allah yang tak kunjung mengabulkan doa kita. Masalahnya ada pada diri kita yang tak kunjung serius membaca, memahami, dan mengamalkan petunjuk yang sudah diberikan. Jalan lurus itu sudah jelas, tetapi kita sendiri yang sibuk mencari-cari di tempat lain, seolah Allah belum memberi jawaban.

Saatnya kita berhenti sekadar memohon tetapi mulai melangkah di jalan itu. Membaca dengan tadabbur, merenungkan setiap ayat, lalu menghidupkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan begitu, permintaan kita: “Ihdinā shirāthal mustaqīm” bukan hanya menjadi doa yang kosong, tetapi menjadi komitmen untuk berjalan di atas jalan lurus yang sudah terbentang di depan mata.

Allah sudah menjawab doa kita ribuan tahun lalu. Tinggal apakah kita mau menyambut jawaban itu atau tetap sibuk meminta sambil memalingkan wajah dari petunjuk-Nya.(husni fahro)

* Husni Fahro, seorang pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an asal Bogor. Alumni IAIN Sumatera Utara ini dikenal dengan gagasannya tentang Nasionalisme Religius dan kepeduliannya pada isu-isu solidaritas sosial.”

Example 120x600