Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Sudah Adilkah Kita? Al-Qur’an Menjawab Soal Keadilan yang Terlupakan

227
×

Sudah Adilkah Kita? Al-Qur’an Menjawab Soal Keadilan yang Terlupakan

Share this article

Penulis: syahida| Editor: asyary|

ppmindonesia.com.Bogor– Dalam kehidupan sehari-hari, kata “adil” mudah diucapkan namun seringkali sulit diwujudkan dalam tindakan nyata. Mulai dari skala keluarga, lingkungan kerja, hingga kebijakan publik, ketidakadilan kerap muncul dalam bentuk yang halus maupun terang-terangan.

Lantas, bagaimana sebenarnya Al-Qur’an mendefinisikan dan menuntun umatnya untuk menegakkan keadilan yang sesungguhnya?

Husni Nasution, dalam kajian khusus di kanal Syahida, menyoroti bahwa Al-Qur’an menempatkan keadilan bukan hanya sebagai nilai sosial, tetapi sebagai pilar keimanan yang fundamental. “Keadilan dalam Al-Qur’an bersifat mutlak dan tidak terkecuali.

Ia adalah perintah langsung dari Allah SWT yang harus ditegakkan bahkan terhadap diri sendiri dan orang yang kita benci,” tegasnya.

Keadilan yang Tak Kenal Kompromi: Berlaku Adil Meski Terasa Pahit

Husni mengutip QS An-Nisa [4]:135 sebagai landasan utama yang sangat jelas dan tegas: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاۤءَ لِلّٰهِ وَلَوْ عَلٰٓى اَنْفُسِكُمْ اَوِ الْوَالِدَيْنِ وَالْاَقْرَبِيْنَۚ اِنْ يَّكُنْ غَنِيًّا اَوْ فَقِيْرًا فَاللّٰهُ اَوْلٰى بِهِمَاۗ فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوٰٓى اَنْ تَعْدِلُوْاۚ…۝١٣٥

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu. Jika dia kaya atau miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran…”

“Perhatikanlah ayat ini,” ujar Husni. “Allah memerintahkan kita untuk berbuat adil dimulai dari yang paling sulit: terhadap diri sendiri dan orang terdekat. Ini adalah ujian keadilan yang sesungguhnya. 

Seringkali kita mudah menuntut keadilan untuk diri kita tetapi tutup mata terhadap kesalahan sendiri atau membela keluarga yang jelas-jelas bersalah. Inilah keadilan yang sering terlupakan – keadilan yang meminta kita untuk melawan kecintaan buta dan kebencian buta.”

Keadilan dalam Persaksian: Jangan Bunuh Bukti dengan Prasangka

Prinsip kedua yang ditekankan Husni adalah keadilan dalam persaksian. Allah berfirman dalam QS Al-Ma’idah [5]: 8: 

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُوْنُوْا قَوَّامِيْنَ لِلّٰهِ شُهَدَاۤءَ بِالْقِسْطِۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَاٰنُ قَوْمٍ عَلٰٓى اَلَّا تَعْدِلُوْاۗ اِعْدِلُوْاۗ هُوَ اَقْرَبُ لِلتَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَ…۝٨.

“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…”

“Hate crime, prasangka buruk terhadap suatu kelompok, hoaks, dan fitnah yang merajalela di media sosial adalah bentuk nyata pengingkaran terhadap ayat ini,” papar Husni. 

“Allah memerintahkan untuk bersaksi dengan adil, artinya berdasarkan fakta dan data, bukan berdasarkan dengki atau kebencian. Keadilan harus ditegakkan meski terhadap musuh sekalipun. Inilah ujian ketakwaan kita yang sebenarnya.”

Keadilan Sosio-Ekonomi: Melampaui Keadilan Procedural

Husni Nasution juga mengingatkan bahwa keadilan dalam Al-Qur’an tidak hanya bersifat prosedural atau di pengadilan, tetapi juga substantif, termasuk dalam bidang ekonomi. “Lihatlah perintah zakat, larangan riba, dan anjuran untuk memberikan pinjaman tanpa bunga (QS Al-Baqarah [2]: 275-280). Ini semua adalah instrumen keadilan ekonomi.

Tujuannya agar harta tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja (QS Al-Hasyr [59]: 7),” jelasnya.

“Ketika kita melihat kesenjangan yang sangat lebar, eksploitasi tenaga kerja, atau praktik bisnis yang curang, maka sebagai muslim kita harus bertanya: Sudah adilkah kita? Sudahkah kita menjalankan peran sebagai penegak keadilan ekonomi sesuai perintah-Nya?”

Refleksi untuk Diri dan Masyarakat

Menutup kajian, Husni mengajak setiap muslim untuk melakukan muhasabah diri. “Keadilan dimulai dari diri sendiri.Sudah adilkah kita sebagai orang tua terhadap semua anak? Sudah adilkah kita sebagai atasan terhadap bawahan? Sudah adilkah kita dalam menilai suatu informasi sebelum menyebarkannya?

Dan yang paling penting, sudah adilkah kita dalam menunaikan hak-hak Allah dan hak-hak sesama manusia?”

“Menegakkan keadilan adalah kewajiban yang tidak bisa kita tawar. Ia adalah manifestasi dari ketakwaan dan bukti kecintaan kita kepada Allah. Di akhirat nanti, keadilan yang sering kita lupakan di dunia ini akan ditegakkan dengan sempurna. 

Maka, berjuanglah untuk menegakkannya di dunia, sebelum kita semua dimintai pertanggungjawaban atas setiap ketidakadilan yang kita lakukan,” pungkas Husni Nasution.

Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya sekadar berbicara tentang keadilan dalam ruang hampa, tetapi memberikan panduan operasional yang konkret untuk dijalankan dalam kehidupan keseharian, menantang setiap muslim untuk terus bertanya pada dirinya sendiri: Sudah adilkah saya? (syahida)

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial. 
Example 120x600