Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Dari Sawah untuk Masa Depan: Mengapa Bertani Harus Jadi Pilihan Utama Anak Muda

247
×

Dari Sawah untuk Masa Depan: Mengapa Bertani Harus Jadi Pilihan Utama Anak Muda

Share this article

Penulis ; acank | Editor ; asyary |

ppmindonesia.com.JakartaBertani bukan sekadar urusan cangkul dan lumpur. Di tengah krisis iklim, lonjakan harga pangan, dan tantangan ketahanan pangan nasional, profesi petani memegang peran vital yang justru makin strategis. Namun, ironisnya, semakin sedikit generasi muda yang memandang pertanian sebagai jalan hidup masa depan. Padahal, masa depan Indonesia sebagian besar ditentukan oleh bagaimana kita memperlakukan sektor ini hari ini.

Pertanian: Pilar yang Terabaikan

Indonesia adalah negeri agraris. Lebih dari 30% wilayah daratannya digunakan untuk kegiatan pertanian, dan sektor ini menyerap hampir sepertiga dari total angkatan kerja nasional. Namun, sektor ini juga menjadi salah satu yang paling rentan—baik secara ekonomi maupun regenerasi pelaku.

Menurut data BPS Sensus Pertanian 2023, jumlah petani berusia muda (di bawah 35 tahun) hanya sekitar 2,7 juta jiwa dari total hampir 30 juta pelaku usaha tani. Lebih memprihatinkan, rata-rata usia petani nasional kini mencapai 52 tahun, dan terus menua setiap tahunnya.

Tanpa langkah konkret, dalam 10–15 tahun mendatang, kita bisa menghadapi kelangkaan tenaga kerja pertanian yang mengancam produksi pangan nasional.

Apa yang Membuat Anak Muda Menjauh dari Sawah?

  1. Citra Bertani yang “Ketinggalan Zaman”

Di mata banyak anak muda, bertani masih identik dengan kerja fisik berat, penghasilan kecil, dan masa depan yang suram. Bertani dianggap bukan profesi yang menjanjikan, apalagi bergengsi. Bahkan banyak lulusan perguruan tinggi pertanian pun memilih bekerja di sektor lain setelah lulus.

  1. Keterbatasan Akses Lahan dan Modal

Mayoritas petani muda tak memiliki lahan sendiri. Lahan pertanian warisan keluarga pun terus menyusut karena alih fungsi. Selain itu, minimnya akses pada kredit dan subsidi membuat mereka sulit memulai usaha tani secara mandiri.

  1. Sistem Pendidikan Pertanian yang Tak Kontekstual

Kurikulum pertanian di banyak institusi pendidikan belum sepenuhnya mampu menjawab tantangan pertanian modern. Masih terlalu banyak teori, terlalu sedikit praktik, dan minim integrasi dengan teknologi digital serta model bisnis pertanian yang adaptif.

  1. Pasar yang Tidak Adil

Petani kerap menjadi pihak yang paling tidak diuntungkan dalam rantai pasok pangan. Harga hasil tani tidak stabil, dan mereka kerap tidak memiliki posisi tawar terhadap tengkulak atau pasar besar.

Namun, Bertani Bisa Jadi Pilihan Masa Depan

Di balik tantangan itu, ada gelombang optimisme baru yang mulai tumbuh. Revolusi teknologi digital, tren konsumsi sehat, dan krisis pangan global justru membuka peluang baru bagi anak muda untuk masuk ke dunia pertanian secara berbeda—lebih modern, berbasis data, dan bernilai ekonomi tinggi.

“Pertanian saat ini bukan lagi hanya urusan menanam dan memanen. Ini tentang manajemen, inovasi, dan ketangguhan menghadapi perubahan iklim dan pasar,” kata Dr. Sahat Sinaga, Direktur Eksekutif Dewan Minyak Sawit Indonesia. Menurutnya, generasi muda dengan latar belakang teknologi dan bisnis sangat dibutuhkan untuk mendorong transformasi pertanian nasional.

Inovasi seperti pertanian presisi, urban farming, smart farming, hingga e-commerce produk pangan lokal kini menjadi pintu masuk baru yang lebih sesuai dengan gaya hidup dan pola pikir generasi muda.

Contohnya, startup agritech seperti eFishery, TaniHub, dan Kedai Sayur telah membuktikan bahwa pertanian bisa menjadi lahan bisnis yang menjanjikan—bahkan mendatangkan investor dan menciptakan lapangan kerja digital bagi petani dan nelayan.

Langkah Nyata yang Harus Dipercepat

Agar bertani benar-benar menjadi pilihan utama anak muda, diperlukan keberpihakan nyata dari pemerintah dan pemangku kepentingan. Beberapa kebijakan yang bisa didorong antara lain:

  1. Program kepemilikan atau sewa lahan jangka panjang bagi petani muda.
  2. Kredit usaha tani tanpa agunan untuk pemula, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) khusus agribisnis.
  3. Revitalisasi pendidikan vokasi pertanian dengan kurikulum yang terhubung dengan dunia kerja dan teknologi.
  4. Akses pada digitalisasi dan pasar online, agar petani muda bisa menjangkau konsumen secara langsung.
  5. Insentif fiskal dan promosi publik untuk menjadikan petani sebagai profesi bergengsi.

Masa Depan Bangsa Tertanam di Sawah

Memuliakan profesi petani bukan hanya soal romantisme. Ini soal menyelamatkan masa depan bangsa. Dengan populasi yang terus tumbuh, tantangan iklim yang semakin nyata, dan ketergantungan pangan impor yang rawan, Indonesia tidak punya pilihan selain memperkuat fondasi pertaniannya.

Dan itu hanya mungkin jika generasi muda diberi tempat, dukungan, dan ruang untuk berkembang di sektor ini

Saatnya mengubah paradigma: bertani bukan profesi pilihan terakhir—tapi langkah sadar untuk membangun masa depan yang mandiri, berdaulat, dan lestari.(acank)

 

Example 120x600