Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Siapa Penentu Nasib Kita: Allah atau Kita Sendiri?

270
×

Siapa Penentu Nasib Kita: Allah atau Kita Sendiri?

Share this article

Penulis; emha | Editor: asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Pertanyaan ini terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya ia menggelisahkan banyak orang: siapa sebenarnya yang menentukan nasib kita, Allah atau kita sendiri?

Bagi sebagian orang, jawabannya jelas: manusialah penentu nasibnya. Kita sering mendengar ungkapan populer: “Nasib kita ada di tangan kita sendiri.” Bahkan, ayat Al-Qur’an yang berbunyi:

..اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْۗ…۝١١

 “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri” (QS. Ar-Ra’d:11),

Sering dijadikan landasan untuk meyakini bahwa semua sepenuhnya berada di tangan kita.

Namun, bila kita telaah lebih dalam, ayat itu tidak serta merta menegaskan kebebasan mutlak manusia. Ayat itu justru mengingatkan bahwa dalam ruang lingkup yang sudah Allah tetapkan, manusia punya kewajiban untuk berusaha. Bukan berarti manusia berkuasa penuh atas segala hal dalam hidupnya.

Dua Kutub Ekstrem

Persoalan ini sudah lama diperdebatkan. Kaum Jabariyah berpendapat manusia tidak punya daya dan kehendak; semua sudah digariskan, manusia hanyalah wayang yang digerakkan. Sebaliknya, kaum Mu’tazilah beranggapan manusia punya kebebasan mutlak, sehingga bertanggung jawab penuh tanpa campur tangan Tuhan.

Namun, pemahaman yang lebih seimbang disampaikan oleh Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Imam Al-Ghazali, misalnya, menyatakan:

“Manusia itu diberi kemampuan memilih dalam batas yang Allah kehendaki. Kehendaknya ada, tetapi tetap tunduk pada takdir Allah.”

Dalam kehidupan nyata, kita melihat bagaimana banyak hal terjadi di luar kuasa kita. Kita tidak pernah memilih untuk lahir di rahim siapa, pada tahun berapa, di negeri mana. Kita juga tidak bisa menentukan kapan dan dengan cara apa kita mati.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاۤءُ وَيَخْتَارُۗ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُۗ.. ۝٦٨

 “Dan Tuhanmu menciptakan apa yang Dia kehendaki dan memilihnya. Sekali-kali tidak ada bagi mereka pilihan.” (QS. Al-Qashash:68)

Ayat ini menegaskan bahwa hakikatnya, Allah yang menentukan. Namun, di sisi lain, kita memang diberi ruang untuk berusaha dan memilih dalam lingkup yang sudah Allah tetapkan.

Batas Ikhtiar

Fazlur Rahman, seorang pemikir Muslim kontemporer, menyebut ini sebagai keseimbangan antara kebebasan terbatas manusia dan kehendak absolut Tuhan. Kebebasan kita bukan untuk memaksa Allah mengikuti kemauan kita, tetapi untuk memenuhi tanggung jawab sebagai makhluk yang diberi akal dan kemampuan.

Nabi Muhammad ﷺ pernah ditanya oleh seorang sahabat: “Ya Rasulullah, apakah kita pasrah saja karena semuanya sudah ditentukan?” Nabi menjawab: “Beramallah kalian, karena masing-masing dimudahkan sesuai takdirnya.” (HR. Muslim)

Hadis ini memberi pesan penting: manusia tetap harus berusaha, tetapi hasil akhirnya tetap milik Allah.

Jangan Menyalahkan Takdir, Jangan Menyombongkan Ikhtiar

Kesalahan banyak orang adalah jatuh ke salah satu kutub: terlalu menyalahkan takdir sehingga malas berusaha, atau terlalu sombong dengan usaha sendiri hingga lupa pada Tuhan.

Padahal, seharusnya kita memahami bahwa takdir bukanlah alasan untuk menyerah, dan ikhtiar bukan alasan untuk angkuh. Tuhanlah yang menentukan, tetapi Dia memerintahkan kita untuk tetap berusaha.

Dalam QS. At-Takwir:29 Allah mengingatkan:

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ… ۝٢٩

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali jika dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.”

Di hadapan realitas ini, yang paling tepat adalah sikap rendah hati: bekerja keras sambil tetap bergantung pada Allah, tidak menyalahkan-Nya ketika gagal, dan tidak menyombongkan diri ketika berhasil.

Akhir Kata

Jadi siapa penentu nasib kita? Jawabannya: keduanya. Kita berperan dalam menentukan nasib kita, tetapi dalam ruang yang sudah digariskan oleh Allah. Kita tidak sepenuhnya bebas, tetapi juga tidak sepenuhnya terpaksa.

Ikhtiar adalah kewajiban, hasil adalah rahasia Tuhan.

Semoga kita menjadi hamba yang berikhtiar dengan sungguh-sungguh, tetapi tetap berserah diri dan ridha pada kehendak-Nya. Karena pada akhirnya, nasib kita tetap berada dalam genggaman-Nya.

… قُلْ اِنَّ الْاَمْرَ كُلَّهٗ لِلّٰهِۗ يُخْ…۝١٥٤

 “… Sesungguhnya urusan itu semuanya milik Allah…” (QS. Ali Imran:154) (emha)

 

Example 120x600