ppmindonesia.com. Jakarta — Kajian Qur’an bil Qur’an di kanal Syahida kali ini mengangkat tafsir mendalam tentang makna keberlanjutan hidup dalam perspektif Al-Qur’an.
Narasumber Husni Nasution menyoroti ayat-ayat yang menggambarkan surga dengan ungkapan seluas langit dan bumi, sebagai isyarat penting bagi manusia dalam mengelola kehidupan di dunia.
Husni merujuk pada QS Ali Imran [3]:133:
﴿وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ﴾
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”
Menurut Husni, gambaran ini mengandung pesan kosmologis. Surga tidak dipersempit dalam bentuk taman kecil, melainkan digambarkan sebesar jagat raya.
“Artinya, konsep keberlanjutan hidup yang ditawarkan Qur’an bukan sekadar ruang individual, tetapi menyangkut tata kelola bumi dan langit. Di sinilah pentingnya manusia menjaga keseimbangan ekosistem,” jelasnya.
Dua Pola Tata Kelola Bumi
Husni mengaitkan ayat tersebut dengan QS Hud [11]:107–108, yang menyebutkan penghuni neraka dan surga kekal selama masih ada langit dan bumi:
﴿خَالِدِينَ فِيهَا مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ﴾
“Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi.”
Ayat ini, menurut Husni, memberi gambaran bahwa keberlangsungan bumi dan langit memiliki hubungan langsung dengan pilihan manusia. Ada dua pola tata kelola yang digambarkan Qur’an:
- Pola Serba Energi (Ashabunnar) – eksploitasi besar-besaran yang berujung pada kehancuran bumi.
- Pola Serba Kebun (Ashabul Jannah) – eksplorasi berimbang yang menjaga bumi tetap hijau dan lestari.
“Jika manusia menempuh pola ashabunnar, maka bumi akan cepat panas dan habis terbakar. Tetapi jika menempuh pola ashabul jannah, maka bumi akan lestari, selaras dengan gambaran surga yang luasnya langit dan bumi,” ujar Husni.
Bumi yang Diganti
Lebih lanjut, Husni mengingatkan firman Allah dalam QS Ibrahim [14]:48:
﴿يَوْمَ تُبَدَّلُ الْأَرْضُ غَيْرَ الْأَرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ﴾
“(Ingatlah) pada hari ketika bumi diganti dengan bumi yang lain, begitu pula langit.”
Menurutnya, ayat ini memperlihatkan bahwa bumi yang kita tempati sekarang bukanlah tempat abadi. Keberlanjutan hidup sejati terletak pada kesadaran manusia untuk menyiapkan diri menuju kehidupan baru yang penuh keadilan, keseimbangan, dan kelestarian.
Akhir Kajian
Kajian ini menegaskan, surga yang seluas langit dan bumi bukan hanya janji ukhrawi, tetapi juga pesan ekologis. “Qur’an mengingatkan kita agar tidak merusak bumi, karena keberlanjutan hidup adalah syarat menuju kebahagiaan abadi. Surga seluas langit dan bumi menunggu mereka yang mampu menjaga bumi dengan amanah,” pungkas Husni.
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur'an. Ia dikenal dengan konsep 'Nasionalisme Religius' yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























