Scroll untuk baca artikel
BeritaHikmah

Dari Nafas ke Amanah: Tafsir Spiritual tentang Penciptaan Manusia

122
×

Dari Nafas ke Amanah: Tafsir Spiritual tentang Penciptaan Manusia

Share this article

Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an| Oleh syahida

 

ppmindonesia.com.Jakarta – Apa yang membuat manusia berbeda dari makhluk lain? Bukan sekadar tubuhnya dari tanah, tetapi nafas Ilahi yang dihembuskan ke dalam dirinya. Dari nafas itu lahirlah kesadaran, tanggung jawab, dan amanah. Kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an mengungkap bahwa penciptaan manusia dalam Al-Qur’an bukan hanya proses biologis, melainkan peristiwa spiritual yang menandai munculnya makhluk yang sadar akan nilai dan tugasnya di alam semesta.

Tanah sebagai Basis Eksistensi Fisik

Al-Qur’an berulang kali menegaskan bahwa asal manusia adalah dari tanah, simbol kerendahan dan keterikatan dengan bumi.

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ مِن سُلَالَةٍ مِّن طِينٍ
“Dan sungguh Kami telah menciptakan manusia dari sari pati (berasal) dari tanah liat.” (QS Al-Mu’minun 23:12)

Tanah menggambarkan sumber kehidupan yang rendah namun subur, menjadi pengingat bahwa manusia dibentuk dari unsur yang paling sederhana, agar tidak melupakan asalnya.

Namun, manusia bukan hanya tanah yang berjalan. Ada sesuatu yang lain—nafas yang menghidupkan dan mengangkatnya dari sekadar makhluk biologis menjadi makhluk spiritual.

Nafas sebagai Ruh: Tiupan Kesadaran Ilahi

Proses kedua dalam penciptaan manusia adalah peniupan ruh, yang menjadi inti dari identitasnya.

فَإِذَا سَوَّيْتُهُ وَنَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ
“Maka apabila Aku telah menyempurnakan (penciptaannya) dan meniupkan ke dalamnya ruh-Ku, maka tunduklah kalian kepadanya.” (QS Al-Hijr 15:29)

Menurut kajian Syahida – Qur’an bil Qur’an, kata “نَفَخْتُ فِيهِ مِن رُّوحِي” (“Aku tiupkan ke dalamnya ruh-Ku”) menandakan bahwa manusia membawa jejak kesadaran ketuhanan di dalam dirinya.
Ruh di sini bukan bagian dari Tuhan secara esensial, tetapi pancaran sifat-sifat Ilahi—kesadaran, kasih, dan tanggung jawab.

Ayat ini juga menjadi kunci untuk memahami mengapa para malaikat diperintahkan sujud kepada Adam: bukan kepada tanahnya, tetapi kepada potensi ilahiah yang diemban manusia.

Ruh dan Amanah: Kesadaran sebagai Tanggung Jawab

Manusia menerima ruh, tetapi bersama itu pula datang amanah.
QS Al-Ahzab 72 menjelaskan:

إِنَّا عَرَضْنَا الْأَمَانَةَ عَلَى السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَالْجِبَالِ فَأَبَيْنَ أَن يَحْمِلْنَهَا وَأَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْإِنسَانُ ۖ إِنَّهُ كَانَ ظَلُومًا جَهُولًا
“Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung, semuanya enggan memikulnya dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya, lalu dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” (QS Al-Ahzab 33:72)

Amanah adalah konsekuensi dari kesadaran; karena diberi kebebasan berpikir dan memilih, manusia menjadi makhluk yang bertanggung jawab atas pilihannya.
Syahida menafsirkan amanah ini bukan hanya sebagai kewajiban moral, tetapi kesadaran eksistensial: kesanggupan untuk menanggung akibat dari kebebasan.

Dari Tanah ke Kesadaran: Dua Arah Penciptaan

Al-Qur’an menampilkan dua dimensi penciptaan manusia: vertikal dan horizontal.

  • Horizontal: manusia lahir dari tanah, bagian dari siklus alam.
  • Vertikal: manusia menerima ruh, bagian dari kesadaran ketuhanan.

Ketika dua arah ini seimbang, lahirlah manusia yang utuh — berakar di bumi, namun berorientasi pada langit.
Namun ketika salah satu hilang, lahirlah dua ekstrem: manusia yang kehilangan spiritualitas (materialisme), atau manusia yang melupakan bumi (asketisme semu).

Syahida menegaskan, “Keseimbangan antara tanah dan ruh adalah makna terdalam dari *‘abd’ (hamba) dan khalifah (pengelola).”

Nafas Ilahi dan Kesadaran Sosial

Tiupan ruh juga menandai munculnya kesadaran sosial dan moral.
QS As-Sajdah 9 menegaskan:

ثُمَّ سَوَّاهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَالْأَفْئِدَةَ ۚ قَلِيلًا مَّا تَشْكُرُونَ
“Kemudian Dia menyempurnakannya dan meniupkan ke dalamnya ruh-Nya, dan Dia menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan, dan hati; sedikit sekali dari kalian yang bersyukur.”(QS As-Sajdah 32:9)

Ruh diikuti oleh tiga instrumen pengetahuan: pendengaran, penglihatan, dan hati (af’idah).
Inilah struktur kesadaran manusia menurut Qur’an — manusia tidak hanya berpikir, tetapi merasakan dan menimbang.

Kesadaran sosial muncul ketika ketiga instrumen ini bekerja seimbang:
melihat realitas, mendengar kebenaran, dan menimbang dengan nurani.

Penciptaan sebagai Proses Berkelanjutan

Dalam QS Nuh 17, Al-Qur’an menegaskan bahwa manusia terus “dikeluarkan dari tanah” — bukan sekali, melainkan berulang.

وَاللَّهُ أَنبَتَكُم مِّنَ الْأَرْضِ نَبَاتًا
“Dan Allah menumbuhkan kamu dari bumi seperti tumbuhan.” (QS Nuh 71:17)

Ini menunjukkan bahwa penciptaan bukan peristiwa lampau, melainkan proses berkelanjutan.
Setiap kelahiran manusia adalah kelanjutan dari proses penciptaan Adam.
Dan setiap nafas adalah pengulangan simbolik dari tiupan ruh pertama.

Nafas adalah Amanah

Kajian Syahida menutup refleksinya dengan pandangan spiritual:
Ruh bukan hanya sumber kehidupan, tetapi panggilan untuk hidup bermakna.

Manusia ditiupkan ruh agar sadar, dan kesadaran menuntun pada tanggung jawab.
Setiap hembusan nafas adalah pengingat amanah — bahwa hidup bukan sekadar keberadaan, tapi kesempatan untuk menegakkan nilai-nilai Tuhan di bumi.

Example 120x600