Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ulil Albab hingga Ulil Amri: Peta Kompetensi Qur’ani untuk Memakmurkan Bumi

240
×

Ulil Albab hingga Ulil Amri: Peta Kompetensi Qur’ani untuk Memakmurkan Bumi

Share this article

Penulis: syahida| Editor: asyary|

ppmindonesia.com.Jakarta– Bangsa yang besar membutuhkan peta kompetensi yang jelas untuk membangun peradaban. Dalam kajian Qur’an bil Qur’an di kanal Syahida, Husni Nasution menekankan bahwa Al-Qur’an telah memberikan panduan komprehensif tentang siapa saja yang seharusnya berperan dalam mengelola dan memakmurkan bumi. Dari ulil albab hingga ulil amri, setiap kelompok memiliki fungsi spesifik yang saling melengkapi.

“Al-Qur’an tidak hanya berbicara tentang iman dan ibadah. Ia juga memberi kerangka kepemimpinan, keahlian, dan peran masyarakat dalam membangun negeri,” ujar Husni.

Ulil Albab: Intelektual dengan Kedalaman Iman

Al-Qur’an berulang kali memuji kelompok ulil albab, yakni orang-orang yang menggunakan akal sekaligus hatinya dalam berpikir. Mereka menjadi fondasi moral dan intelektual bangsa.

Allah berfirman dalam QS Ali Imran [3]:190-191:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal (ulil albab).”

Bagi Husni, ulil albab inilah yang menjadi penafsir tanda-tanda zaman, penyambung antara wahyu dan realitas sosial.

Ulul ‘Ilmi: Penjaga Ilmu dan Kebenaran

Selain ulil albab, ada pula ulul ‘ilmi—orang-orang yang diberi kedalaman ilmu pengetahuan. Mereka bukan hanya ilmuwan, tetapi juga saksi kebenaran.

Allah menegaskan dalam QS Ali Imran [3]:18:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ

“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia, begitu pula para malaikat dan orang-orang berilmu, yang menegakkan keadilan.”

Husni menilai, di sinilah posisi strategis para ulama dan cendekiawan dalam membangun integritas pengetahuan bangsa.

Ulun Nuha: Penjaga Kebijaksanaan

Di antara peran lain yang disebutkan Al-Qur’an adalah ulun nuha, orang-orang yang memiliki daya pikir jernih, yang mampu menahan diri dari keserakahan dan kesalahan arah.

إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِأُولِي النُّهَىٰ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal sehat (ulun nuha).”(QS Thaha [20]:54)

Mereka adalah sosok yang menimbang kebijakan, bukan sekadar mengejar keuntungan pragmatis.

Ulil Amri: Pemimpin yang Memikul Amanah

Dan akhirnya, Al-Qur’an menyebut ulil amri, yakni pemimpin yang memikul amanah dan harus ditaati selama mereka setia pada kebenaran.

QS An-Nisa [4]:59 menegaskan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul, serta pemegang urusan di antara kalian.”

Husni mengingatkan, ayat ini menegaskan relasi sehat antara rakyat dan pemimpin: kepatuhan hanya berlaku jika kepemimpinan selaras dengan prinsip keadilan Allah dan Rasul-Nya.

Peta Kompetensi Qur’ani

Jika dikaitkan dengan konteks Indonesia, Husni melihat bahwa negeri ini terlalu sering terjebak dalam politik praktis yang mengabaikan peta kompetensi Qur’ani. Padahal, keseimbangan antara ulil albab, ulul ‘ilmi, ulun nuha, dan ulil amri adalah kunci bagi bangsa yang adil, sejahtera, dan berdaulat.

“Indonesia hanya bisa menjadi negeri yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur jika peta kompetensi ini dijalankan. Bukan sekadar retorika, tapi menjadi sistem hidup berbangsa,” pungkas Husni.(syahida)

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.
Example 120x600