Scroll untuk baca artikel
BeritaOpini

Wacana Intelektual Qur’ani: Akal, Ijtihad, Ilmu, dan Kritik terhadap Taklid

135
×

Wacana Intelektual Qur’ani: Akal, Ijtihad, Ilmu, dan Kritik terhadap Taklid

Share this article

Penulis; syahida| Editor; asyary

Siluet pena di atas cahaya Al-Qur’an terbuka — simbol akal dan wahyu bersinergi. (ilustrasi(

Wacana Intelektual Qur’ani: Akal, Ijtihad, Ilmu, dan Kritik terhadap Taklid
Oleh: Redaksi Syahida Qur’an bil Qur’an

Salah satu revolusi terbesar yang dibawa Al-Qur’an adalah pengangkatan akal sebagai instrumen utama keimanan. Al-Qur’an tidak menyeru manusia untuk percaya secara buta, tetapi mengajak berpikir, meneliti, dan menggunakan nalar.

Di tengah dunia Islam yang kadang terjebak dalam rutinitas dogmatis dan pengulangan tradisi, pesan Qur’an tentang ijtihad dan kebebasan berpikir menjadi panggilan untuk membangkitkan kembali intelektualitas yang sejati.

أَفَلَا تَعْقِلُونَ

“Tidakkah kamu berakal?” (QS Al-Baqarah [2]: 44)

Kalimat singkat ini, yang berulang lebih dari 13 kali dalam Al-Qur’an, bukan sekadar teguran moral, melainkan perintah untuk menggunakan potensi rasionalitas manusia dalam memahami wahyu dan kehidupan.

Akal sebagai Amanah Ilahiah

Akal dalam Al-Qur’an bukan sekadar kemampuan logis, melainkan instrumen spiritual untuk mengenali kebenaran. Allah memuliakan manusia dengan potensi berpikir sebagai dasar tanggung jawab moral.

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.” (QS Ali Imran [3]: 190)

Ayat ini menunjukkan bahwa keimanan sejati muncul dari perenungan terhadap realitas, bukan sekadar pengulangan dogma. Orang berakal (ulul albab) adalah mereka yang menyatukan ilmu dan iman, menghubungkan logika dengan rasa takwa.

Ijtihad: Kewajiban untuk Bergerak dalam Ilmu

Konsep ijtihad — berpikir dan berupaya keras untuk menemukan makna kebenaran — merupakan roh dari peradaban Islam. Tanpa ijtihad, ajaran agama membeku, dan masyarakat kehilangan arah dinamisnya.

Al-Qur’an mendorong manusia untuk selalu mencari dan meneliti:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS Taha [20]: 114)

Permohonan Nabi sendiri untuk terus bertambah ilmu adalah simbol bahwa proses belajar tak pernah berhenti. Dalam perspektif Qur’an, tidak ada “otoritas final” selain Allah. Semua pemahaman manusia — termasuk penafsiran ulama — bersifat relatif dan perlu diuji ulang dalam cahaya wahyu.

Ilmu: Fondasi Keimanan dan Peradaban

Ilmu dalam Al-Qur’an bukan sekadar akumulasi pengetahuan, tetapi pencarian yang membawa manusia pada kesadaran spiritual.

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Katakanlah: Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sesungguhnya hanya orang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” (QS Az-Zumar [39]: 9)

Ayat ini menegaskan superioritas ilmu atas kebodohan, serta menolak pandangan bahwa iman cukup dengan ikut-ikutan. Islam yang sejati tidak lahir dari taklid, melainkan dari ma’rifah — pengetahuan yang sadar dan berakar pada pemahaman terhadap ayat-ayat Allah.

Kritik terhadap Taklid: Bahaya Kemandekan Intelektual

Al-Qur’an secara tajam mengkritik perilaku taklid, yaitu mengikuti pendapat nenek moyang tanpa berpikir.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan (tetap mengikuti), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?” (QS Al-Baqarah [2]: 170)

Ayat ini adalah kritik keras terhadap budaya stagnan yang menolak pembaruan. Islam tidak menghendaki umatnya menjadi pengikut pasif, tetapi peneliti aktif yang terus menggali makna.

Taklid bukan hanya masalah teologis, tetapi juga sosial. Ia melahirkan struktur otoritarian yang membungkam ijtihad, dan menjauhkan umat dari dinamika zaman.

Qur’an Bil Qur’an: Menyusun Etos Intelektual

Melalui metode Qur’an bil Qur’an, kita menemukan kesatuan tema antara akal, ilmu, dan tanggung jawab moral. Akal tanpa takwa bisa menyesatkan, sementara iman tanpa akal melahirkan fanatisme.

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Sesungguhnya yang paling takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS Fathir [35]: 28)

Ilmu yang sejati adalah yang menumbuhkan rasa takut dan hormat kepada Allah, bukan kesombongan intelektual. Dengan demikian, etos intelektual Qur’ani adalah keseimbangan antara akal dan adab, ijtihad dan tawakal, ilmu dan hikmah.

Dari Dogma ke Dinamika

Wacana intelektual Qur’ani adalah seruan untuk membebaskan umat dari kungkungan taklid dan mengembalikan Islam kepada semangat awalnya — agama refleksi, penelitian, dan kebebasan berpikir.

Islam tidak takut pada kritik; justru ia tumbuh dari kritik terhadap kejumudan. Maka, tugas umat hari ini adalah menghidupkan kembali tradisi ijtihad, menjadikan ilmu sebagai ibadah, dan mengembalikan akal kepada kedudukannya yang mulia sebagai amanah Ilahiah.

*Syahida merupakan kajian Qur’an dengan menggunakan metode tafsirul Quran bil ayatil Quran artinya menguraikan al quran dengan merujuk ayat ayat al quran, dalam upaya sosialisasi dan implementasi kandungan al Quran
Example 120x600