Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Bertakwa dengan Visi dan Misi: Ciri Orang Bertakwa dalam Al-Qur’an

373
×

Bertakwa dengan Visi dan Misi: Ciri Orang Bertakwa dalam Al-Qur’an

Share this article

Penulis: emha| Editor; asyary|

ppmindonesia.com.Jakarta – Kata takwa sudah begitu akrab di telinga kita. Hampir setiap khutbah, ceramah, atau tulisan agama tak pernah lupa menyebutnya. Sayangnya, sering kali kita hanya mengulang definisi populer:

“melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”, tanpa benar-benar memahami apa ciri orang bertakwa menurut Al-Qur’an itu sendiri.

Buya Syakur Yasin, pengasuh Pesantren Cadang Pinggan Indramayu, dalam sebuah kajian Fidhralil Qur’an menyampaikan kritik:

“Kalau definisi takwa hanya itu-itu saja, hanya ritual perintah dan larangan, lantas mengapa Al-Qur’an sampai menyebut takwa sebagai wasiat bagi semua umat manusia, bahkan sebelum Islam? Itu berarti ada makna yang lebih luas, yang lebih dalam.”

 …وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلِكُمْ وَاِيَّاكُمْ اَنِ اتَّقُوا اللّٰهَۗ…۝١٣١

Allah berfirman:

“Dan sungguh, Kami telah mewasiatkan kepada orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan juga kepada kamu, bertakwalah kepada Allah.” (QS An-Nisa’:131).

Ayat ini menunjukkan bahwa takwa bukan hanya untuk Muslim, tetapi juga untuk umat-umat sebelumnya, yang menerima Taurat, Zabur, dan Injil. Artinya, takwa adalah nilai universal, bukan hanya soal syariat yang spesifik.

Lalu bagaimana Al-Qur’an menggambarkan orang bertakwa? Dalam pembukaan surah Al-Baqarah, Allah dengan tegas menyebut ciri-ciri mereka:

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ ۝٢الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ ۝٣وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَآ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَۗ ۝٤

“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, yaitu mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada wahyu yang diturunkan kepadamu, juga wahyu yang diturunkan sebelum kamu, serta mereka yakin akan adanya akhirat.” (QS Al-Baqarah:2–4).

Ada visi, ada misi. Visi mereka jauh ke depan: yu’minuna bil ghaib — meyakini hal-hal yang tidak kasat mata, termasuk kehidupan setelah mati. Mereka punya komunikasi yang baik dengan Allah dan manusia: yuqimuna ash-shalah, menjaga hubungan vertikal dengan shalat dan yunfiqun, berbagi rezeki dengan sesama. Mereka juga terbuka dan toleran terhadap wahyu-wahyu Allah sebelumnya, sehingga tidak fanatik buta.

Prof. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menulis:

“Takwa bukan sekadar takut pada Allah, melainkan sikap batin yang melahirkan perilaku terukur, bijak, dan penuh kesadaran akan visi hidup menuju akhirat.”

Jadi, takwa bukan sekadar kepatuhan mekanis. Ia adalah perjalanan spiritual yang terencana, punya visi ke depan, misi sosial yang nyata, dan hati yang terbuka.

Sudah saatnya kita memahami takwa bukan sekadar menghitung-hitung dosa dan pahala secara ritualistik, tetapi merancang hidup dengan visi dan misi yang selaras dengan nilai-nilai ilahi: menjaga diri, menjaga sesama, dan menjaga bumi.

Seperti pesan Sayyidina Umar bin Khattab ketika ditanya tentang takwa:

“Takwa itu seperti berjalan di jalan yang penuh duri. Engkau melangkah dengan hati-hati, menghindari duri, tapi tetap melangkah menuju tujuan.”

Mari kita jadikan takwa sebagai visi besar kita: hidup yang penuh makna, memberi manfaat, dan menuju perjumpaan dengan Allah dalam keadaan terbaik. (emha)

 

Example 120x600