Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Antara Kemuliaan dan Kehinaan: Jalan Hidup dalam Pandangan Al-Qur’an

284
×

Antara Kemuliaan dan Kehinaan: Jalan Hidup dalam Pandangan Al-Qur’an

Share this article

Penulis; syahida| Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta — Dalam kajian Qur’an bil Qur’an di kanal Syahida, Husni Nasution menegaskan sebuah pesan mendasar dari Al-Qur’an: ukuran kemuliaan manusia di sisi Allah tidak pernah ditentukan oleh harta, kedudukan, ataupun garis keturunan, melainkan hanya oleh ketakwaan.

Allah berfirman dalam QS Al-Hujurāt ayat 13:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa.”

Menurut Husni, jalan menuju kemuliaan itu tidak bisa ditempuh kecuali dengan memahami dan meneladani Al-Qur’an. Kitab ini diturunkan sebagai hudan lil-muttaqīn — petunjuk bagi orang-orang yang ingin mencapai takwa.

Keindahan Hidup Orang Bertakwa

Dalam paparannya, Husni menguraikan betapa indahnya kehidupan orang-orang yang bertakwa. Mereka bukan saja memperoleh kemuliaan di sisi Allah, tetapi juga diberi kekuatan menghadapi segala bentuk kejahatan, memperoleh apa yang mereka kehendaki dari Rabb mereka, serta mendapatkan balasan yang lebih baik dari amal yang mereka kerjakan.

Hal ini ditegaskan dalam QS Az-Zumar ayat 33-35:

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ ۝ لَهُم مَّا يَشَآءُونَ عِندَ رَبِّهِمْ ۚ ذَٰلِكَ جَزَآءُ ٱلْمُحْسِنِينَ ۝ لِيُكَفِّرَ ٱللَّهُ عَنْهُمْ أَسْوَأَ ٱلَّذِى عَمِلُوا۟ وَيَجْزِيَهُمْ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ ٱلَّذِى كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Dan orang yang membawa kebenaran serta membenarkannya, mereka itulah orang-orang bertakwa. Mereka memperoleh apa saja yang mereka kehendaki di sisi Rabb mereka. Demikianlah balasan bagi orang-orang yang berbuat kebaikan, agar Allah menghapus kesalahan-kesalahan mereka dan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan.”

Kehinaan bagi Orang Kafir

Sebaliknya, Al-Qur’an menjelaskan bahwa orang yang kufur adalah yang paling hina di sisi Allah.

 إِنَّ شَرَّ ٱلدَّوَآبِّ عِندَ ٱللَّهِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ

“Sesungguhnya seburuk-buruk makhluk di sisi Allah ialah orang-orang yang kafir, maka mereka tidak beriman.” (QS Al-Anfāl [8]: 55)

Husni menjelaskan, kehinaan dan kemurkaan Allah ditimpakan kepada mereka karena tiga hal:

  1. Tidak menjaga hubungan dengan Allah dan sesama manusia.
  2. . Mengingkari ayat-ayat Allah.
  3. Memerangi para nabi atau memadamkan risalah yang mereka bawa.

Hal ini ditegaskan dalam QS Āli ‘Imrān ayat 112:

ضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ الذِّلَّةُ أَيْنَ مَا ثُقِفُوا إِلَّا بِحَبْلٍ مِّنَ اللَّهِ وَحَبْلٍ مِّنَ النَّاسِ وَبَآءُو بِغَضَبٍ مِّنَ اللَّهِ وَضُرِبَتْ عَلَيْهِمُ ٱلْمَسْكَنَةُ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَانُوا۟ يَكْفُرُونَ بِـَٔايَٰتِ ٱللَّهِ وَيَقْتُلُونَ ٱلْأَنبِيَآءَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۚ ذَٰلِكَ بِمَا عَصَوا۟ وَّكَانُوا۟ يَعْتَدُونَ

“Mereka ditimpa kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali bila mereka berpegang pada tali Allah dan tali manusia. Mereka kembali mendapat kemurkaan dari Allah dan ditimpa kerendahan. Yang demikian itu karena mereka kafir terhadap ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.”

Lebih jauh, Al-Qur’an juga menegaskan bahwa sekalipun orang kafir memiliki seluruh isi bumi untuk menebus dirinya dari siksa, hal itu tidak akan diterima (QS Ar-Ra‘d [13]: 18; QS Az-Zumar [39]: 47).

Kebebasan Memilih dan Konsekuensinya

Setelah jelas perbedaan antara jalan kemuliaan dan jalan kehinaan, setiap manusia diberi kebebasan untuk menentukan pilihannya.

Allah berfirman dalam QS Al-Baqarah ayat 256:

 لَآ إِكْرَاهَ فِى ٱلدِّينِ ۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشْدُ مِنَ ٱلْغَىِّ

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sungguh telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat.”

Kebebasan itu ditegaskan pula dalam QS Al-Kahf ayat 29:

وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ

“Dan katakanlah: ‘Kebenaran itu datang dari Rabbmu. Maka barang siapa yang ingin beriman, silakan ia beriman. Dan barang siapa yang ingin kafir, biarlah ia kafir.’”

Suara Ulama Kontemporer

M Quraish Shihab dalam Tafsir al-Mishbah menjelaskan bahwa ketakwaan adalah bentuk kesadaran penuh seorang hamba dalam setiap aspek hidupnya. “Takwa itu bukan sekadar ibadah ritual, melainkan kesadaran yang menyertai manusia di mana pun ia berada. Dengan takwa, manusia menjaga hubungannya dengan Allah sekaligus dengan sesama,” tulis Quraish Shihab.

Pandangan ini sejalan dengan uraian Husni Nasution: manusia bebas memilih jalan hidupnya, tetapi hanya ketakwaanlah yang menjanjikan kemuliaan sejati.

Menutup Pilihan Hidup

Kajian ini menegaskan kembali bahwa jalan kemuliaan dan kehinaan telah Allah bentangkan dengan jelas. Tidak ada paksaan dalam memilih, tetapi ada tanggung jawab besar dalam menjalaninya.

“Manusia tinggal menentukan pilihan, lalu konsisten menjalaninya semaksimal mungkin. Jalan takwa adalah jalan mulia, dan itulah pilihan terbaik bagi siapa pun yang menginginkan kemuliaan sejati di sisi Allah,” pungkas Husni Nasution. (syahida)

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.
Example 120x600