ppmindonesia.com.Jakarta – Dalam tradisi Bibel, kisah Adam dan Hawa sering dihubungkan dengan “Tree of Knowledge of Good and Evil” — pohon pengetahuan yang menjadi awal jatuhnya manusia dari surga. Namun dalam Al-Qur’an, kisah ini mengambil bentuk yang berbeda: tidak ada istilah “pengetahuan baik dan jahat”, melainkan disebut dengan kata الشَّجَرَة (as-syajarah) — pohon.
وَقُلْنَا يَا آدَمُ اسْكُنْ أَنْتَ وَزَوْجُكَ الْجَنَّةَ وَكُلَا مِنْهَا رَغَدًا حَيْثُ شِئْتُمَا وَلَا تَقْرَبَا هَٰذِهِ الشَّجَرَةَ فَتَكُونَا مِنَ الظَّالِمِينَ
“Dan Kami berfirman, ‘Wahai Adam, tinggallah engkau dan istrimu di surga, dan makanlah dengan nikmat apa saja yang kamu berdua sukai. Tetapi janganlah kamu berdua mendekati pohon ini, karena akan termasuk orang-orang yang zalim.’” (QS Al-Baqarah [2]: 35)
Ayat ini tidak menjelaskan jenis pohon tersebut, tidak pula menyebutnya sebagai sumber pengetahuan. Karena itu, kajian Qur’an bil Qur’an oleh Syahida mencoba menelusuri akar makna as-syajarah secara tematik — apakah ia sekadar pohon biologis, ataukah simbol bagi struktur sosial dan epistemologis dalam narasi Qur’ani?
Makna Leksikal “Syajarah”: Dari Batang ke Struktur
Kata شجر (syajar) dalam bahasa Arab berarti tumbuh saling bertaut, bercabang, dan berjalin, sebagaimana pohon yang memiliki cabang dan ranting.
Namun, akar katanya juga bermakna perselisihan atau pertentangan — karena dua hal yang tasyājara berarti saling berselisih atau bertentangan.
Contohnya dalam ayat berikut:
فَتَنَازَعُوا أَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ وَأَسَرُّوا النَّجْوَىٰ
(“Mereka saling berselisih di antara mereka.”) (QS Ṭāhā [20]: 62)
Makna semantik ini mengandung dimensi simbolik yang kuat: syajarah bukan hanya objek botanis, tetapi metafora bagi sistem yang berjalin — baik pengetahuan, kekuasaan, maupun konflik.
Syajarah Terlarang: Bukan Soal Buah, Tapi Struktur Kekuasaan
Jika dibandingkan dengan narasi Kitab Kejadian, “pohon pengetahuan” menggambarkan pembukaan kesadaran moral. Namun dalam Al-Qur’an, larangan terhadap “syajarah” tampak lebih terkait dengan batas kekuasaan dan amanah, bukan larangan pengetahuan.
Dalam QS Ṭāhā [20]: 120-121, Iblis menggoda Adam bukan dengan janji rasa ingin tahu, tetapi dengan kekuasaan dan keabadian:
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ
“Lalu setan membisikkan kepadanya: ‘Wahai Adam, maukah aku tunjukkan kepadamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?’” (QS Ṭāhā [20]: 120)
Ayat ini membuka tafsir baru: syajarah bukan sekadar pohon biologis, melainkan simbol dari sistem kekuasaan dan keabadian — struktur yang menggoda manusia untuk melampaui batas perintah Allah.
Adam tergoda bukan oleh “pengetahuan”, tetapi oleh ambisi dominasi.
Pohon dalam Al-Qur’an: Simbol Pengetahuan dan Sistem
Dalam Al-Qur’an, syajarah digunakan dalam banyak konteks yang menunjukkan struktur sosial dan kosmologis.
Misalnya:
شَجَرَةً مُّبَارَكَةً زَيْتُونَةً لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ
“(Cahaya itu) berasal dari pohon yang diberkahi, yaitu zaitun, yang tidak tumbuh di sebelah timur dan tidak pula di sebelah barat.” (QS An-Nūr [24]: 35)
Dalam ayat ini, syajarah menjadi simbol sumber cahaya Ilahi — bukan objek duniawi.
Sedangkan dalam QS Ibrahim [14]: 24, Allah menggambarkan kalimat thayyibah (ucapan yang baik) sebagai pohon yang baik:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan tentang kalimat yang baik seperti pohon yang baik; akarnya kuat dan cabangnya menjulang ke langit.” (QS Ibrahim [14]: 24)
Dari dua contoh ini, tampak bahwa syajarah dalam Qur’an tidak selalu berarti pohon fisik, melainkan struktur ilmu dan nilai, tempat tumbuhnya amal, iman, dan sistem kehidupan.
Dari Mitos Eden ke Etika Qur’ani
Al-Qur’an tidak memposisikan “pohon terlarang” sebagai awal dosa asal.
Ia justru menegaskan kemampuan manusia untuk belajar dari kesalahan dan bertobat, seperti dinyatakan dalam QS Al-Baqarah [2]: 37:
فَتَلَقَّىٰ آدَمُ مِن رَّبِّهِ كَلِمَاتٍ فَتَابَ عَلَيْهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
“Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, maka Dia pun menerima taubatnya. Sungguh, Dia Maha Penerima taubat, Maha Penyayang.”
Artinya, pengetahuan tidak dilarang, tetapi harus dibingkai dalam ketaatan dan kesadaran etis.
Larangan terhadap “syajarah” bukanlah penolakan terhadap ilmu, melainkan peringatan agar manusia tidak menjadikan ilmu sebagai alat kekuasaan tanpa bimbingan Ilahi.
Pohon Ilmu dan Struktur Sosial: Tafsir Kontemporer
Dalam konteks sosial modern, syajarah dapat dibaca sebagai metafora struktur pengetahuan dan sistem sosial.
Ketika ilmu, kekuasaan, dan ekonomi saling bertaut tanpa nilai spiritual, sistem itu menjadi “pohon terlarang” yang menggoda manusia untuk merasa abadi dan tak tergantung pada Tuhan.
Dengan demikian, kisah Adam dalam Qur’an mengandung kritik terhadap kesombongan epistemologis manusia modern:
ketika ilmu tidak lagi mengantarkan pada kebenaran, tetapi menjadi sarana dominasi dan eksploitasi.
Kembali ke Akar Ilmu yang Thayyib
Kajian Qur’an bil Qur’an oleh Syahida menegaskan bahwa istilah as-syajarah dalam Qur’an mempunyai lapisan makna luas — dari pohon fisik, simbol cahaya, hingga struktur pengetahuan.
Larangan terhadap “syajarah” bukanlah larangan untuk berpikir, melainkan peringatan agar pengetahuan tidak digunakan tanpa kesadaran moral dan spiritual.
Dengan demikian, syajarah terlarang dapat dibaca sebagai sistem nilai yang terputus dari Allah, sedangkan syajarah thayyibah adalah struktur ilmu yang berakar pada kebenaran dan tumbuh menuju cahaya.
“Larangan terhadap syajarah bukan penolakan terhadap ilmu, tetapi peringatan agar pengetahuan tidak menjadi alat kekuasaan tanpa bimbingan Ilahi.”
*Syahida adalah kajian Qur’an dengan menggunakan metode tafsirul Quran bil ayatil Quran artinya menguraikan al quran dengan merujuk ayat ayat al quran, dalam upaya sosialisasi dan implementasi kandungan al Quran



























