ppmindonesia.com.Jakarta – Salah satu ayat Al-Qur’an yang sering menjadi sorotan dalam diskursus tafsir adalah firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 14. Ayat ini menyinggung kecenderungan manusia terhadap berbagai keindahan duniawi, termasuk kecantikan perempuan.
Allah berfirman:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang banyak dari emas dan perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik.” (QS Ali Imran [3]: 14)
Nas: Seruan untuk Seluruh Manusia
Hal menarik dari ayat ini adalah penggunaan kata “ناس / nas”, yang berarti seluruh manusia, bukan hanya laki-laki.
Dengan demikian, pesan ayat ini tidak terbatas pada kaum pria, melainkan berlaku bagi setiap manusia—laki-laki maupun perempuan.
Penggunaan kata “nas” dalam Al-Qur’an selalu bersifat universal. Sebagaimana ditegaskan dalam surah An-Nas:
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ، مَلِكِ النَّاسِ، إِلَـٰهِ النَّاسِ
“Katakanlah: Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia, Tuhan manusia.” (QS An-Nas [114]: 1–3)
Seandainya yang dimaksud hanya laki-laki, tentu Al-Qur’an akan menggunakan istilah رجال / rijal. Namun, yang dipilih adalah “nas”, sehingga jelas bahwa pesan QS 3:14 bersifat menyeluruh.
Kecantikan Perempuan: Rahmat untuk Semua
Seringkali ayat ini dipahami secara sempit seolah hanya berbicara tentang godaan perempuan bagi laki-laki. Padahal, keindahan yang dimiliki perempuan bukan hanya memikat lawan jenis, tetapi juga dikagumi, diapresiasi, bahkan diteladani oleh sesama perempuan.
Kecantikan perempuan adalah bagian dari keindahan ciptaan Allah yang dapat menjadi sumber syukur dan rahmat. Sebagaimana Allah menyebutkan bahwa segala yang indah di dunia hanyalah perhiasan sementara, yang sesungguhnya menguji manusia:
قُلْ أَؤُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرٍ مِّن ذَٰلِكُمْ ۚ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
“Katakanlah: ‘Maukah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?’ Untuk orang-orang yang bertakwa, pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya; dan (ada pula) pasangan-pasangan yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imran [3]: 15)
Membongkar Miskonsepsi
Sayangnya, sebagian penerjemah klasik menerjemahkan “nas” dalam QS 3:14 sebagai “laki-laki”. Yusuf Ali, misalnya, menulis: “Fair in the eyes of men is the love of things they covet: women and sons…” Padahal, kata untuk laki-laki, rijal, tidak digunakan dalam ayat ini.
Kesalahan ini lahir dari prasangka tafsir yang memandang ayat tersebut hanya relevan bagi laki-laki. Padahal, secara tekstual dan konseptual, Allah sedang berbicara kepada seluruh umat manusia.
Dengan demikian, perempuan tidak sedang direduksi sebagai objek, melainkan disebutkan sebagai bagian dari anugerah keindahan dunia yang Allah jadikan ujian bagi setiap insan.
Kecantikan Perempuan
QS 3:14 tidak merendahkan perempuan, apalagi menyamakannya dengan harta atau benda. Justru ayat ini menegaskan bahwa kecantikan perempuan adalah bagian dari rahmat Allah yang dianugerahkan bagi seluruh umat manusia.
Pesan utamanya bukanlah glorifikasi pada dunia, melainkan pengingat bahwa semua keindahan ini fana, sementara Allah-lah tujuan akhir yang abadi.(acank)
Referensi;



























