ppmindonesia.com. Kuala Lumpur, — Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Nasional Indonesia dan PPM Madani Malaysia sepakat merintis kerja sama pengembangan Padi Eco Tourism sebagai proyek percontohan di kawasan Asia Tenggara. Kesepakatan itu terjalin dalam lawatan delegasi PPM Indonesia ke Malaysia pada 21–24 Agustus 2025 yang dipimpin Sekretaris Jenderal Anwar Haryono dan Bendahara Nasional Bambang Sumadji.
Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari rangkaian diskusi sejak 2023 dan berakar dari Workshop PPM Madani pada September 2024. Forum yang diikuti perwakilan dari Brunei, Thailand, Malaysia, Indonesia, dan Singapura itu merekomendasikan penguatan kerja sama pertanian sebagai jembatan kebersamaan masyarakat Melayu serumpun.
Wisata edukasi padi di MARDI
Salah satu agenda utama adalah merintis padi eco tourism di kawasan Malaysian Agricultural Research and Development Institute (MARDI) Kuala Lumpur. Lembaga riset dan pengembangan milik Kementerian Pertanian Malaysia itu memiliki area seluas 150 hektar yang kini diproyeksikan sebagai kawasan wisata edukasi berbasis pertanian.
PPM Madani Malaysia memperoleh konsesi dua hektar lahan untuk mengembangkan program wisata edukasi padi. “Konsep ini bukan sekadar wisata, tetapi wahana pembelajaran bagi anak-anak dan keluarga untuk memahami proses menanam padi dari awal hingga panen,” kata Anwar Haryono.
Di Indonesia, PPM mengusulkan dua lokasi sebagai pilot project, yakni Ciawi dan Sumedang, Jawa Barat. Pertemuan lanjutan dengan Institut Pengembangan Masyarkat (IPAMA) dijadwalkan pada September 2025 untuk membahas langkah teknis implementasi.
Sinergi lebih luas
Selain padi, kerja sama juga mencakup budidaya ikan lele dan nila serta pengembangan bisnis kelapa. Bambang Sumadji, pelaku usaha budidaya lele dari Kediri, Jawa Timur, yang berpengalaman lebih dari dua dekade, menyatakan kesiapannya berbagi pengalaman dengan mitra Malaysia. Usaha yang kini diteruskan anaknya, Yudha, mampu memproduksi sekitar satu juta ekor lele setiap bulan dari 1.500 tangki.
Rencana perluasan pasar juga menjadi pembahasan. Anwar menyebut kebutuhan jagung di Malaysia sangat besar, sebagian untuk konsumsi domestik di impor dari ke China. “Selama ini, dari Pontianak sudah ada ekspor kelapa ke Thailand. Kami ingin memperkuat jalur ini, termasuk pengiriman jagung dari Jawa Timur ke Pelabuhan Klang, Kuala Lumpur,” ujarnya.
Menguatkan jejaring kawasan
Diskusi berlanjut pada Jumat (23/8) dengan fokus pada industri kelapa. PPM Indonesia dan Malaysia berharap kolaborasi ini tidak hanya membuka peluang ekonomi, tetapi juga menjadi model penguatan jejaring pertanian serumpun.
“Ekspansi serumpun ini diharapkan dapat mempererat masyarakat Melayu di Asia, sekaligus menjawab tantangan ketahanan pangan dan pariwisata edukatif di kawasan,” ujar Zulkafi Daud dari PPM Madani Malaysia.(acank)



























