ppmindonesia,com,Jakarta — Dalam kajiannya yang mengundang perhatian, Buya Syakur Yasin menyoroti kembali makna makruf dan munkar sebagai dua konsep utama dalam etika Islam.
Menurutnya, makruf tidak bisa dipahami sekadar sebagai “kebaikan” dalam arti umum, tetapi sebagai nilai yang hidup dan tumbuh dalam kesadaran masyarakat, sementara munkar adalah lawannya, yakni segala sesuatu yang secara kolektif dipandang tercela.
“Makruf itu berasal dari kata ‘uruf, artinya sesuatu yang dikenal, yang menjadi kesepakatan moral suatu masyarakat. Sedangkan munkar adalah sesuatu yang diingkari karena bertentangan dengan nilai kemanusiaan,” ujar Buya Syakur dalam kajiannya yang diikuti ratusan jamaah.
Pandangan tersebut selaras dengan firman Allah dalam Al-Qur’an:
وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةٞ يَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَيۡرِ وَيَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَيَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS Ali ‘Imran [3]: 104).
Makruf sebagai Local Wisdom
Menurut Buya Syakur, makruf bisa dipahami sebagai local wisdom atau kearifan lokal yang berakar pada kehidupan suatu masyarakat. Misalnya, budaya gotong royong di Indonesia atau nilai musyawarah dalam menyelesaikan konflik. Nilai-nilai itu menjadi bagian dari makruf karena membawa pada harmoni sosial.
Namun, kata Buya, makruf bukan berarti statis. Nilai yang semula dianggap baik bisa berubah jika tidak lagi relevan dengan keadilan atau kemanusiaan. “Islam itu tidak membekukan budaya, tapi menyaring. Yang sejalan dengan tauhid, keadilan, dan kasih sayang, itulah yang dilestarikan,” tegasnya.
Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Fazlur Rahman, seorang cendekiawan Muslim asal Pakistan. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an selalu menuntun umat untuk menafsirkan kebaikan sesuai dengan konteks sosial-historis, bukan semata-mata teks literal.
Munkar sebagai Ancaman Sosial
Sebaliknya, munkar adalah praktik atau perilaku yang mengancam martabat manusia. Korupsi, diskriminasi, eksploitasi alam, atau bahkan ujaran kebencian yang merusak persaudaraan, semuanya masuk dalam kategori munkar.
Allah juga menegaskan dalam Al-Qur’an:
إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآئِ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, munkar, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS An-Nahl [16]: 90).
Buya Syakur menekankan bahwa larangan munkar dalam ayat ini bersifat universal. Ia berlaku di manapun dan kapanpun, terlepas dari batas geografis dan budaya.
Menuju Kebaikan Universal
Makruf dan munkar, menurut Buya, adalah jembatan untuk membawa kearifan lokal menuju nilai-nilai universal. Selama kearifan itu menjunjung keadilan, menumbuhkan kasih sayang, dan menjaga martabat manusia, maka ia layak disebut sebagai makruf.
Sejalan dengan itu, Nurcholish Madjid atau Cak Nur pernah mengatakan, “Islam itu datang bukan untuk menghancurkan budaya, tapi untuk memurnikan nilai kemanusiaan yang ada di dalamnya.” Dengan demikian, Islam mengajarkan inklusivitas dalam kebaikan, tanpa meniadakan akar tradisi lokal.
Dalam konteks Indonesia yang majemuk, ajaran amar makruf nahi munkar dapat menjadi fondasi untuk membangun kebersamaan. Nilai musyawarah, persaudaraan, dan gotong royong adalah bagian dari makruf lokal yang menguatkan peradaban nasional sekaligus beresonansi dengan nilai-nilai universal Islam.
Ajaran Makruf dan Munkar
Buya Syakur mengingatkan bahwa tugas umat Islam bukan hanya melestarikan nilai kebaikan dalam lingkup terbatas, tetapi juga memperjuangkannya dalam ruang yang lebih luas. “Dari local wisdom, kita diajak Islam menuju universal values,” tuturnya.
Dengan demikian, ajaran amar makruf nahi munkar bukan hanya dogma, tetapi menjadi etika sosial dan proyek kemanusiaan. Dari kearifan lokal menuju kebaikan universal, itulah jalan Islam yang penuh rahmat bagi semesta.(emha)



























