Scroll untuk baca artikel
BeritaNasional

DPR Tuntut Fasilitas Mewah, Rakyat Turun ke Jalan

206
×

DPR Tuntut Fasilitas Mewah, Rakyat Turun ke Jalan

Share this article

Penulis; acank| Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Gelombang protes mahasiswa, buruh, dan masyarakat sipil yang melanda Jakarta serta sejumlah kota besar berawal dari rencana DPR menambah fasilitas baru, termasuk tunjangan perumahan senilai Rp 50 juta per bulan.

Pada 25 – 29 Agustus 2025, ribuan demonstran mengepung kompleks DPR/MPR RI di Senayan. Massa menolak keras keputusan yang dinilai tidak berempati pada kondisi rakyat yang tengah terhimpit harga kebutuhan pokok, sulitnya lapangan kerja, dan biaya pendidikan yang kian melambung.

Teriakan “tolak tunjangan DPR” menggema di jalanan. Tragedi meninggalnya Affan Kurniawan, seorang mahasiswa yang ikut aksi di Bandung, menambah gelombang kemarahan publik. Bagi banyak kalangan, sikap elite Senayan dinilai arogan, lebih mementingkan kenyamanan hidup daripada menjalankan amanah rakyat.

Tuntutan massa kini tak lagi sebatas penolakan tunjangan, melainkan juga desakan agar DPR mereformasi dirinya. Transparansi, akuntabilitas, dan keberpihakan pada rakyat menjadi agenda utama yang didorong demonstran.

“Kalau DPR terus seperti ini, rakyat akan kehilangan kepercayaan sepenuhnya. Jangan sampai wakil rakyat berubah menjadi beban rakyat,” Ujar Depri Cane Nasution , aktivis Pusat Peranserta Masyarkat (PPM) Nasional dalam keteranggan kepada ppmindonesia..

Krisis Kepercayaan

Sekretaris Jenderal Pusat Peranserta Masyarakat (PPM) Nasional Anwar Hariyono, menilai fenomena ini sebagai puncak krisis kepercayaan terhadap lembaga legislatif. “Ketika DPR lebih terlihat sibuk memperjuangkan kenyamanan diri ketimbang kebijakan pro-rakyat, wajar jika publik merasa tidak lagi diwakili,” ujarnya.

Menurut Anwar, DPR perlu segera mengembalikan kepercayaan dengan menunda bahkan membatalkan wacana tunjangan baru. “Yang dibutuhkan rakyat saat ini adalah kebijakan konkret untuk menekan harga, memperluas lapangan kerja, dan memperkuat jaminan sosial. Bukan tambahan fasilitas bagi elite politik,” tambahnya.

Nafsu dan Arogansi Kekuasaan

Husni Nasution, dalam kajian Qur’an bil Qur’an di kanal Syahida, menilai fenomena ini bukan sekadar krisis politik, melainkan cermin kegagalan moral penguasa.

“Wakil rakyat seharusnya menjadi teladan pengorbanan dan keberpihakan kepada rakyat. Tapi yang terjadi justru sebaliknya: mereka menuntut fasilitas mewah ketika rakyat makin susah. Ini adalah bukti nyata nafsu yang tidak terkendali,” ujar Husni.

Ia merujuk firman Allah dalam QS Yusuf 12:53:

 وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِالسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيٓ ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang.”

Menurut Husni, ayat ini relevan dengan perilaku sebagian pejabat yang larut dalam ketamakan. Nafsu yang tak terkendali menjelma dalam bentuk arogansi, korupsi, dan kebijakan yang menambah jurang antara elite dan rakyat.

Ancaman Kehancuran Negeri

Husni juga mengingatkan firman Allah dalam QS Al-Isra’ 17:16:

> وَإِذَآ أَرَدْنَآ أَن نُّهْلِكَ قَرْيَةً أَمَرْنَا مُتْرَفِيهَا فَفَسَقُوا۟ فِيهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا ٱلْقَوْلُ فَدَمَّرْنَـٰهَا تَدْمِيرًۭا

“Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu (agar menaati Allah), tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sepantasnya berlaku ketentuan (hukuman Kami), lalu Kami binasakan negeri itu sehancur-hancurnya.”

“Bangsa tidak akan selamat jika para pemimpinnya hidup bermewah-mewah dalam kedurhakaan, sementara rakyatnya menderita. Al-Qur’an telah memberi peringatan yang sangat tegas,” katanya.

Revolusi Kesadaran Qur’ani

Husni menekankan, solusi atas krisis ini bukan hanya melalui hukum atau pengawasan eksternal, melainkan revolusi kesadaran dari dalam diri. Ia merujuk QS Al-Hujurat 49:7 yang menegaskan bahwa iman sejati adalah ketika hati mencintai kebenaran dan membenci kefasikan.

“Inilah pengawasan paling efektif dan paling murah. Jika hati rakyat dan pemimpin dipenuhi cinta pada iman, maka korupsi, arogansi, dan keserakahan akan tertolak dari dalam,” ujarnya.

Husni lalu menutup dengan pesan dari QS Ar-Ra’d 13:11:

> إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا۟ مَا بِأَنفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

“Perubahan tidak akan datang dari gedung DPR, tetapi dari kesadaran moral yang lahir di hati rakyat dan pemimpinnya. Jika nafsu ditundukkan dan akhlak ditegakkan, maka bangsa ini akan selamat,” pungkas Husni. (acank)

Example 120x600