Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ulil Abshar dan Rekayasa Teknologi: Membaca Peta Sains Qur’an

204
×

Ulil Abshar dan Rekayasa Teknologi: Membaca Peta Sains Qur’an

Share this article

Penulis: syahida| Editor: asyary|

ppmindonesia.com.Bogor — Dalam kajian Qur’an bil Qur’an yang disampaikan Husni Nasution di kanal Syahida, terungkap betapa Al-Qur’an tidak hanya bicara soal iman dan ibadah ritual, tetapi juga menyodorkan peta keilmuan yang berhubungan dengan kemajuan peradaban. 

Salah satu konsep penting yang diangkat adalah tentang ulil abshar, yakni kelompok manusia yang mampu menggunakan pandangan tajamnya untuk membaca tanda-tanda alam semesta, kemudian mengolahnya menjadi ilmu pengetahuan dan teknologi.

Menurut Husni, istilah abshar dalam Al-Qur’an bukan hanya merujuk pada penglihatan inderawi, melainkan pada daya analisis, kemampuan membaca pola, dan kecerdasan menangkap hukum-hukum ciptaan Allah. 

Dengan pandangan ini, sains dan teknologi sesungguhnya merupakan bagian dari amanah Qur’ani yang mesti dikembangkan.

Allah berfirman dalam Surah Āli ‘Imrān ayat 13:

قَدْ كَانَ لَكُمْ آيَةٌ فِي فِئَتَيْنِ الْتَقَتَا ۖ فِئَةٌ تُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأُخْرَى كَافِرَةٌ يَرَوْنَهُمْ مِثْلَيْهِمْ رَأْيَ الْعَيْنِ ۚ وَاللَّهُ يُؤَيِّدُ بِنَصْرِهِ مَنْ يَشَاءُ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَعِبْرَةً لِأُولِي الْأَبْصَارِ

“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang bertemu (bertempur). Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain kafir, yang melihat dengan mata kepala bahwa golongan Muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai pandangan tajam.” (QS Āli ‘Imrān [3]: 13).

Husni menjelaskan, ayat ini menyinggung ulil abshar sebagai sosok yang mampu membaca ‘ibrah atau pelajaran dari fenomena kehidupan. Dalam konteks modern, merekalah yang dapat menarik prinsip-prinsip teknologi dari hukum-hukum alam. Sejarah peradaban Islam, lanjutnya, telah membuktikan bagaimana ulama-ulama Muslim terdahulu mengembangkan optik, astronomi, kedokteran, hingga rekayasa mekanika berangkat dari semangat Qur’ani membaca tanda-tanda Allah.

Al-Qur’an sendiri berulang kali mengingatkan pentingnya tadabbur (merenungi) dan tafakkur (berpikir) terhadap ciptaan Allah. Seperti dalam Surah Al-Ḥashr ayat 2:

فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ

“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS Al-Ḥashr [59]: 2).

Bagi Husni, seruan ini adalah mandat agar umat Islam membangun peradaban sains dengan fondasi Qur’an. Ulil abshar dipanggil untuk mengolah pengetahuan, mengembangkan teknologi, dan memastikan pemanfaatannya bagi kemaslahatan.

“Teknologi dalam pandangan Qur’an bukan sekadar alat, tetapi bagian dari misi istikhlāf manusia di bumi. Dengan memanfaatkan akal, penglihatan, dan pandangan tajam, manusia dituntut menjadikan sains sebagai sarana mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafūr,” jelas Husni.

Kajian ini menegaskan bahwa pembangunan bangsa dan ketahanan peradaban tidak mungkin dilepaskan dari keberanian umat Islam untuk kembali membaca Al-Qur’an sebagai peta sains. Ulil abshar bukan sekadar cendekiawan, tetapi agen rekayasa teknologi yang menjembatani iman dan ilmu dalam bingkai peradaban Qur’ani.

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.

 

Example 120x600