Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Bila Ulama Tak Lagi Pewaris, Tapi Pedagang

187
×

Bila Ulama Tak Lagi Pewaris, Tapi Pedagang

Share this article

Penulis; emha | Editor: asyary

ppmindonesia,com Jakarta – Di sebuah malam yang tenang, suara Buya Syakur Yasin MA menggema melalui kajian kitab Fatḥ al-Qarābānī karya Syekh Abdul Qadir Jailani. Kajian itu bukan sekadar rutinitas keagamaan, tetapi menjelma kritik halus—namun tajam—terhadap fenomena yang makin sering kita jumpai: perubahan wajah sebagian ulama dari pewaris nabi menjadi pedagang agama.

Buya Syakur tak menyebut nama, tak menyindir langsung. Tapi kata-katanya menusuk tepat ke jantung persoalan. “Ilmu tanpa amal, amal tanpa ikhlas, itu bukan warisan nabi,” tegasnya. Lebih jauh, beliau menyinggung praktik dakwah yang dipasang tarif, lengkap dengan down payment. Ceramah berubah menjadi kontrak kerja, bukan panggilan jiwa.

Ulama atau Profesional Agama?

Hari ini, kita hidup di zaman yang segalanya bisa dipaketkan, termasuk agama. Ceramah bertarif tinggi tak lagi mengejutkan. Tokoh-tokoh agama tampil dalam brosur, diatur jamnya, temanya, bahkan disertai syarat teknis: transportasi, penginapan, dan biaya konsumsi. Tidak salah, tapi patut dipertanyakan: masihkah mereka menyandang amanah waratsatul anbiya—pewaris para nabi?

Dalam Islam, ulama adalah mereka yang mewarisi tugas kenabian, bukan sekadar karena hafal ayat atau fasih bicara, tapi karena mereka hidup dengan ilmu, mengamalkannya, dan menjaganya dengan keikhlasan. Jika ilmu hanya dihafal, amal dijadikan citra, dan dakwah menjadi ladang bisnis, maka warisan kenabian telah berubah tangan—dari pewaris sejati kepada pelaku pasar.

Panggung dan Pundi

Fenomena ini tidak berdiri sendiri. Ia tumbuh di tengah masyarakat yang memuja tampilan. Popularitas menjadi jaminan kebenaran. Ceramah viral lebih dihargai ketimbang ceramah mendalam. Ustaz laris lebih ditunggu ketimbang alim yang tersembunyi. Panggung menjadi kiblat, dan pundi-pundi pun berlimpah.

Ironisnya, masyarakat sering ikut andil dalam komodifikasi ini. Mereka meminta “ustaz yang lucu”, “yang bisa bawa suasana”, atau “yang sudah sering di TV”. Dakwah menjadi hiburan. Pesan ilahi dibungkus seperti konten promosi.

Menyaring yang Tersisa

Tentu tidak semua ulama demikian. Masih banyak yang memilih jalan sunyi, tidak dikenal kamera, tapi dikenal langit. Yang bicara dengan ilmu dan diam dengan hikmah. Yang datang bukan karena bayaran, melainkan karena panggilan. Namun suara mereka tenggelam di tengah gemuruh panggung yang diramaikan para pedagang agama.

Dalam konteks ini, Buya Syakur mengajak kita kembali kepada hakikat dakwah: menyampaikan kebenaran, dengan ilmu yang diamalkan, dan hati yang ikhlas. Dakwah bukan profesi. Ia adalah amanah.

Jangan Hanya Mendengar, Tapi Membedakan

Masyarakat kini bukan hanya pendengar, tapi penentu. Kita punya hak untuk memilih siapa yang layak didengar, dan siapa yang sekadar menjual wacana. Jangan hanya terpesona dengan retorika, tapi lihatlah integritas. Jangan hanya tersihir dengan gaya, tapi perhatikan apakah ada cahaya.

Jika tidak, maka kita sendiri yang menjadikan agama sebagai komoditas. Dan ketika itu terjadi, jangan salahkan jika pewaris nabi makin langka—karena kita lebih memelihara pedagangnya.

Kembali ke Amanah

Maka penting untuk mengingatkan, bahwa ulama sejati bukan mereka yang tampil paling depan, tapi mereka yang paling dalam. Yang tidak sekadar menghafal, tapi menghidupi. Yang tidak hanya berceramah, tapi mencerminkan. Yang tidak menjual dakwah, tapi mewakafkan hidupnya untuk dakwah.

Sebab jika ulama telah berubah menjadi pedagang, maka yang diperjualbelikan bukan hanya ilmu, tapi nurani umat.(emha)

*Artikel ini disarikan dari kajian Buya Syakur Yasin dari  kitab Fatḥ al-Qarābānī karya Syekh Abdul Qadir.

Example 120x600