Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Menjadi Muslim di Zaman Kekacauan Moral: Jalan Tengah Al-Qur’an

147
×

Menjadi Muslim di Zaman Kekacauan Moral: Jalan Tengah Al-Qur’an

Share this article

Penulis: syahida | Editor; asyary

“Menjadi Muslim di zaman ini bukan sekadar beragama, tetapi menjaga kejernihan hati di tengah kabut moral.” (ilustrasi.doc.ppm)

ppmindonesia.com.Jakarta– Di tengah derasnya arus informasi dan godaan materialisme, menjadi Muslim yang berpegang pada nilai Qur’ani bukan hal mudah.

Dunia hari ini hidup dalam kekacauan moral: kejujuran dikalahkan oleh pencitraan, kesalehan bergeser menjadi simbol sosial, dan kebebasan diartikan sebagai pembebasan dari nilai.

Namun, Al-Qur’an justru datang bukan untuk menolak zaman, tetapi untuk menuntun manusia agar tetap seimbang — hidup di dunia tanpa tenggelam di dalamnya.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ
“Dan demikianlah Kami jadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia.”— (QS Al-Baqarah [2]:143)

Konsep ummatan wasathan (umat pertengahan) inilah yang menjadi kunci untuk bertahan secara spiritual di tengah kekacauan moral modern.

Jalan Tengah: Antara Fanatisme dan Relativisme

Kehidupan modern sering memaksa manusia untuk memilih ekstrem: antara menolak semua hal baru dengan alasan agama, atau menerima semua hal tanpa nilai.
Padahal, Al-Qur’an menawarkan jalan tengah yang bijak — tidak menolak dunia, tapi tidak tunduk padanya.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan peliharalah kami dari siksa neraka.”— (QS Al-Baqarah [2]:201)

Ayat ini tidak memisahkan antara dunia dan akhirat, tetapi menyatukan keduanya dalam satu visi keseimbangan.
Islam bukan agama yang memerintahkan menjauh dari dunia, melainkan mengajarkan bagaimana dunia dikelola dengan kesadaran Ilahi.

Kekacauan Moral: Tanda Hilangnya Nur (Cahaya)

Salah satu ciri zaman kekacauan moral adalah hilangnya cahaya petunjuk (nur) dari hati manusia.
Kebenaran menjadi relatif, kebohongan menjadi strategi, dan agama sering dijadikan alat legitimasi.

Al-Qur’an mengingatkan:

اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ
“Allah adalah cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya adalah seperti sebuah lubang yang di dalamnya ada pelita.”— (QS An-Nūr [24]:35)

Cahaya ini bukan hanya cahaya fisik, tetapi cahaya kesadaran yang menuntun manusia membedakan benar dan salah.
Ketika cahaya ini padam, manusia akan berjalan dalam gelap meski hidup di era penuh teknologi dan pengetahuan.

Krisis Moral dan Ilusi Kesalehan

Fenomena sosial keagamaan hari ini menunjukkan paradoks besar:
kesalehan tampak meningkat di permukaan, namun nilai-nilai moral dasar—seperti kejujuran, empati, dan amanah—justru melemah.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ ۝ الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ ۝ الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
“Maka celakalah orang-orang yang salat, (yaitu) mereka yang lalai dari salatnya, yang berbuat riya.”— (QS Al-Mā‘ūn [107]:4–6)

Ayat ini menggambarkan bahaya formalitas ibadah tanpa kesadaran spiritual.
Di tengah kekacauan moral, yang dibutuhkan bukan hanya ritual, tetapi pembenahan niat dan keikhlasan.

Meneguhkan Hati di Tengah Ujian Zaman

Setiap masa memiliki fitnahnya sendiri.
Di masa Nabi, fitnah itu berupa kekafiran dan penyembahan berhala.
Di masa kini, fitnah itu berupa penyembahan terhadap ego, opini, dan kekuasaan.

فَاسْتَقِمْ كَمَا أُمِرْتَ وَمَن تَابَ مَعَكَ وَلَا تَطْغَوْا
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar sebagaimana diperintahkan kepadamu, dan janganlah kamu melampaui batas.”
— (QS Hūd [11]:112)

Menjadi Muslim sejati berarti teguh dalam prinsip, tapi lembut dalam perilaku.
Jalan tengah Al-Qur’an mengajarkan istikamah, bukan ekstremitas.

Islam: Etika Kesadaran, Bukan Simbol

Kebangkitan Islam sejati bukanlah kebangkitan simbol, tapi kesadaran moral yang membumi.
Rasulullah ﷺ pernah bersabda:
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”(HR. Ahmad)

Akhlak adalah buah dari iman yang hidup.
Tanpa akhlak, semua atribut keagamaan menjadi kosong.
Tanpa kesadaran moral, dunia kehilangan arah meski penuh ustaz, dai, dan orator.

 Cahaya Jalan Tengah

Kekacauan moral bukan akhir zaman, tapi panggilan untuk kembali kepada nilai Ilahi.
Al-Qur’an memberi arah, agar manusia tidak larut dalam ekstrem kanan maupun kiri.

وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan dan tidak kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.”— (QS Al-Furqān [25]:67)

Begitulah prinsip Qur’ani: moderat dalam sikap, seimbang dalam tindakan, dan lurus dalam tujuan.
Menjadi Muslim di zaman kekacauan moral bukan berarti menarik diri, tapi menjadi cahaya di tengah kegelapan.

“Jalan tengah Qur’an bukan kompromi, tetapi keseimbangan antara iman dan realitas.”
“Kebangkitan Islam sejati dimulai dari kejernihan hati, bukan dari simbol-simbol yang bising.” (syahida)

Syahida – merupakan  telaah al quran dengan menggunakan metode “tafsir qur’an bil ayatil qur’an artinya menguraikan al qur’an dengan merujuk apada ayat ayat alquran..
Example 120x600