Air dari Gunung yang Tak Lagi Milik Kami
Cerita pendek oleh Anshori
Dulu, setiap pagi, embun di Desa Ciburuan menetes lembut di ujung daun kopi dan suara gemericik air dari mata air Tanjakan Menir menjadi musik yang membangunkan ayam-ayam jantan. Anak-anak mandi di pancuran batu, para ibu menimba air untuk memasak, dan sawah selalu hijau sepanjang tahun.
Air dari gunung adalah anugerah—begitu kata kakek dulu. “Air ini dari langit, turun lewat batu, disaring tanah, dikasih Allah buat kita semua,” ujarnya sambil menatap aliran bening yang tak pernah kering.
Tapi itu dulu, sebelum truk-truk tangki datang membawa alat-alat besar.
Mereka bilang, air dari Ciburuan akan jadi air minum untuk seluruh negeri.
Mula-mula warga bangga. Ada janji pekerjaan, ada kompensasi, dan katanya, perusahaan akan membangun jalan serta fasilitas air bersih untuk desa.
Namun, tiga tahun berlalu, pancuran di dekat rumah mulai mengecil. Sumur di ladang kering lebih cepat dari biasanya. Para ibu yang dulu menimba air kini harus menunggu giliran di truk penjual air galon.
Setiap kali Pak Lurah lewat membawa air minum dalam kemasan ke rumahnya, anak-anak kecil sering bertanya polos,
“Bu, air gunung kita sekarang dijual di kota ya?”
Ibu mereka hanya tersenyum kecut. “Iya, Nak. Air dari gunung kita sekarang punya orang lain.”
Sore hari, di warung kayu depan masjid, para petani suka berbincang pelan.
“Dulu, kita minum dari sumber tanpa bayar,” kata Pak Ayi, yang kini membeli air galon dua kali seminggu.
“Sekarang, mau minum air sendiri saja, harus bayar,” sahut yang lain.
Hening sejenak. Angin gunung berembus, membawa bau tanah kering.
Di kejauhan, logo besar perusahaan air kemasan itu tampak berdiri megah di dinding pabriknya: “Dari Kesegaran Pegunungan untuk Indonesia.”
Slogan itu terasa menyakitkan bagi warga Ciburuan, karena di rumah-rumah mereka, kesegaran itu sudah tak lagi mengalir.
Anak-anak kini tak lagi mandi di pancuran. Mereka hanya melihat pancuran tua yang kering, tinggal lumut dan batu hitam yang retak.
Sementara di kota, air dari gunung mereka dijual mahal, dalam botol yang mengkilap.
Kakek sudah lama tiada. Tapi kata-katanya selalu diingat oleh cucunya, Nisa, yang kini duduk di bangku SMP.
“Kalau air sudah jadi barang dagangan, berarti manusia sudah lupa dari mana kehidupan berasal.”
Setiap kali hujan turun, Nisa berlari menampung air dari atap rumahnya dengan ember besar.
Itulah satu-satunya cara ia bisa minum air dari langit—tanpa label, tanpa harga, tanpa merek.



























