ppmindonesia.com.Jakarta – Salah satu kesalahpahaman yang paling mengakar dalam tradisi keagamaan Islam adalah anggapan bahwa “orang berilmu” dalam Al-Qur’an merujuk pada kelompok elit keagamaan — para ulama, syekh, atau mereka yang menempuh pendidikan agama formal. Ayat-ayat seperti:
يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujādilah [58]: 11)
serta,
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
“Allah menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang-orang yang berilmu, yang menegakkan keadilan. Tidak ada Tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 18)
Sering dijadikan legitimasi untuk menegaskan posisi istimewa kalangan ulama sebagai kelompok yang “lebih tinggi derajatnya” di hadapan Allah. Padahal, kajian mendalam Qur’an bil Qur’an menunjukkan bahwa makna ‘ilm (عِلْم) dalam konteks Qur’ani bukanlah pengetahuan formal atau akademik, melainkan kesadaran spiritual dan pemahaman tauhid yang menuntun pada keimanan sejati.
‘Ilm sebagai Cermin Keimanan, Bukan Gelar Akademik
Dalam banyak ayat, orang-orang yang “diberi ilmu” justru diidentifikasi sebagai mereka yang beriman, bukan mereka yang hanya berpengetahuan. Lihat bagaimana Al-Qur’an memadankan ‘ilm dengan keimanan dan ketundukan hati:
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ ۗ وَإِنَّ اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu mengetahui bahwa ini adalah kebenaran dari Tuhanmu, lalu mereka beriman kepadanya, dan hati mereka tunduk kepada-Nya. Sungguh, Allah memberi petunjuk kepada orang-orang beriman kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Ḥajj [22]: 54)
Ayat ini menegaskan bahwa ilmu sejati melahirkan tunduk dan ketenangan hati — ciri khas seorang mukmin, bukan sekadar kecakapan berdebat atau hafalan teks keagamaan.
Begitu pula dalam ayat lain:
إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ ۗ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
“Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah orang-orang yang berilmu. Sungguh, Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fāṭir [35]: 28)
Di sini, rasa takut (khasyah) bukan muncul dari status sosial atau akademik, melainkan dari kedalaman pengenalan terhadap kebesaran Allah. Artinya, setiap mukmin yang benar-benar mengenal Allah — melalui ciptaan-Nya, tanda-tanda-Nya, dan ayat-ayat-Nya — adalah bagian dari “orang-orang berilmu”.
Kesadaran Ilmiah dalam Pandangan Qur’an
Makna ‘ilm dalam Al-Qur’an tidak pernah berdiri terpisah dari iman dan amal saleh. Mereka yang berilmu adalah mereka yang mengenal realitas eksistensial hidup ini: bahwa dunia adalah ujian, Allah adalah satu-satunya penguasa, dan setiap amal akan dipertanggungjawabkan.
وَلَٰكِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ قَالُوا وَيْلَكُمْ ثَوَابُ اللَّهِ خَيْرٌ لِّمَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ۖ وَلَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الصَّابِرُونَ
“Tetapi orang-orang yang diberi ilmu berkata, ‘Celakalah kamu! Sesungguhnya pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh, dan itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar.’” (QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 80)
Ayat ini menggambarkan bahwa orang berilmu adalah mereka yang memahami nilai akhirat dibandingkan gemerlap dunia, bukan mereka yang hanya menguasai ilmu hukum, fiqh, atau teologi.
Kekeliruan dalam Memisahkan Iman dan Ilmu
Kesalahan tafsir tradisional sering muncul karena membaca kata penghubung “wa” (و) dalam ayat seperti QS. 58:11 sebagai pemisah tegas antara “orang beriman” dan “orang berilmu”. Padahal dalam bahasa Arab klasik, “wa” sering berfungsi sebagai penghubung asosiatif, bukan pemisah kategoris — seperti koma dalam bahasa Inggris.
Dengan demikian, ayat tersebut tidak sedang membedakan dua kelompok (mukmin dan ulama), melainkan menjelaskan karakteristik yang sama dalam satu kelompok: orang beriman sejati adalah orang yang berilmu, dan orang yang berilmu sejati adalah yang beriman.
Ilmu sebagai Kesadaran Tauhid
Al-Qur’an menggambarkan ‘ilm sebagai kesadaran yang mengantarkan manusia kepada tauhid dan keadilan:
شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُوا الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ
“Allah bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Dia, demikian pula para malaikat dan orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 18)
Mereka yang “berilmu” di sini bukanlah kaum akademik agama, melainkan mereka yang menegakkan keadilan karena kesadarannya akan keesaan Allah. Iman, ilmu, dan keadilan menjadi satu kesatuan utuh yang tidak dapat dipisahkan.
Mengembalikan Ilmu ke Akar Keimanan
Kata ‘ilm dalam Al-Qur’an tidak pernah menunjuk pada monopoli keulamaan atau jenjang formal keagamaan, melainkan kepada cahaya pengetahuan yang membangkitkan iman, menundukkan hati, dan menegakkan keadilan.
Mereka yang “diberi ilmu” adalah mukmin sejati yang mengenal Allah, bukan sekadar mereka yang memiliki gelar keagamaan. Maka, tugas umat Islam hari ini adalah mengembalikan makna ilmu ke kesadarannya yang asli — kesadaran tauhid dan tanggung jawab moral sebagai hamba Allah.
رَّبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً ۚ إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 8)



























