Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Agama dan Rasionalitas: Al-Qur’an sebagai Kitab Argumentasi, Bukan Dogma

175
×

Agama dan Rasionalitas: Al-Qur’an sebagai Kitab Argumentasi, Bukan Dogma

Share this article

Penulis; syahida| Editor; asyary

ppmindonesia.com.Jakarta – Salah satu kekhasan Al-Qur’an yang sering terabaikan adalah karakternya yang argumentatif, rasional, dan dialogis. Kitab ini tidak hanya memberi perintah, tetapi mengajak manusia berpikir, menimbang, dan memahami. Dalam konteks modern, di mana agama sering dikritik sebagai sumber dogma, Al-Qur’an justru menampilkan wajah berbeda — sebuah kitab yang menantang akal untuk berpikir kritis.

Rasionalitas dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an berulang kali menyeru manusia untuk menggunakan akal (‘aql) dan pengamatan (‘ilm). Dalam QS Al-Baqarah [2]:164, Allah menggambarkan tanda-tanda kebesaran-Nya di alam sebagai dasar bagi pemikiran rasional:

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِن مَّاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut membawa apa yang bermanfaat bagi manusia, air hujan yang Allah turunkan dari langit lalu menghidupkan bumi setelah matinya, dan pengisaran angin serta awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.”

Ayat ini menegaskan bahwa keimanan Qur’ani lahir dari kesadaran intelektual, bukan ketundukan buta.

Dialog dan Pembuktian: Gaya Dakwah Al-Qur’an

Salah satu aspek rasionalitas Al-Qur’an adalah gaya komunikasinya yang berdialog dan berargumen dengan logika. Allah tidak memaksa, tetapi mengajak manusia untuk berfikir dan menimbang.

قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ
“Katakanlah: Tunjukkan bukti-buktimu jika kamu memang benar.” (QS Al-Baqarah [2]:111)

Ungkapan “hātū burhānakum” (tunjukkan bukti kalian) adalah simbol dari tradisi berpikir kritis yang diajarkan Al-Qur’an. Ia bukan kitab yang menuntut kepatuhan tanpa argumentasi, melainkan teks yang membuka ruang bagi pembuktian, rasio, dan refleksi.

Agama dan Akal: Relasi yang Saling Melengkapi

Dalam QS Yunus [10]:100, Allah menegaskan bahwa keimanan sejati hanya mungkin bagi mereka yang menggunakan akal:

وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ
“Dan Allah menimpakan kehinaan kepada orang-orang yang tidak menggunakan akalnya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa akal adalah sarana moral dan spiritual — bukan sekadar alat berpikir, tetapi juga penentu kualitas iman. Al-Qur’an tidak menolak akal; ia menolak penyalahgunaan akal yang terlepas dari nilai.

Kritik terhadap Taklid dan Kejumudan

Al-Qur’an juga mengkritik keras sikap taklid buta yang menolak berpikir kritis. Dalam QS Al-Baqarah [2]:170 disebutkan:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ اتَّبِعُوا مَا أَنزَلَ اللَّهُ قَالُوا بَلْ نَتَّبِعُ مَا أَلْفَيْنَا عَلَيْهِ آبَاءَنَا ۚ أَوَلَوْ كَانَ آبَاؤُهُمْ لَا يَعْقِلُونَ شَيْئًا وَلَا يَهْتَدُونَ
“Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab: ‘Kami hanya mengikuti apa yang kami dapati dari nenek moyang kami.’ Padahal nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak mendapat petunjuk.”

Ayat ini adalah peringatan abadi terhadap setiap bentuk keberagamaan yang kehilangan jiwa berpikir dan evaluasi moral. Dogmatisme tanpa refleksi adalah bentuk kemunduran spiritual yang dikritik Al-Qur’an sejak awal.

Al-Qur’an sebagai Kitab Argumentasi

Secara keseluruhan, Al-Qur’an membangun sistem berpikir yang berbasis:

  1. Tanda (āyah) – bukti empiris dan fenomenologis alam semesta.
  2. Burhān – argumen rasional dan logis.
  3. Bayyinah – kejelasan moral dan kebenaran yang terang.

Ketiga unsur ini membentuk apa yang disebut sebagai rasionalitas wahyu — suatu cara berpikir yang tidak meniadakan akal, tetapi menuntun akal agar sampai pada kebenaran yang melampaui ego dan hawa nafsu.

Al-Qur’an dan Peradaban Akal

Rasionalitas dalam Islam bukanlah sekularisasi pemikiran, melainkan penyatuan antara wahyu dan akal. Al-Qur’an tidak menundukkan manusia menjadi pengikut dogma, tetapi mengangkatnya sebagai makhluk berakal yang mampu memahami tanda-tanda Tuhan di sekelilingnya.

Sebagaimana firman Allah:

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ
“Kami akan perlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu benar.” (QS Fussilat [41]:53)

Dengan demikian, Al-Qur’an tidak hanya berbicara kepada hati, tetapi juga kepada akal; tidak hanya menyeru untuk beriman, tetapi juga untuk memahami dan membuktikan. Inilah mengapa ia layak disebut bukan kitab dogma, melainkan kitab argumentasi — kitab yang membentuk peradaban berpikir.

*Syahida adalah kajian Qur’an dengan menggunakan metode tafsirul Quran bil ayatil Quran artinya menguraikan al quran dengan merujuk ayat ayat al quran, dalam upaya sosialisasi dan implementasi kandungan al Quran
Example 120x600