ppmindonesia.com Jakarta — Dalam diskursus keislaman, takwa kerap didefinisikan dengan rumusan singkat dan populer: al-imtitsālu li awāmirillāh wajtinābu nawāhīh, yang berarti “melaksanakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya.” Definisi ini, meski bernilai benar secara substansial, seringkali terasa sebagai sebuah beban yang berat dan ideal yang hampir mustahil diraih. Sebab, adakah manusia yang sanggup melaksanakan segala perintah dan meninggalkan segala larangan tanpa cela?
Pertanyaan reflektif ini mengajak kita untuk tidak berhenti pada definisi manusiawi semata, tetapi kembali kepada sumber otoritatif tertinggi, Al-Qur’an, yang menjelaskan secara gamblang siapa sebenarnya orang-orang yang layak menyandang gelar muttaqīn (orang-orang bertakwa) tersebut.
Allah SWT tidak membiarkan umat Islam dalam kebingungan. Justru di lembaran awal Kitab-Nya, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 2 hingga 4, Allah memberikan gambaran yang jelas, aplikatif, dan manusiawi tentang karakter mereka.
Firman Allah SWT:
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ (2) الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ (3) وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ (4)
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, yang mendirikan shalat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada (Kitab) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (Kitab) yang diturunkan sebelum engkau, serta mereka yakin akan adanya akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 2-4)
Dari ayat-ayat mulia ini, Buya Syakur Yasin dalam sebuah kajian tafsirnya menguraikan bahwa Al-Qur’an mendefinisikan takwa melalui lima pilar utama yang membentuk profil seorang muttaqī.
Pertama, Beriman kepada yang Gaib (al-ladzīna yu’minūna bil-ghaib). Ini adalah fondasi utama. Orang bertakwa memiliki visi dan keyakinan yang kuat terhadap hal-hal yang tidak kasat mata, seperti eksistensi Allah, malaikat, dan takdir ilahi. Keyakinan ini menjadi kompas dalam menjalani kehidupan.
Kedua, Mendirikan Shalat (wa yuqīmūnaṣ-ṣalāh). Shalat adalah tiang agama dan bentuk komunikasi ritual yang kontinu dengan Sang Khaliq. Konsistensi dalam mendirikan shalat menunjukkan disiplin spiritual dan upaya untuk senantiasa terhubung dengan sumber petunjuk.
Ketiga, Bersikap Dermawan (wa mimmā razaqnāhum yunfiqūn). Karakter takwa tidak hanya vertikal, tetapi juga horizontal. Seorang yang bertakwa memiliki kepedulian sosial yang tinggi, yang diwujudkan dengan menginfakkan sebagian rezekinya untuk kemanfaatan orang lain. Ini adalah cermin dari rasa syukur dan empati.
Keempat, Beriman pada Wahyu Sebelumnya (wa ladzīna yu’minūna bimā unzila ilaika wa mā unzila min qablik). Ini adalah pilar toleransi dan pengakuan terhadap risalah kenabian sebelumnya. Orang bertakwa tidak bersikap eksklusif, tetapi mampu menghormati pluralitas keyakinan sebagai bagian dari sejarah panjang risalah samawi.
Kelima, Yakin kepada Akhirat (wa bil-ākhirati hum yūqinūn). Keyakinan penuh akan kehidupan akhirat memberikan perspektif jangka panjang. Setiap tindakan di dunia dilandasi oleh kesadaran akan pertanggungjawaban di akhirat kelak, sehingga menjadikan hidupnya lebih terarah dan bermakna.
Dengan penjelasan Al-Qur’an ini, takwa hadir bukan sebagai menara gading kesempurnaan yang tak tersentuh, melainkan sebagai sebuah perjalanan progresif untuk menginternalisasi kelima karakter tersebut. Pemahaman ini membuat takwa menjadi lebih aplikatif dan relevan dengan realitas kehidupan manusia yang penuh dengan dinamika.
Buya Syakur menegaskan, uraian ini bukan untuk menafikan jasa para ulama yang telah meletakkan dasar-dasar ilmu. “Kita berterima kasih kepada mereka. Ilmu kita hari ini adalah warisan mereka. Tugas kita adalah menyempurnakan dan memahami warisan itu dengan perspektif yang lebih kontekstual, senantiasa berpedoman pada Al-Qur’an dan Sunnah,” pungkasnya.
Dengan demikian, menjadi jelas bahwa takwa adalah jalan hidup yang konkret. Ia adalah manifestasi dari keimanan yang hidup, terwujud dalam ibadah yang khusyuk, kedermawanan, toleransi, dan visi akhirat yang kuat. Inilah profil al-muttaqīn yang sesungguhnya, sebagaimana dijelaskan oleh Sang Pencipta langit dan bumi.(emha)
Referensi:
Artikel ini disarikan dari kajian Buya Syakur Yasin



























