Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ketika Jannah Bukan Surga dan Naar Bukan Neraka: Membaca Tanda-Tanda Qur’an

218
×

Ketika Jannah Bukan Surga dan Naar Bukan Neraka: Membaca Tanda-Tanda Qur’an

Share this article

Penulis: syahida | Editor; asyary

ppmindonesia.com.Bogor – Selama berabad-abad, umat Islam mewarisi pemahaman bahwa istilah jannah dan naar dalam Al-Qur’an identik dengan surga dan neraka di akhirat.

Namun, kajian Qur’an bil Qur’an yang dibawakan Husni Nasution di kanal Syahida menantang pakem lama tersebut. Menurutnya, Al-Qur’an menghadirkan makna yang lebih luas, bahkan kontekstual, tentang dua istilah tersebut.

“Jika kita membaca Al-Qur’an secara utuh, jannah dan naar bukan sekadar narasi pasca-kematian, tetapi sistem kehidupan di bumi yang bisa kita rasakan akibat perbuatan manusia,” ujar Husni.

Jannah: Sebuah Sistem Kehidupan yang Damai

Dalam banyak ayat, jannah digambarkan sebagai kehidupan yang penuh kelimpahan, keteraturan, dan kedamaian sosial. Salah satu rujukannya terdapat dalam QS Al-Baqarah [2]:25:

 وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ

“Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka adalah taman-taman yang mengalir di bawahnya sungai-sungai…”

Menurut Husni, gambaran sungai-sungai yang mengalir adalah simbol dari keteraturan sistem sosial-ekonomi yang menyejahterakan semua orang.

“Jannah adalah kondisi masyarakat yang hidup dalam keadilan, distribusi sumber daya yang merata, serta harmonis dengan alam,” jelasnya.

Naar: Api Kehancuran yang Diciptakan Manusia

Sebaliknya, naar seringkali dikaitkan dengan kerusakan dan penderitaan akibat kezaliman manusia. QS Al-Baqarah [2]:206 menyinggung tentang orang yang menolak kebenaran dan menebar kerusakan:

 وَإِذَا قِيلَ لَهُ اتَّقِ اللَّهَ أَخَذَتْهُ الْعِزَّةُ بِالْإِثْمِ فَحَسْبُهُ جَهَنَّمُ ۚ وَلَبِئْسَ الْمِهَادُ

“Dan apabila dikatakan kepadanya: ‘Bertakwalah kepada Allah,’ kesombongannya mendorongnya berbuat dosa. Maka cukuplah baginya Jahannam, dan sungguh neraka Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”

Husni menekankan, api (naar) yang disebut di sini dapat dimaknai sebagai sistem sosial yang rusak: korupsi, tirani, eksploitasi alam, dan ketidakadilan.

“Kita bisa lihat sekarang, kerusakan ekologi, krisis iklim, perang, dan penindasan adalah wajah kontemporer dari naar,” katanya.

Membaca Tanda-Tanda Kehidupan

Pandangan ini mengajak umat Islam untuk membaca ulang tanda-tanda Al-Qur’an (āyāt) dalam realitas kehidupan. QS Al-‘Imran [3]:191 menyebut:

 الَّذِينَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُونَ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ

“(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau berbaring, dan mereka memikirkan penciptaan langit dan bumi…”

Menurut Husni, tafakur itu harus membawa kesadaran bahwa jannah dan naar adalah konsekuensi dari sistem yang manusia bangun.

“Jika kita menegakkan keadilan, kita sedang menciptakan jannah. Jika kita abai dan zalim, maka kita sedang mengundang naar ke bumi,” ujarnya.

Relevansi bagi Dunia Modern

Pendekatan baru ini menuntut perubahan paradigma: tidak lagi menunda makna jannah dan naar hanya untuk kehidupan setelah mati, melainkan menghadirkannya dalam sistem politik, sosial, ekonomi, dan ekologi dunia saat ini.

“Qur’an mengingatkan, bumi ini bisa menjadi surga atau neraka tergantung bagaimana kita mengelolanya,” pungkas Husni.(syahida)

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur'an. Ia dikenal dengan konsep 'Nasionalisme Religius' yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.
Example 120x600