Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Ketika Kampus Kelak Jadi Produsen Sarjana Pengangguran

270
×

Ketika Kampus Kelak Jadi Produsen Sarjana Pengangguran

Share this article

Penulis: guntoro soewarno| editor: asyary

ppmindonesia,com.Jakarta – Kerusuhan yang baru saja terjadi pada hakikatnya berakar pada persoalan ekonomi. Bahwa ada pihak yang menunggangi gerakan itu memang benar adanya, namun faktor paling mendasar tetaplah perut yang lapar. 

Kondisi ini semakin diperparah oleh gaya hidup pejabat dan anggota DPR yang kian bermewah-mewah. Tidak peduli dari partai mana, pola hidup mereka sama saja: jauh dari realitas rakyat.

Maka, ketika rakyat lapar, emosi mudah tersulut. Apalagi di era media sosial, provokasi dapat menyebar dengan cepat dan masif. Bara ketidakpuasan yang lama terpendam, sekali tersentuh sumbu, bisa langsung meledak.

Pengangguran Hari Ini: Bom Waktu Demografis

Masalah paling serius yang kini mengintai bangsa adalah pengangguran. Data BPS Februari 2025 mencatat tingkat pengangguran terbuka mencapai 4,76% atau sekitar 7,28 juta jiwa. Angka itu belum termasuk pengangguran tertutup yang tak pernah terdata secara resmi.

Lebih mengerikan lagi, pengangguran didominasi lulusan SMK—yang sejatinya didesain agar mudah terserap dunia kerja. Pada 2024, tingkat pengangguran SMK mencapai 9%, dan meski tahun ini turun jadi 8%, tetap menjadi yang tertinggi. Alih-alih menjadi solusi, lulusan SMK kini justru menambah beban sosial.

Di sisi lain, kaum milenial yang diharapkan menjadi penggerak ekonomi bangsa juga menghadapi nasib serupa. Saat ini, ada sekitar 10 juta anak muda Indonesia yang menganggur. Bonus demografi yang seharusnya menjadi “Indonesia Emas” justru bisa berubah menjadi “Indonesia Cemas”.

Tak berhenti di situ, jumlah pengangguran sarjana pun kian mencemaskan: pada 2025 tercatat sudah mencapai 1 juta orang. Ini menandakan kampus perlahan berubah menjadi pabrik pencetak pengangguran berijazah.

Trend yang akan Terus Meningkat

Bisakah pemerintah, sekolah, dan universitas mengerem laju pengangguran ini? Jawabannya, nyaris mustahil. Ada setidaknya tiga faktor besar yang membuat tren pengangguran sulit terbendung:

  1. Gejolak Ekonomi Global. Politik tarif ala Donald Trump telah mengubah peta perdagangan dunia. Indonesia harus membayar “pajak global” hingga 19%, angka yang tidak kecil.

Kontraksi ekonomi global ini menyeret Indonesia masuk ke dalam ketidakpastian panjang. Akibatnya, gelombang PHK massal menjadi pilihan tak terelakkan bagi banyak perusahaan demi sekadar bertahan hidup.

2. Artificial Intelligence (AI). Perkembangan AI yang sangat pesat membuat banyak profesi hilang digantikan teknologi. Dokter berbasis AI kini mampu mendiagnosa penyakit dengan tingkat akurasi 99%.

Fungsi akuntan, pengacara, programmer, hingga guru sudah diambil alih oleh sistem berbasis AI yang lebih cepat dan efisien. Dunia telah berbelok arah, sementara universitas masih sibuk mengurus akreditasi dan kurikulum yang banyak sudah kehilangan relevansi.

3.Robotisasi. Dunia industri global bergerak menuju robotisasi karena lebih efisien dan bebas dari urusan upah maupun demonstrasi buruh.

Di Indonesia, hal ini tinggal soal waktu. Dalam lima tahun ke depan, gelombang pengangguran massal akan semakin deras, memicu krisis sosial dan kriminalitas.

Jalan Keluar : Kembali Ke Pangan dan Pesantren

Dalam situasi dunia yang penuh ketidakpastian, para konglomerat global justru melirik sektor paling fundamental: pangan. Bill Gates membeli 200 ribu hektare lahan pertanian di Amerika. David Beckham pun mengikuti jejak serupa.

Mereka, kelompok kecil orang terkaya dunia, paham benar: siapa menguasai pangan, dialah penguasa sesungguhnya.

Kontradiksinya, di Indonesia justru para petani meninggalkan sawah. Realitas sosial menunjukkan bahwa bertani masih identik dengan kemiskinan. Pertanian nyaris tak menarik bagi generasi muda, padahal di situlah masa depan bangsa dipertaruhkan.

Jika universitas gagal beradaptasi, pada 2035 masyarakat akan kehilangan kepercayaan terhadap pendidikan tinggi. Banyak kampus bisa gulung tikar karena hanya melahirkan sarjana pengangguran. 

Dalam kondisi demikian, pesantren akan menjadi tumpuan harapan rakyat. Sebab di tengah krisis ekonomi dan sosial, masyarakat akan mencari ketenangan dan bimbingan spiritual.

Karena itu, revitalisasi pesantren tidak boleh ditunda. Pesantren harus dibekali kurikulum baru yang mengintegrasikan keterampilan praktis, terutama dalam pertanian organik dan kewirausahaan. Santri-santri perlu dikembalikan ke desa-desa untuk menggarap lahan dengan sistem pertanian berkelanjutan sebelum tanah-tanah produktif dijarah para kapitalis.

Sebagai penutup Guntoro, memberikan catatan; Jika langkah revitalisasi pendidikan, terutama di pesantren, tidak segera dilakukan, maka tahun 2035 akan menjadi titik kritis bangsa ini: sarjana-sarjana pengangguran, masyarakat gelisah, dan kriminalitas melonjak. 

Tetapi jika pesantren sejak dini dipersiapkan sebagai pusat keilmuan, keterampilan, sekaligus spiritualitas, maka di saat krisis nanti mereka akan hadir sebagai benteng penyelamat bangsa.

Jangan tunggu sampai terlambat. Mulailah dari sekarang.(guntoro soewarna)

*) Ketua Dewan Direktur Institut Pengembangan Masyarakat (Ipama) Pusat, Pengurus MW Kahmi Jateng, Owner “Intansari Manisse – Bio Circle Farm – Caiwi Bogor” dan “Ali Organic Farm (ALO FARM) – Semarang”.

 

Example 120x600