Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Furqan yang Hilang: Mengapa Banyak Ajaran Bertentangan dengan Al-Qur’an?

256
×

Furqan yang Hilang: Mengapa Banyak Ajaran Bertentangan dengan Al-Qur’an?

Share this article

Penulis: syahida| Editor: asyary|

ppmindonesia.com.Jakarta, — Kajian quran bil quran  yang disampaikan Husni Nasution melalui kanal Syahida kembali menyingkap problem mendasar umat Islam kontemporer: hilangnya Furqan — kemampuan membedakan yang haq dari yang bathil. 

Dalam banyak praktik keagamaan, umat kerap lebih terikat pada tradisi, kultur, bahkan fatwa kelompok, ketimbang menjadikan wahyu sebagai tolok ukur kebenaran.

Furqan: Karunia Bagi Orang Bertakwa

Dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan bahwa Furqan adalah anugerah khusus bagi mereka yang benar-benar bertakwa. Sebagaimana termaktub dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَل لَّكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu Furqan (kemampuan membedakan yang benar dari yang salah), dan menghapuskan segala kesalahanmu serta mengampuni kamu. Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Anfal [8]: 29).

Husni Nasution dalam kajiannya menekankan, ayat ini adalah landasan utama mengapa setiap Muslim harus menjadikan Al-Qur’an sebagai parameter, bukan sekadar simbol atau bacaan ritual. “Furqan itu bukan hanya teks, tetapi daya kritis spiritual yang membuat kita bisa memilah, apakah ajaran itu benar-benar bersumber dari wahyu atau sekadar tradisi manusia,” jelasnya.

Tradisi yang Menyalip Wahyu

Fenomena yang disorot adalah bagaimana sejumlah praktik keagamaan justru berlawanan dengan spirit Qur’ani. Misalnya, pengkultusan terhadap figur tertentu yang kadang menafikan prinsip tauhid, atau menganggap wajib sesuatu yang tidak pernah diwajibkan Al-Qur’an.

Al-Qur’an mengingatkan agar umat tidak terjebak mengikuti tradisi nenek moyang yang bertentangan dengan kebenaran:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” (QS. Al-Baqarah [2]: 170).

Menurut Nasution, ayat ini adalah kritik abadi Al-Qur’an terhadap sikap jumud umat. “Ketika wahyu digantikan oleh tradisi, umat kehilangan Furqan. Itulah awal mula penyimpangan yang sistematis,” ujarnya.

Suara Tokoh: Bahaya Mengganti Wahyu dengan Budaya

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Muhammad Abduh, pembaharu Islam asal Mesir. Abduh menegaskan bahwa banyak penyimpangan dalam Islam modern terjadi bukan karena Al-Qur’an tidak jelas, melainkan karena umat mengganti tuntunan wahyu dengan kebiasaan yang diwariskan tanpa filter kritis. “Islam tidak bisa maju selama umatnya lebih takut meninggalkan adat daripada meninggalkan Al-Qur’an,” tegas Abduh.

Hal senada juga diingatkan Fazlur Rahman, pemikir Islam asal Pakistan. Menurutnya, hilangnya Furqan membuat umat tidak mampu membedakan antara nilai-nilai universal Al-Qur’an dengan tafsir historis yang lahir dalam konteks tertentu. “Ketika tafsir disakralkan melebihi wahyu, umat akan kehilangan daya hidup,” tulis Rahman dalam karya-karyanya.

Jalan Pulang: Menghidupkan Furqan

Kajian Syahida menutup dengan seruan agar umat kembali menyalakan Furqan melalui ketakwaan dan keberanian menguji setiap praktik keagamaan dengan standar Al-Qur’an. Sebab, tanpa Furqan, agama akan direduksi menjadi serangkaian kebiasaan, bukan lagi jalan hidayah.

وَأَنَّ هَٰذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِ

“Dan inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am [6]: 153). 

Husni Nasution menegaskan, “Selama Furqan absen dari kehidupan umat, kita akan terus terjebak dalam konflik, perpecahan, dan penyimpangan. Jalan keluarnya adalah kembali menjadikan Al-Qur’an sebagai Furqan, cermin untuk mengukur segalanya.”(syahida)

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial. 
Example 120x600