ppmindonesia.com.Bogor – Krisis moral, korupsi, dan lemahnya wibawa hukum menjadi tantangan besar bangsa Indonesia. Menurut Husni Nasution dalam kajian Qur’an bil Qur’an di kanal Syahida, persoalan ini berakar dari kegagalan mengendalikan nafsu.
Padahal, Al-Qur’an telah mengajarkan bahwa kemuliaan hidup manusia sangat ditentukan oleh kebersihan jiwa.
Husni merujuk pada QS Yusuf [12]:53, ketika Nabi Yusuf dengan rendah hati mengakui bahwa setiap jiwa memiliki kecenderungan jahat, kecuali yang dirahmati Allah.
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Yusuf: 53)
Menurutnya, ayat ini menegaskan bahwa kesadaran spiritual adalah benteng utama manusia. “Jiwa yang tidak dikendalikan akan mudah tergelincir dalam penyalahgunaan kekuasaan, korupsi, dan berbagai bentuk kemaksiatan.
Sebaliknya, bangsa yang warganya mampu menundukkan hawa nafsu akan melahirkan peradaban yang bermartabat,” ujar Husni.
Ia menambahkan, pembangunan bangsa tidak cukup dengan regulasi dan pengawasan yang menelan anggaran triliunan rupiah. Sebab, tanpa pengendalian diri dari dalam, aturan hukum seringkali hanya menjadi formalitas.
“Kalau hati manusia dibimbing untuk bersih, maka bangsa ini tidak perlu menghabiskan biaya besar untuk memberantas kejahatan. Kesadaran diri itulah pengawas paling efektif,” tegasnya.
Husni menilai, bangsa Indonesia bisa menjadi kuat dan disegani bukan karena banyaknya lembaga pengawasan, melainkan karena moral warganya yang kokoh.
“Bangsa bermartabat lahir dari jiwa yang bersih. Itulah pesan Qur’an yang harus kita jadikan pedoman,” tutupnya.(syahida)
*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.



























