Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Sujud: Bahasa Kehidupan dalam Al-Qur’an

195
×

Sujud: Bahasa Kehidupan dalam Al-Qur’an

Share this article

Penulis: syahida| Editor: asyary|

ppmindonesia.com. JakartaSujud, gerakan sederhana yang menjadi bagian inti dalam shalat, ternyata bukan hanya ritual ibadah. Dalam Al-Qur’an, sujud dipahami sebagai bahasa universal kehidupan yang mencerminkan ketundukan seluruh makhluk kepada Sang Pencipta. Bukan hanya manusia, melainkan juga alam semesta, benda langit, hingga makhluk tak kasat mata.

Al-Qur’an menyebutkan:

وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مِن دَابَّةٍ وَالْمَلَائِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
“Dan kepada Allah bersujud segala apa yang ada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi, serta para malaikat, dan mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri.” (QS An-Nahl [16]:49)

Ayat ini menunjukkan bahwa sujud bukanlah monopoli manusia beriman, melainkan ekspresi fitrah seluruh ciptaan.

Sujud Sebagai Simbol Ketundukan

Menurut pengkaji Al-Qur’an Husni Nasution, sujud adalah simbol paling konkret dari sikap tunduk dan rendah hati. “Manusia dalam sujud meletakkan bagian paling mulia dari tubuhnya, yaitu wajah, ke tanah. Itulah simbol bahwa di hadapan Allah tidak ada kesombongan yang layak dipertahankan,” ujarnya dalam kajian Syahida.

Hal ini ditegaskan pula dalam QS Al-Hajj [22]:18:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَمَن فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِّنَ النَّاسِ ۖ وَكَثِيرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُ ۗ
“Tidakkah kamu melihat bahwa kepada Allah bersujud siapa yang ada di langit, siapa yang ada di bumi, matahari, bulan, bintang-bintang, gunung, pohon-pohon, binatang-binatang, dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas ditimpa azab…”

Sujud: Bahasa Semesta

Jika diperhatikan, gerak kehidupan sehari-hari sesungguhnya mencerminkan sujud. Pohon yang menunduk ditiup angin, air yang mengalir ke tempat rendah, bahkan rotasi bumi yang teratur di orbitnya—semua menunjukkan ketundukan pada hukum Ilahi.

“Al-Qur’an mengajarkan kita bahwa sujud bukan sekadar gerakan formal shalat, tapi bahasa kosmis: bahasa kepatuhan seluruh makhluk pada aturan Tuhan,” terang Husni.

Sujud sebagai Jalan Kedekatan

Bagi manusia, sujud juga menjadi momen paling dekat dengan Allah. Rasulullah SAW bersabda: “Seorang hamba paling dekat dengan Rabb-nya adalah ketika ia bersujud…” (HR. Muslim). Maka, sujud bukan hanya gerakan fisik, melainkan keadaan spiritual yang meluruhkan ego dan menghidupkan kerendahan hati.

QS As-Sajdah [32]:15 menegaskan ciri orang beriman sejati:

إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا الَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِهَا خَرُّوا سُجَّدًا وَسَبَّحُوا بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami hanyalah mereka yang apabila diperingatkan dengannya, mereka segera bersujud seraya bertasbih memuji Tuhan mereka, dan mereka tidak menyombongkan diri.”

Bahasa Kehidupan

Kajian Al-Qur’an bil Qur’an membuka kesadaran bahwa sujud bukan sekadar ibadah, melainkan tanda fitrah kehidupan. Alam semesta bersujud dengan caranya, malaikat bersujud dengan ketaatannya, dan manusia dipanggil untuk bersujud dengan kesadaran imannya.

“Bahasa kehidupan yang paling murni adalah sujud,” tutup Husni Nasution. “Ia adalah bahasa tanpa kata, tapi mampu menyampaikan ketundukan paling dalam kepada Allah, Sang Pencipta.” (syahida)

*Husni Nasution, alumnus IAIN Sumatera Utara dari Bogor, dikenal sebagai pemikir kebangsaan dan pengkaji Al-Qur’an. Ia dikenal dengan konsep ‘Nasionalisme Religius’ yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dan keindonesiaan, serta perhatian besar terhadap solidaritas sosial.

 

Example 120x600