Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Mengapa Banyak Muslim Tidak Qur’ani? Antara Tradisi dan Wahyu

134
×

Mengapa Banyak Muslim Tidak Qur’ani? Antara Tradisi dan Wahyu

Share this article

Penulis; syahida| Editor; asyary

Tangan seseorang memegang mushaf terbuka di tengah keramaian kota — simbol ketegangan antara dunia modern dan nilai wahyu *lustrasi)

ppmindonesia.com.Jakarta – Fenomena menarik dan sekaligus memprihatinkan di dunia Islam hari ini adalah banyaknya umat Muslim yang mengaku beriman pada Al-Qur’an, tetapi hidupnya jauh dari nilai-nilai Qur’ani.
Masjid megah berdiri, tilawah menggema, hafalan merata—namun perilaku sosial, politik, dan ekonomi umat sering kali bertentangan dengan semangat wahyu.

Inilah yang disebut para mufasir modern sebagai “krisis makna keberagamaan”: umat mencintai simbol, tetapi melupakan substansi. Islam dijalankan sebagai tradisi turun-temurun, bukan kesadaran yang lahir dari pembacaan kritis terhadap Al-Qur’an.

وَقَالَ الرَّسُولُ يَا رَبِّ إِنَّ قَوْمِي اتَّخَذُوا هَٰذَا الْقُرْآنَ مَهْجُورًا

“Dan berkatalah Rasul: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku menjadikan Al-Qur’an ini (sesuatu) yang ditinggalkan.’” (QS Al-Furqan [25]: 30)

Ayat ini menggambarkan ratapan Nabi Muhammad ﷺ sendiri, yang sedih karena umatnya menjauh dari Al-Qur’an — bukan dalam bentuk fisik, tetapi dalam penghayatan dan penerapan.

Antara Wahyu dan Tradisi: Ketika Agama Berubah Menjadi Kebiasaan

Dalam banyak masyarakat Muslim, ajaran agama berubah menjadi sistem kebiasaan yang diwariskan tanpa penyadaran makna. Banyak orang membaca Al-Qur’an hanya untuk keberkahan, bukan untuk pemahaman dan transformasi diri.

Padahal, Al-Qur’an berulang kali menyeru manusia untuk menggunakan akal, berpikir, dan memahami pesan wahyu:

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.” (QS Sad [38]: 29)

Ayat ini menggarisbawahi fungsi Al-Qur’an sebagai panduan hidup yang perlu direnungkan (tadabbur), bukan sekadar dibaca secara ritual. Tradisi menjadi masalah ketika ia menggantikan makna wahyu dengan kebiasaan yang tidak lagi hidup secara spiritual dan rasional.

Ketaatan yang Tidak Qur’ani: Dari Taklid ke Fanatisme

Salah satu akar masalah mengapa banyak Muslim tidak Qur’ani adalah taklid buta — mengikuti pendapat ulama atau tokoh tanpa upaya memahami sendiri.

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ

“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Apakah mereka akan (tetap mengikuti), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk?” (QS Al-Baqarah [2]: 170)

Ayat ini adalah kritik keras terhadap pola pikir pasif dan feodal yang membunuh daya kritis umat. Islam datang untuk membebaskan akal manusia dari dominasi buta terhadap otoritas tradisi, baik budaya maupun keagamaan.

Menjadi Qur’ani berarti berani berpikir dan menimbang, bukan sekadar ikut arus mayoritas.

Qur’an Bil Qur’an: Kembali ke Metode Nabi

Metode Qur’an bil Qur’an—menafsirkan ayat dengan ayat lain—adalah upaya untuk memulihkan otoritas wahyu di atas semua bentuk interpretasi yang kaku.

اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُّتَشَابِهًا مَّثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Kitab yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, membuat kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya merinding karenanya.” (QS Az-Zumar [39]: 23)

Ayat ini menggambarkan Al-Qur’an sebagai sistem yang saling menjelaskan dan menguatkan dirinya sendiri. Dengan membaca Al-Qur’an secara internal—mencari tema-tema yang saling berkelindan—kita menemukan struktur berpikir wahyu yang hidup dan kontekstual.

Metode ini menuntut keberanian intelektual dan kerendahan hati spiritual, agar tafsir tidak menjadi milik segelintir elite, melainkan jalan hidup umat.

Dari Ritual ke Kesadaran: Menghidupkan Kembali Ruh Qur’ani

Umat Qur’ani bukanlah umat yang sekadar taat secara ritual, tetapi yang hidup dalam kesadaran etik, sosial, dan intelektual sebagaimana diajarkan Al-Qur’an.

إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk kepada (jalan) yang paling lurus.”(QS Al-Isra [17]: 9)

Petunjuk ini bersifat komprehensif: mencakup ekonomi, keadilan, ilmu, dan kemanusiaan. Maka, menjadi Qur’ani berarti menghadirkan nilai-nilai wahyu dalam seluruh aspek kehidupan—dari keluarga hingga pemerintahan, dari etika pribadi hingga keadilan sosial.

Menjadi Umat yang Membaca dengan Kesadaran

Krisis Qur’ani di tengah umat bukanlah karena Al-Qur’an tidak relevan, melainkan karena kita berhenti membaca dengan hati dan akal.
Umat yang Qur’ani adalah mereka yang menjadikan wahyu sebagai sumber berpikir, bukan sekadar bahan ritual.

أَفَلَا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَىٰ قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا

“Maka apakah mereka tidak merenungkan Al-Qur’an, ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS Muhammad [47]: 24)

Pertanyaan terakhir ini adalah cermin zaman: apakah kita masih membuka hati terhadap wahyu, ataukah kita telah menggantinya dengan simbol dan slogan yang kehilangan makna?

*Syahida adalah kajian Qur’an dengan menggunakan metode tafsirul Quran bil ayatil Quran artinya menguraikan al quran dengan merujuk ayat ayat al quran, dalam upaya sosialisasi dan implementasi kandungan al Quran
Example 120x600