لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِيَ دِيْنِࣖ ٦
“Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.” (QS Al-Kafirun [109]:6)
ppmindonesia.com.Jakarta – Ayat penutup dalam Surat Al-Kafirun ini sering kita dengar di berbagai kesempatan. Namun, tak jarang maknanya dipersempit menjadi sekadar ajakan untuk “memisahkan diri” dari yang berbeda. Padahal, ayat ini justru menyiratkan pesan luhur: hidup berdampingan tanpa permusuhan.
Begitu pula dalam Surat Al-Fath ayat 29, Allah berfirman tentang Nabi Muhammad ﷺ dan para pengikutnya:
مُحَمَّدٌ رَّسُوْلُ اللّٰهِۗ وَالَّذِيْنَ مَعَهٗٓ اَشِدَّاۤءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاۤءُ بَيْنَهُمْ… ٢٩
“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya keras terhadap orang-orang kafir, tetapi penyayang di antara mereka sendiri.” (QS Al-Fath [48]:29)
Sekilas, ayat ini tampak kontradiktif dengan Surat Al-Kafirun. Yang satu seolah mendorong tegas terhadap kafir, yang lain menawarkan hidup damai. Di sinilah pentingnya memahami konteks dan makna kata “kafir” secara tepat.
Bukan Orangnya, Tapi Sifatnya
Ulama tafsir kontemporer Quraish Shihab menjelaskan, istilah “kafir” dalam Al-Qur’an tidak selalu menunjuk pada identitas orang non-Muslim semata. Kata “kafir” secara harfiah berarti “menutup”, yaitu sifat menutup diri dari kebenaran.
Karenanya, ketika Allah memuji umat Muhammad karena “ashidda’ ‘alal kuffar” (tegas kepada orang kafir), yang dimaksud adalah tegas terhadap kezaliman, penindasan, dan sifat permusuhan terhadap kebenaran — bukan membenci manusia hanya karena agamanya.
Dalam kitab tafsir al-Misbah, Quraish Shihab menyebut, “Kekerasan hanya diarahkan pada mereka yang memusuhi dan menindas, bukan pada mereka yang berbeda keyakinan tetapi hidup damai dan menghormati.” Sikap tegas terhadap kezaliman itulah yang menjadi kewajiban moral setiap muslim, sembari tetap menunjukkan kasih sayang kepada sesama manusia.
Pesan Hidup Berdampingan
Dalam Surat Al-Kafirun, Nabi Muhammad ﷺ diajarkan untuk berkata kepada kaum Quraisy:
“Wahai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak akan menyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.”
Ayat ini turun saat para pemuka Quraisy mengajak Nabi untuk kompromi dalam urusan keyakinan. Jawaban Nabi bukan ajakan perang, tetapi pernyataan tegas untuk menjaga integritas iman sambil menghargai keyakinan pihak lain.
Sayangnya, sebagian umat Islam hari ini membalik logika ini. Kepada yang berbeda agama, justru lunak bahkan mencari muka, sementara sesama muslim saling mencaci dan memusuhi.
Sebagaimana dikatakan Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar: “Ayat ini mengajarkan toleransi dalam prinsip yang tak bisa dinegosiasi. Kita boleh hidup rukun dengan siapa pun, asalkan iman kita tidak tergadaikan.”
Kasih Sayang Sebagai Inti
Dalam ayat yang sama, QS Al-Fath [48]:29, Allah menyebut:
وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ مِنْهُمْ… ٢٩
“…penyayang di antara mereka sendiri.”
Ayat ini seharusnya menjadi cermin bagi umat Islam hari ini: menebar kasih sayang di dalam, tegas terhadap kezaliman di luar. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Persaudaraan muslim retak karena ego, sementara kezaliman dibiarkan karena rasa takut atau kepentingan duniawi.
Kebenaran dan Rahmat Semesta
Surat Al-Kafirun dan Al-Fath sama-sama mengajarkan keseimbangan. Tegas terhadap kezaliman, namun penuh kasih kepada manusia. Dalam prinsip kita tidak boleh goyah, tetapi dalam kemanusiaan kita tidak boleh hilang akhlak.
Umat Islam perlu kembali memahami pesan Al-Qur’an secara utuh: bahwa tugas kita bukanlah menyulut permusuhan, melainkan menjadi saksi bagi kebenaran dan rahmat bagi semesta.
Seperti pesan Nabi Muhammad ﷺ:
“Tidak beriman salah seorang di antara kalian sampai ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari & Muslim)
Mari kita pelihara iman dengan tegas, dan pelihara kasih sayang dengan tulus. Untukmu agamamu, untukku agamaku. Tetapi untuk kita semua: kemanusiaan yang adil dan beradab.(emha)



























