Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Ibadah dan Kebebasan: Allah Tidak Membebani di Luar Kemampuan Hamba

210
×

Ibadah dan Kebebasan: Allah Tidak Membebani di Luar Kemampuan Hamba

Share this article

Penulis; acank| Editor; asyary

ppmindonesia.com,Jakarta – Dalam setiap ibadah yang dijalankan umat Islam, selalu ada pertanyaan mendasar: apakah Allah mengikat manusia dengan beban yang berat, atau justru memberi ruang kebebasan dalam pengabdian? 

Dalam kajian kanal quran–islam, A. Mohamed menegaskan, Al-Qur’an memandang ibadah bukan sebagai beban, melainkan jalan menuju kebebasan spiritual.

Allah dan Prinsip Kemudahan

Salah satu ayat paling populer yang menjadi rujukan adalah QS. Al-Baqarah [2]:286:

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ لَهَا مَا كَسَبَتۡ وَعَلَيۡهَا مَا ٱكْتَسَبَتۡ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala dari kebajikan yang dikerjakannya dan mendapat siksa dari kejahatan yang diperbuatnya.”

Menurut A. Mohamed, ayat ini menegaskan asas utama syariat: tidak ada paksaan di luar batas kemampuan hamba. “Ibadah bukanlah instrumen penindasan spiritual, melainkan sarana pembebasan manusia dari beban yang dibuat-buat oleh tradisi atau institusi,” ujarnya.

Shalat, Zakat, dan Haji: Fleksibilitas dalam Al-Qur’an

Jika diperhatikan, Al-Qur’an tidak merinci angka-angka tertentu dalam ibadah, kecuali beberapa hal khusus. Misalnya, jumlah rakaat shalat tidak disebutkan, persentase zakat tidak ditetapkan, bahkan jumlah sa’i antara Shafa dan Marwah tidak disebutkan dalam teks wahyu.

Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]:185 mengenai puasa:

يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلۡعُسۡرَ

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.”

Ayat ini, menurut A. Mohamed, adalah “deklarasi kebebasan” yang menjadi dasar fleksibilitas ibadah.

Perspektif Para Pemikir

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran tokoh Muslim kontemporer. Fazlur Rahman menekankan bahwa “syariat adalah pedoman moral yang hidup, bukan hukum kaku yang membebani manusia.”

Sementara itu, Prof. Quraish Shihab dalam Membumikan Al-Qur’an menyatakan: “Allah tidak pernah mengikat manusia dengan kewajiban yang mustahil dipenuhi. Setiap perintah-Nya selalu berada dalam jangkauan kemampuan manusia.”

Ibadah sebagai Kebebasan, Bukan Paksaan

Ketika ibadah dipahami sebagai kebebasan, umat tidak lagi melihatnya sebagai rutinitas yang mengekang. Justru, ibadah menjadi cara manusia untuk melepaskan diri dari belenggu duniawi—ketakutan, keserakahan, dan keputusasaan.

Dalam QS. Al-Hajj [22]:78, Allah menegaskan:

وَمَا جَعَلَ عَلَيۡكُمۡ فِي ٱلدِّينِ مِنۡ حَرَجٍۚ

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan.”

Ayat ini memperkuat bahwa agama bukanlah jerat yang mencekik, tetapi jalan lapang menuju ketenangan.

Ibadah Dalam Aquran

Kajian kanal Islam–Quran bersama A. Mohamed menegaskan bahwa ibadah dalam Al-Qur’an adalah jalan kemudahan dan kebebasan, bukan beban yang melampaui kesanggupan manusia.

Pada akhirnya, ruh ibadah adalah takwa, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Hajj [22]:37:

وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقۡوَىٰ مِنكُمۡۚ

“Tetapi yang sampai kepada Allah adalah ketakwaan dari kamu.”

Maka, ketika kita shalat, berzakat, berhaji, atau berpuasa, yang utama bukanlah angka dan hitungan, melainkan ketulusan hati dan kebebasan jiwa dalam mengabdi kepada Allah. (acank)

Example 120x600