ppmindonesia.com.Bogor — Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang kehidupan akhirat, tetapi juga memberi petunjuk mendalam tentang bagaimana manusia seharusnya mengelola bumi.
Salah satu wacana menarik yang mengemuka dalam kajian Qur’an bil Qur’an oleh Husni Nasution di kanal Syahida adalah tafsir atas istilah ashabul jannah (para penghuni kebun) dan ashabunnar (para penjaga api).
Kedua istilah ini kerap dipahami semata-mata sebagai gambaran surga dan neraka di akhirat. Namun, jika ditelusuri melalui konteks ayat-ayat Qur’an, keduanya juga dapat dimaknai sebagai simbol dua model tata kelola kehidupan di bumi.
Bumi, Hujan, dan Kebun
Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa bumi dihamparkan agar manusia hidup, bercocok tanam, dan mengelola alam secara bijak. Dalam QS Qaf [50]:7-9, Allah berfirman:
وَٱلۡأَرۡضَ مَدَدۡنَٰهَا وَأَلۡقَيۡنَا فِيهَا رَوَٰسِيَ وَأَنۢبَتۡنَا فِيهَا مِن كُلِّ زَوۡجِۭ بَهِيجٖ ٧ وَتَبۡصِرَةٗ وَذِكۡرَىٰ لِكُلِّ عَبۡدٖ مُّنِيبٖ ٨ وَنَزَّلۡنَا مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ مُّبَٰرَكٗا فَأَنۢبَتۡنَا بِهِۦ جَنَّٰتٖ وَحَبَّ ٱلۡحَصِيدِ ٩
Artinya: “Dan bumi itu Kami hamparkan serta Kami pancangkan padanya gunung-gunung, dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah. Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi setiap hamba yang kembali. Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh berkah, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun (jannāt) dan biji-bijian yang dapat dipanen.”
Kata jannāt dalam ayat ini jelas berarti kebun-kebun di bumi, bukan surga ukhrawi. Dari sini, lahirlah konsep ashabul jannah sebagai simbol mereka yang menjaga bumi tetap hijau, subur, dan lestari.
Api dan Eksploitasi Energi
Sebaliknya, istilah naar tidak selalu bermakna neraka. Dalam QS al-Muddatsir [74]:31, Allah berfirman:
وَمَا جَعَلۡنَا أَصۡحَٰبَ ٱلنَّارِ إِلَّا مَلَٰٓئِكَةٗۖ.. ٣١
Artinya: “Dan tidaklah Kami jadikan penjaga an-nār itu kecuali para malaikat.”
Jika dipahami secara literal sebagai neraka, maka “ashabunnar” dalam ayat ini berarti malaikat penghuni neraka, padahal jelas malaikat bukan penghuni neraka. Maka lebih tepat memaknainya sebagai pengelola energi (api).
Dari sudut pandang ini, ashabunnar dapat dimaknai sebagai simbol pola peradaban berbasis eksploitasi energi yang membakar dan menguras sumber daya bumi. Sistem ini menghasilkan kemajuan sesaat, tetapi meninggalkan kerusakan lingkungan, polusi, dan kehancuran ekosistem.
Dua Pilihan Peradaban
Maka, Al-Qur’an seolah menampilkan dua model peradaban di hadapan manusia:
- Peradaban Ashabul Jannah
– Mengelola bumi dengan pola kebun dan taman, menjaga keseimbangan ekologi, memanfaatkan sumber daya secara terbatas, dan melestarikan bumi sebagai hunian bersama.
- Peradaban Ashabunnar
– Mengeksploitasi bumi dengan pola energi, membakar sumber daya secara berlebihan, mengorbankan keberlanjutan demi keuntungan sesaat, hingga akhirnya meninggalkan bumi yang hangus.
Kedua pola ini tidak menafikan adanya surga dan neraka akhirat. Sebab Al-Qur’an tetap menegaskan bahwa pada hari kiamat, bumi ini akan diganti dengan bumi yang lain. Dalam QS Ibrahim [14]:48 disebutkan:
يَوۡمَ تُبَدَّلُ ٱلۡأَرۡضُ غَيۡرَ ٱلۡأَرۡضِ وَٱلسَّمَٰوَٰتُ وَبَرَزُواْ لِلَّهِ ٱلۡوَٰحِدِ ٱلۡقَهَّارِ.. ٤٨
Artinya: “(Yaitu) pada hari bumi diganti dengan bumi yang lain, dan demikian pula langit, dan mereka semuanya berkumpul menghadap Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa.”
Pesan untuk Masa Depan
Husni Nasution menegaskan, membaca istilah ashabul jannah dan ashabunnar secara simbolik memberi kita perspektif baru tentang masa depan bumi. Apakah umat manusia memilih jalan “taman” yang hijau, atau jalan “api” yang membakar?
“Al-Qur’an bukan sekadar kitab ritual, melainkan pedoman hidup yang memberi arah bagi peradaban. Pilihan ada di tangan kita: menjadi pengelola bumi yang beradab, atau menjadi perusak bumi yang menanggung akibatnya,” ujarnya.
Sebagai Penutup
Pesan Al-Qur’an ini relevan di tengah krisis iklim global. Jika umat manusia terus berada dalam pola ashabunnar, bumi akan kehilangan keseimbangannya. Namun, jika pola ashabul jannah yang dipilih, maka masih ada harapan untuk masa depan planet yang hijau dan lestari.
Dengan demikian, istilah ashabul jannah dan ashabunnar bukan sekadar kisah metafisik, tetapi juga peringatan ekologis tentang bagaimana manusia seharusnya menjaga bumi yang menjadi amanah Tuhan.(syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur'an. Ia dikenal dengan konsep 'Nasionalisme Religius' yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























