Scroll untuk baca artikel
BeritaPuisi dan Sastra

Ombak yang Tak Pernah Tidur

163
×

Ombak yang Tak Pernah Tidur

Share this article

Penulis: dimas| Editor; asyary

Perahu - Perahu kayu di tepi pantai Palabuhanratu saat matahari terbit. Ombak kecil berkejaran di belakangnya. (ilutrasi perahu nelayan)

Ombak yang Tak Pernah Tidur

 Oleh; Dimas 

Pagi itu, kabut masih menggantung di atas laut. Ombak memecah batu karang di bibir pantai Palabuhanratu, mengirimkan buih putih yang beterbangan seperti bunga melati di udara. Di kejauhan, perahu kayu milik Pak Rahmat bergoyang perlahan, menunggu angin yang bersahabat.

Bagi Rahmat, laut bukan sekadar tempat mencari ikan. Ia adalah sahabat, guru, sekaligus misteri yang mengajarkan kesabaran dan hormat.

Setiap kali berangkat melaut, Rahmat selalu menundukkan kepala, menggumamkan doa, lalu menaburkan segenggam beras ke laut.

“Bukan sesajen,” katanya kepada anaknya, Dimas. “Ini tanda terima kasih. Laut sudah memberi kita makan.”

Bagi Dimas yang baru berusia dua belas tahun, kebiasaan itu tampak aneh. Namun setiap kali ombak menghantam perahu, ia tahu bahwa laut memang punya nyawa.

Sore itu, Rahmat pulang tanpa hasil. Angin berbelok arah, jaringnya kosong. Ia duduk di tepi pantai, memandangi cakrawala yang memerah.
“Laut sedang murung,” gumamnya.
“Murung kenapa, Yah?” tanya Dimas polos.
“Mungkin karena manusia lupa berterima kasih.”

Malamnya badai datang dari arah selatan. Angin meraung, petir menyambar, dan perahu-perahu nelayan terombang-ambing. Di antara gelap dan kilat, Rahmat melihat cahaya hijau kebiruan menari di atas ombak, lalu menghilang.

Keesokan harinya, dua perahu hilang. Para nelayan gemetar mendengar kabar itu. Tapi Rahmat hanya diam. Dalam hatinya, ia tahu laut sedang menegur mereka—menegur karena keserakahan dan kelalaian menjaga alam.

“Laut bukan tempat buang amarah,” ujar Rahmat dalam rapat nelayan. “Kalau kita mau hasil, kita juga harus mau menjaga.

Tak ada yang berani membantah. Suara laut sore itu terasa lebih berat dari biasanya—seolah ikut mendengar.

Hari berganti minggu. Dimas semakin sering ikut melaut. Ia belajar membaca arah angin, mengenali bintang, dan merasakan “suara laut” yang hanya bisa didengar lewat hati.
“Kalau laut tenang tapi hatimu gelisah,” kata Rahmat, “jangan berangkat.”

Dimas tersenyum. Ia mulai mengerti. Laut memang tak pernah tidur. Ia hanya berganti wajah—kadang ramah, kadang murka. Tapi di balik semuanya, laut menyimpan kasih bagi mereka yang tahu cara menghormatinya.

Senja itu, Rahmat dan Dimas duduk di perahu kecil mereka. Langit berubah ungu. Ombak datang perlahan, membawa suara seperti nyanyian jauh dari selatan.

“Yah,” tanya Dimas pelan, “kalau aku besar, boleh aku jadi nelayan juga?”
Rahmat tersenyum.
“Boleh, Nak. Tapi jangan anggap laut cuma tempat mencari rezeki. Anggaplah laut sebagai guru. Karena setiap ombak yang datang selalu membawa pelajaran.”

Dan di antara desir angin yang lembut, laut seolah mengamini kata-kata itu.

“Setiap ombak membawa pesan. Bagi yang sabar, laut bukan sekadar sumber hidup—ia adalah cermin dari jiwa manusia.”

🐚Catatan ;

Cerpen ini menggambarkan kehidupan nelayan Palabuhanratu yang hidup berdampingan dengan mitos dan alam. Di balik kisah sederhana, tersimpan pesan ekologis dan spiritual: bahwa keseimbangan  antara manusia dan laut hanya bisa dijaga dengan rasa syukur dan hormat

Example 120x600