ppmindonesia.com.Bogor – Tantangan besar bangsa hari ini bukan hanya soal politik dan ekonomi, melainkan juga soal kualitas manusia. Bagaimana membangun masyarakat yang berilmu, berdaya, tangguh, dan mampu menjaga keadilan? Al-Qur’an sesungguhnya telah memberikan cetak biru kompetensi umat manusia.
Dalam kajian Qur’an bil Qur’an, Husni Nasution menyebut bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah istilah yang menggambarkan kelompok manusia dengan keunggulan tertentu: Ulil Albab, Ulil Abshar, Ulin Nuha, Ulin Nikmah, Ulidh Dharari, Ulil Quwwah, dan Ulil Amri. Ketujuh kelompok inilah yang jika hadir secara utuh, akan melahirkan negeri yang Qur’ani: baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.
Ulil Albab: Peneliti dan Inovator
Kelompok pertama adalah Ulil Albab, yakni mereka yang mendalami ilmu, meneliti, dan merumuskan inovasi baru.
﴿إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ﴾
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab.” (QS Āli ‘Imrān [3]:190)
Mereka adalah kelompok intelektual yang menjadi motor kemajuan sains dan peradaban.
Ulil Abshar: Perencana dan Teknolog
Ulil Abshar adalah mereka yang diberi pandangan tajam dalam membaca realitas, menyusun perencanaan, dan mengembangkan rekayasa teknologi.
﴿فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ﴾
“Maka ambillah pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS Al-Ḥasyr [59]:2)
Mereka menjadi pilar pembangunan dan inovasi strategis.
Ulin Nuha: Penjaga Moral dan Pencegah Kejahatan
Ulin Nuha adalah kelompok yang mengelola sistem pencegahan dari kerusakan dan kejahatan. Mereka adalah benteng moral bangsa.
﴿إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَى لِأُولِي النُّهَى﴾
“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat peringatan bagi orang-orang yang berakal sehat (Ulin Nuha).” (QS Ṭāhā [20]:54)
Ulidh Dharari: Tangguh dalam Darurat
Ulidh Dharari adalah mereka yang unggul dalam menghadapi kondisi sulit, darurat, atau penuh risiko. Ayat-ayat tentang kesabaran dalam musibah mengisyaratkan kekuatan kelompok ini.
﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾
“Dan sungguh Kami akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS Al-Baqarah [2]:155)
Ulin Nikmah: Pengelola Kemakmuran
Ulin Nikmah adalah mereka yang pandai mengelola sumber daya dan kemakmuran masyarakat.
﴿وَاذْكُرُوا إِذْ أَنْتُمْ قَلِيلٌ فَكَثَّرَكُمْ وَانظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُفْسِدِينَ﴾
“Ingatlah ketika kamu dahulu sedikit, lalu Allah menjadikanmu banyak. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang membuat kerusakan.” (QS Al-A‘rāf [7]:86)
Ulil Quwwah: Pilar Pemberdayaan dan Ketahanan
Ulil Quwwah adalah mereka yang diberi amanah untuk membangun kekuatan, pemberdayaan, dan ketahanan masyarakat.
﴿إِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْأَمِينُ﴾
“Sesungguhnya orang terbaik yang engkau pekerjakan ialah yang kuat lagi terpercaya.” (QS Al-Qaṣaṣ [28]:26)
Merekalah tulang punggung ketahanan bangsa.
Ulil Amri: Pemimpin dan Penata Sistem Pemerintahan
Terakhir adalah Ulil Amri, pemimpin yang bertugas menata sistem pemerintahan dengan adil dan amanah.
﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ﴾
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul, dan Ulil Amri di antara kamu.” (QS An-Nisā’ [4]:59)
Membangun Baldatun Thayyibah
Nasution menegaskan, jika ketujuh kelompok ini hadir dalam satu negara, bekerja ikhlas dan maksimal, maka negeri itu akan mendekati cita-cita Qur’an:
﴿بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ﴾
“(Negerimu adalah) negeri yang baik dan Tuhanmu Maha Pengampun.” (QS Saba’ [34]:15)
Akhir Kajian
Tantangan bangsa hari ini sejatinya telah dijawab oleh Qur’an. Bukan dengan memperbanyak birokrasi atau memperbesar kabinet, melainkan dengan menghadirkan kompetensi manusia Qur’ani: dari Ulil Albab hingga Ulil Amri.
Jika rahmat Allah dijadikan fondasi, dan tujuh kelompok keahlian ini diberdayakan, maka Indonesia bukan hanya mampu mengatasi tantangan, tetapi juga berpeluang menjadi negeri yang adil, makmur, dan diridhai Allah.(syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























