ppmindonesia,com,Jakarta – Delapan dekade Indonesia merdeka, biaya triliunan rupiah digelontorkan setiap tahun untuk mengobati penyakit sosial: dari pengamanan dengan jumlah aparat yang besar, peradilan yang kompleks, hingga biaya hidup jutaan narapidana. Namun pertanyaan mendasar terus muncul: mengapa bangsa ini masih sibuk mengobati, bukan menjaga?
Husni Nasution dalam kajian Qur’an bil Qur’an di Kanal Syahida mengingatkan, Al-Qur’an telah lama menawarkan solusi preventif. Kuncinya adalah rahmat Allah yang mampu menghilangkan kecenderungan jahat dalam diri manusia.
Nafsu Jahat dan Rahmat Allah
Manusia memang membawa potensi buruk dalam dirinya. Nabi Yusuf AS mengakui hal itu dalam doanya:
> ﴿وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ﴾
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yūsuf [12]:53)
Ayat ini menegaskan, akar kejahatan bukanlah faktor eksternal semata, melainkan dorongan nafsu internal. Dan obat pencegahnya bukan sekadar hukum atau aparat, tetapi rahmat Allah yang mampu menundukkan nafsu itu.
Hati yang Disatukan oleh Rahmat
Qur’an bahkan menyingkap bagaimana rahmat Allah mampu menyatukan hati yang penuh kebencian dan permusuhan.
> ﴿وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ … وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ الرَّٰشِدُونَ﴾
“Ketahuilah bahwa di tengah-tengah kamu ada Rasul Allah… Akan tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada iman dan menghiasinya dalam hatimu serta menjadikanmu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS Al-Ḥujurāt [49]:7)
Dengan rahmat Allah, keburukan yang melekat pada diri manusia bisa berubah menjadi kebajikan.
Menjaga Lebih Baik daripada Mengobati
Husni Nasution menekankan, pepatah lama “menjaga lebih baik daripada mengobati” sejatinya sudah lama dipraktikkan Qur’an. Jika kecenderungan jahat dalam jiwa berhasil dicegah, maka sistem sosial akan hemat biaya. Negara tidak perlu membuang anggaran besar untuk keamanan dan hukuman, karena akar masalah sudah dibereskan dari dalam diri.
“Qur’an mengajarkan strategi preventif, bukan reaktif. Jika bangsa ini kembali kepada rahmat Allah, maka polisi, hakim, bahkan penjara hanya diperlukan minimal, bukan menjadi beban anggaran,” ujar Husni Nasution.
Baldatun Thayyibah: Cita Qur’an untuk Negeri
Qur’an menggambarkan ideal sebuah negeri sebagai baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr—negeri yang baik dan mendapat ampunan Tuhan (QS Saba’ [34]:15). Itu hanya mungkin terwujud bila manusia hidup dalam kesadaran rahmat Allah.
Sayangnya, Indonesia hingga usia 80 tahun lebih masih “mengobati” masalah sosial, bukan “menjaga” dari akarnya. Padahal sejak awal berdiri, Pembukaan UUD 1945 sudah menyebut “Atas berkat Rahmat Allah Yang Maha Kuasa” sebagai fondasi.
Al quran Manjawab
Tafsir Qur’an menjawab dengan tegas: bangsa yang ingin maju tidak cukup dengan sistem hukum dan aparat yang kuat, tetapi harus mengakar pada rahmat Allah yang membersihkan hati manusia. Jika rahmat itu ditegakkan, negeri ini tidak hanya selamat dari kejahatan, tetapi juga berpeluang menjadi baldatun ṭayyibatun wa rabbun ghafūr.(syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























